MELANI KEKASIHKU 19
(Tien Kumalasari)
“Ah ya, maaf pak Anggoro, saya ngomongnya kok seperti tidak ada basa basi begitu ya, pasti ini mengejutkan dan membingungkan ya?”
“Tidak, tidak.. sesungguhnya memang saat ini saya sedang dalam suasana hati gelisah, tidak tenang, bahkan kalut.”
“Kenapa pak ?”
“Saya ingin tahu dengan jelas tentang seorang ibu, yang kata bapak pembantu rumah tangga ini sebelumnya. Pastinya itu bik Asih pembantu saya.”
“Ya, mungkin namanya Asih. Waktu itu masih ada isteri saya yang menerima kedatangannya. Tunggu, saya akan mengatakannya agak berurutan ya. Jadi setelah saya membeli rumah ini, kami segera pindah kemari, karena saya melihat kondisi rumah ini masih bagus dan sangat layak untuk ditempati. Ketika kami baru saja tiba dan belum selesai mengatur barang-barang kami, datang seorang ibu, yang mengatakan bahwa ada barang-barang majikannya yang tertinggal didalam kamarnya. Kami malah belum sepenuhnya melihat isi setiap kamar yang tersisa.”
Anggoro tampak mengangguk-anguk tak sabar, tapi sungkan memutus pembicaraan pak Sumanto yang ingin bercerita secara berurutan.
“Lalu ibu itu kami antarkan memasuki sebuah kamar, dan ternyata masih ada sebuah bungkusan yang pastinya berisi baju-baju,” lanjut pak Sumanto.
“Apakah dia datang sendiri ?” akhirnya Anggoro tak sabar.
“Iya. Ia meninggalkan majikannya disebuah rumah yang mereka sewa.”
“Apakah dia tidak mengatakan sesuatu selain mengambil barang yang tertinggal ?”
“Ia bilang merasa kasihan pada majikannya. Maksudnya majikan perempuan yang bersamanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi, dan ketika dia bilang kasihan, isteri saya bertanya, kenapa, lalu dia bilang majikannya itu difitnah orang sehingga rumah tangganya hancur. Eh, nanti dulu, apakah itu ada hubungannya dengan pak Anggoro? Bukankah ini rumah pak Anggoro sebelum saya beli?”
Anggoro merasa dadanya bagai dipukul dengan ribuan palu. Apa katanya? Majikan perempuannya difitnah ? Itu kan Anindita, isterinya.
“Difitnah bagaimana ya pak Manto?”
“Suaminya menuduh dia berselingkuh sehingga dia dan anaknya yang masih bayi diusir dari rumah ini. Sekali lagi maaf, apakah pak Anggoro mengenal suami ibu itu?” tanya pak Sumanto yang mengira Anggoro hanya pemilik rumah, sedangkan wanita yang dimaksud adalah penyewa atau orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Anggoro.
“Padahal kata ibu itu, majikannya adalah seorang wanita yang baik dan bahkan tidak pernah pergi kemana-mana tanpa suami atau dirinya,” lanjut pak Sumanto.
“Apakah pak Sumanto tahu dimana mereka tinggal?” tanya Anggoro tanpa menjawab pertanyaan Sumanto tentang hubungannya dengan wanita yang dia ceritakan.
“Dulu, dia tinggal tidak jauh dari rumah ini, masuk ke gang kecil itu. Kira-kira tiga gang dari sini. Entah sekarang masih disitu atau tidak.”
“Oh,
“Oh ya, beberapa hari setelah ibu pembantu itu datang, datang lagi seorang wanita cantik, naik mobil. Dia juga menanyakan dimana ibu pembantu dan majikannya itu tinggal.”
Anggoro berdebar, siapa wanita cantik naik mobil?
“Dia mengaku saudara dari ibu majikan yang.. aduh.. namanya kok saya lupa semua ya.. Pokoknya ngaku saudara dan menanyakan dimana rumah mereka. Isteri saya juga memberi tahu tapi tidak tahu persisnya, karena ibu pembantu itu juga hanya mengatakan ancar-ancarnya. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi dengan mereka, dan melupakannya karena kesibukan kami masing-masing pastinya.”
