SAKITKU ADALAH CINTAKU 29
(Tien Kumalasari)
Dengan geram Indras menelpon ke butik langganan.
“Ya, Dokter Indras?”
“Mbak, siapa yang membeli barang-barang ini?”
“Dia sudah beberapa kali kemari, sepertinya dia juga dokter. Dokter Zein memanggilnya dokter, begitu. Sebentar, ada catatan namanya. Ini dia, dokter Tyas. Apa dokter Indras tidak mengenalnya? Tapi tadi sepertinya dia sudah konfirmasi dengan dokter Zein melalui telpon.”
“Apa dia masih di sini?”
“Sudah pulang, barang-barang yang dibelinya disuruhnya mengirim ke rumahnya. Dia sudah meninggalkan alamatnya.”
“O, begitu ya. Kalau begitu kirim saja ke rumah dokter Zein. Masalah pembayaran nanti biar dokter Zein menyelesaikannya.”
“Jadi ini dikirim ke rumah sini, ya Dok?”
“Ya, kirim saja kemari.”
Indras menutup ponselnya dengan perasaan yang seperti diaduk-aduk.
“Dia selalu menyakiti aku, tapi dia tidak mau aku tinggalkan. Apa sebenarnya maksudnya? Lalu dia begitu royal kepada perempuan itu? Beratus ribu diumbar hanya untuk beli pakaian, sedangkan untuk kebutuhan rumah dia begitu pelit. Setiap kali bibik membutuhkan uang dia selalu mengatai aku boros.”
Indras tidak masuk ke rumah. Ia menunggu kiriman dari butik yang diperuntukkan bagi dokter kesayangan Zein.
Ia akan meletakkannya begitu saja nanti di teras, tak peduli pada kemarahan Zein, sudah terlalu sering melihatnya marah, sehingga apapun yang terjadi, ia akan dengan tegar menerimanya. Sabar? Indras akan terus belajar sabar, sambil mencari apa sebenarnya letak kesalahannya sehingga ia selalu menjadi bulan-bulanan kemarahan suaminya.
Dan belanjaan itu benar dikirim ke rumah, beberapa potong baju dan sepatu.
“Taruh di situ saja Mas,” titahnya kepada sang pengirim.
Kemudian kurir itu meletakkannya begitu saja di lantai teras. Ia pergi setelah Indras mengucapkan terima kasih.
Indras sama sekali tak membuka bungkusan-bungkusan itu. Ia meninggalkannya di teras, kemudian masuk ke dalam rumah.
***
Zein sudah selesai, ia sedang bersiap pulang ketika ponselnya berdering. Dari dokter Tyas lagi. Sudah sejak tadi dokter Tyas menelpon berkali-kali, gara-gara melaporkan apa yang dibelinya. Padahal Zein sudah mengatakan agar dia membeli apa yang dia suka. Lalu ia mematikan ponselnya. Sekarang, begitu ia membuka ponselnya, dokter cantik itu menelponnya lagi.
“Dokter Tyas, ambil saja yang Dokter suka, kan aku sudah bilang berkali-kali.”
“Bukan itu, Dok. Saya sudah selesai belanja, dan sudah berada di rumah.”
“Syukurlah, aku sedang bersiap mau pulang. Pertemuan sudah selesai.”
“Saya mau bilang bahwa barang yang saya beli dikirim ke rumah Dokter.”
“Apa?” Zein berteriak karena dia sangat terkejut.
“Apa petugas toko itu mengira bahwa yang belanja adalah istriku?” lanjutnya.
“Tidak, dia kenal dokter Indras, tentu mereka tahu bahwa saya bukan istri Dokter.”
“Mengapa dikirim ke rumah?”
“Kata petugas toko, dokter Indras yang menyuruhnya.”
“Apa?” Zein kembali berteriak.
“Sekarang pastinya sudah sampai di rumah Dokter. Bagaimana dong? Masa saya harus mengambil ke sana?”