Anggoro terdiam, dan mencoba berpikir tentang rentetan kejadian itu. Hatinya merasa tidak tenang. Ketika berpamit dari rumah Sumanto, Anggoro lalu mencoba mencari rumah yang terletak didalam gang, tiga gang dari rumah pak Sumanto.
***
Anggoro memarkir mobilnya dijalan besar, lalu mmasuki gang dengan dada berdegup kencang. Apakah bik Asih tinggal disini bersama isterinya? Berarti Melani ada disini juga? Anggoro menatap kiri kanan jalan, ada rumah-rumah berderet, yang berbeda bentuknya, tapi semuanya tampak bagus dan rapi.
Anindita seorang yang menyukai keindahan, tentu saja dia juga merawat rumah dengan baik. Pikir Anggoro. Begitu mudahkah dia bertemu mereka dan seperti apa Melani kecil yang waktu itu masih belajar berjalan ?
“Aku akan bertanya, benarkah dia difitnah dan sebenarnya tidak bersalah?” gumamnya perlahan.
“Ya Tuhan, kalau itu benar, aku adalah orang yang berdosa,” gumamnya lagi sambil terus melangkah.
Tapi sampai diujung gang, Anggoro tidak menemukan tanda-tanda bahwa bik Asih dan isteri serta anaknya tinggal disini. Ia berharap melihat bik Asih sedang didepan rumah, atau apa.
“Rupanya aku harus bertanya kepada seseorang, tidak bisa menemukan sesuatu tanpa keterangan yang jelas. Dimana persisnya rumahnya, kiri jalan atau kanan jalan, rumah nomor berapa dari jalan besar...”
Anggoro membalikkan tubuhnya, dan melangkah kembali ke arah dari mana tadi dia berjalan.
Tiba-tiba dilihatnya seorang ibu berjalan di gang itu, dengan membawa belanjaan.
“Ibu.. maaf, bolehkah saya bertanya?” tanya Anggoro yang membuat ibu itu berhenti.
“Ya pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Ibu tahu tidak, dimana rumahnya bik Asih ? Atau Anindita ?”
Ibu itu menatap Anggoro dengan heran.
“Bik Asih? Yang datang ke kampung ini dengan majikannya dan bayi kecil cantik itu?”
“Ya.. ya, benar bu,” jawab Anggoro dengan mata berbinar, karena tampaknya si ibu tahu tentang bik Asih dan majikannya.
“Ya ampun pak, sudah lama sekali mereka pergi dari sini.”
“Pergi ?” hati Anggoro mencelos seketika.
“Aduh pak, mereka itu kasihan sekali. Tunggu, apakah bapak saudaranya?”
“Iy..iya bu..” kata Anggoro gemetar.
“Mengapa baru sekarang bapak mencarinya? Beberapa tahun yang lalu, ada kejadian yang menyedihkan di kampung ini. Bik Asih sedang menggendong Melani, bayi itu, lalu seorang wanita cantik datang. Ia pura-pura mengenal bu Anin, lalu meminta untuk menggendongnya sebelum masuk rumah. Dia bilang saudaranya. Tapi kemudian wanita cantik itu membawanya pergi, ketika bik Asih masuk kedalam untuk memanggil bu Anin.
“Ya Tuhan..”
“Bik Asih berteriak-teriak, dan bu Anin kemudian tak sadarkan diri.”
“Ya Tuhan...tidak dilaporkan ke polisi ?”
“Hari itu langsung dilaporkan, tapi berbulan-bulan kemudian penculik itu tidak ketemu. Dan yang membuat miris, sejak saat itu bu Anin seperti orang hilang ingatan.”
“Ya Tuhan...” Anggoro merasa lemas.
“Bertahun-tahun bik Asih merawatnya, dan bu Anin tidak juga membaik.”
“Kemana mereka sekarang?”
“Mereka pergi. Bik Asih bilang ke tetangga, mau membawa majikannya ke desanya saja.”
Anggoro melangkah pergi, tubuhnya gemetar, serasa akan tumbang. Begitu naik ke mobilnya, Anggoro menelungkupkan kepalanya di atas kemudi, dan menangis mengguguk disana.
“Anin, maafkan aku.. apa yang telah aku lakukan?” tangis itu mengguguk dan selama beberapa saat tak juga berhenti.
Puluhan tahun Anggoro membuatnya menderita. Dan sesal itu terasa bagai ribuan sembilu menyayat-nyayat jantungnya.
“Siapa melakukannya Anin.. siapa melakukan semua ini sehingga kamu menderita? Lalu dimana anak kita, dan apa yang terjadi pada bidadari kecilku?”
Lalu rentetan peristiwa itu kembali melintas di kepalanya.
Sepulang kerja, didapatinya sebuah amplop, berisi foto-foto isterinya dan seorang lelaki. Mereka tampak berpelukan, bermesraan dan membuat kemarahannya memuncak.
“Perempuan murahan ! Bagaimana kamu bisa melakukan semua ini ?” hardiknya kasar.
“Apa mas, ya Tuhan, ini apa? Ini bukan aku mas, aku tak pernah melakukannya,” tangis Anindita yang menyayat tak bisa meluluhkan kemarahan yang sudah membakar semua darah ditubuhnya.
“Demi Tuhan mas, aku bersumpah.. aku tidak melakukannya.”
“Jangan membawa-bawa nama Tuhan. Pergi kamu dari sini!!”
“Tidaaak mas, jangan usir aku..”
“Ikut bersama selingkuhanmu itu. Laki-laki bobrok yang membuat kamu terlena.”
“Maaas, itu bukan aku..” tangis itu tetap membuat Anggoro bergeming,
“Pergi kamu dari hadapan aku. Jijik aku melihatmu !”
Tangis Anggoro semakin keras, tubuhnya tampak berguncang-guncang. Penyesalan yang teramat sangat membuatnya sangat terpukul.
“Kemana aku harus mencari kamu Anindita? Kemana perempuan cantik itu membawa anak kita? Bidadari kecil kita yang mungil dan lucu?”
Tiba-tiba Anggoro terhenyak. Perempuan cantik? Siapa perempuan itu dan mengapa melakukan kekejaman itu pada anak dan isterinya? Jangan-jangan dia pula yang memfitnah Anindita sehingga membuat rumah tangganya berantakan. Wanita cantik.. wanita cantik.. apakah itu Santi ? Benarkah Santi tega melakukannya?
“Dia datang ke rumah pak Sumanto, dan menanyakan dimana rumah bik Asih, lalu menculik Melani? Apakah dia Santi? Bukankah Santi sebelumnya bersikap sangat baik kepada Anindita? Lalu berubah membencinya ketika mengetahui dia berselingkuh. Dia selalu mengatakan kasihan terhadapku, lalu selalu memberi perhatian dan menghiburku, sehingga aku jatuh kedalam pelukannya dan mengambilnya sebagai isteri. Tak mungkin dia melakukannya. Mereka bersahabat sebelumnya kan?” beribu pemikiran berkecamuk dalam benaknya.
Anggoro sama sekali tak pernah tahu bahwa Santi pernah melakukan hal jahat kepada Anindita, karena Anin tak pernah menceritakannya. Anin yang baik hati tak ingin membeberkan keburukan Santi, apalagi Santi kemudian selalu bersikap baik kepadanya. Aduhai, segala carut marut kejadian telah menjadikan sebuah kebahagiaan tercabik-cabik.
“Siapa dia.. siapa dia.. siapa diaaaa?” kali ini Anggoro berteriak.
Seseorang mengetuk kaca mobilnya yang sedikit terbuka. Anggoro terkejut, diluar ada pak Sumanto berdiri menatapnya iba.
Anggoro membuka kaca jendelanya lebih lebar. Sumanto mengulurkan tangannya, menepuk bahu Anggoro. Ia melihat mata Anggoro memerah, dan ada sisa air mata membasahi pipinya.
“Apa yang terjadi pak Anggoro ?”
“Mengapa pak Manto kemari?”
“Icha sedang membeli rujak di warung itu, dan melihat pak Anggoro menelungkupkan kepala disitu. Dia khawatir pak Anggoro sakit, lalu mengatakannya pada saya,” terang pak Sumanto.
“Maaf pak.. maaf. Tidak apa-apa.. saya permisi dulu,” kata Anggoro yang kemudian menstarter mobilnya.
“Kalau hati tidak tenang, lebih baik beristirahat saja dulu pak Anggoro, ayo ke rumah saya,” pak Sumanto berusaha mencegah.
“Tidak apa-apa.. saya mau pulang saja dulu. Terimakasih perhatiannya pak,” kata Anggoro yang kemudian menjalankan mobilnya. Pak Sumanto merasa iba, menatap Anggoro yang pergi masih dengan air mata membasahi pipinya.
Pak Sumanto kembali menuju ke rumah, dihalaman dilihatnya Icha menunggu dan menatapnya penuh tanda tanya.
“Ada apa pak Anggoro tadi?”
“Entahlah. Sangat kacau. Aku mengajaknya ke rumah dulu untuk menenangkan pikiran, tapi dia menolaknya. Pasti karena sungkan.”
“Kemarin itu, dia tiba-tiba masuk ke halaman sini, mendekati Icha, ketika Icha sedang duduk di ayunan. Masa dia memanggil Icha dengan Melani? Dia tampaknya sedang mencari anaknya yang bernama Melani, dan tampak seperti orang kebingungan.”
“Apa ya yang terjadi? Bapak juga kasihan melihatnya, ingin membantu, tapi dia tak mengatakan apa yang terjadi. Jangan-jangan dia ada hubungannya dengan ibu pembantu dan majikannya itu. Atau bahkan ibu majikannya itu isterinya?”
“Bisa jadi pak,” kata Icha yang tadi mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan Anggoro.
“Dia berhenti di mulut gang itu. Gang yang bapak tunjukkan ketika dia menanyakan rumah ibu pembantu itu.
Pertanyaan mereka tak terjawab, karena tidak tahu permasalahan yang sebenarnya.
***
“Iya Bon, suami aku curiga karena melihat kita di rumah makan itu,” kata Santi ketika Boni menelpon.
“Kamu juga, mengapa tidak menelpon aku?”
“Aduh, maaf, nomor telpon kamu aku hapus, karena dia ingin menghubungi kamu.”
“Untuk apa?”
“Dia tahu bahwa foto buatan kamu yang sedang bersama Anindita itu adalah kamu yang dilihatnya di rumah makan itu. Dia ingin bertanya dimana Anindita berada.”
“Aku belum mendapat informasi mengenai Anindita, tapi barangkali aku bisa menemukan Melani, dari iklan yang aku baca itu.”
“Singkirkan dia dan jangan sampai suamiku bertemu dengannya.”
“Baik. Tapi aku sedang butuh uang, tolong transfer lagi beberapa, supaya pencarian ini lancar.”
“Duuuh, uang terus kamu tuh.”
“Butuh lancar tidak?”
“Ya, sebentar lagi aku transfer kamu. Tapi jangan sampai gagal, karena saat ini suami aku sedang mencari-cari anak dan isterinya.”
“Beres. Transfer sekarang uangnya.”
Santi menutup ponselnya, kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening Boni yang sudah dicatatnya.
***
Hari sudah sore, tapi Anggoro belum pulang juga. Santi penasaran karena tampaknya Anggoro sedang mencari-cari anak isterinya. Hatinya semakin panas. Lalu Santi menelponnya.
“Mas..” katanya ketika telpon tersambung.
Tapi kemudian tak ada jawaban, dan Anggoro malah mematikan ponselnya.
Kemarahan Santi memuncak. Ia membanting ponselnya dan mengobrak abrik segala yang bisa dilempar dan dihancurkannya saat itu juga, seperti biasa kalau dia sedang marah.
Pembantu baru yang mau beranjak keluar untuk pulang, gemetar ketakutan.
Ketika itulah Anggoro datang dan masuk kerumah dengan terkejut. Sebuah gelas hampir mengenai kepalanya, dan hancur berkeping ketika terbang kearah pintu.
***
Besok lagi ya