“Bagaimana istriku bisa tahu tentang belanjaan Dokter?”
“Saya juga tidak tahu. Apakah dokter Indras kebetulan ada di butik itu ya? Saya sangat menyesal, pasti dokter Indras akan sangat marah.”
“Ya sudah, jangan dipikirkan, akan saya urus.”
Zein menutup pembicaraan itu dan menelpon butik langganannya.
“Ya Dok, sudah saya kirim semua, sesuai permintaan dokter Indras,” kata petugas toko yang mengira dokter Zein menegurnya tentang pengiriman itu.
“Dari siapa dokter Indras tahu tentang barang-barang yang dibeli dokter Tyas?”
“Nota pembelian saya kirim ke dokter Indras, karena ponsel dokter Zein tidak aktif.”
Zein ingin mendampratnya, tapi kemudian dia sadar bahwa kemarahannya akan memicu perkiraan orang-orang butik bahwa ada hubungan tersembunyi antara dirinya dan dokter Tyas. Karena itu ia menekan kemarahan itu lalu menutup pembicaraannya setelah mengucapkan terima kasih.
***
Indras duduk santai di ruang tengah, menikmati kacang rebus yang disajikan bibik sebagai cemilan. Sinta ada di dalam kamarnya.
Tak lama setelah ia duduk sendirian, ia mendengar mobil suaminya memasuki halaman. Indras meraih lagi segenggam kacang, dan menikmatinya dengan nyaman. Tiba-tiba ia harus mengangkat wajahnya karena sang suami masuk dengan membanting pintu.
Indras hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatahpun kata.
“Apa maksudmu dengan semua itu? Kamu selalu mengawasi semua yang aku lakukan. Kamu tak bosan-bosannya memata-matai aku,” teriaknya.
“Mengapa kamu marah? Sudah aku kirimkan nota pembeliannya ke kamu. Jadi tak perlu marah. Kamu bisa melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan.”
“Tentu saja aku marah. Kamu lancang dengan main perintah agar petugas butik mengirimkan belanjaan dokter Tyas ke rumah.”
“Belanjaan dokter Tyas ya? Mengapa kamu yang membayarnya? Apa kamu manager dia, atau sekretaris dia, atau anak buah dia yang bertugas membayar semua kebutuhannya?” lantang kata Indras tanpa takut. Kemarahannya sudah sampai di puncaknya.
“Kamu selalu mau menang sendiri! Kamu selalu membuat aku marah.”
“Apa tidak kebalik Zein? Aku yang seharusnya marah, bukan kamu. Camkan itu.”
Zein mengepalkan tangannya, membalikkan tubuhnya dan mengangkut belanjaan yang terserak ke dalam mobilnya.
Indras hanya sekilas meliriknya, tapi ia mengamati apa yang dilakukan sang suami. Tak lama kemudian mobil itu terdengar menderu dan keluar dari halaman.
Indras menghela napas. Dibela-belain mengantarkan barang-barang itu, padahal pastinya dia sangat lelah. Tak urung titik juga air matanya, walau ditutupinya dengan meraih kacang rebus di depannya.
***
Dokter Tyas kegirangan, karena Zein sendiri yang mengantarkan barang belanjaannya.
“Dokter, mengapa tidak dikirimkan saja lewat ojol? Bukankah Dokter capek sekali?”
“Iya, aku baru saja pulang.”
“Betul kan, barang-barang ini dikirim ke rumah Dokter?”
“Iya.”
“Apa dokter Indras marah? Pasti dia sangat marah, karena Dokter membelikan barang-barang ini.”
“Tidak. Biasa saja.”
“Benar-benar istri yang sabar dan sangat baik. Pantas Dokter sangat mencintainya.”
Zein hanya tersenyum, tapi kemudian dia berdiri, bersiap pulang.
“Dokter kebanggaanku mau ke mana?”
“Aku baru saja pulang, jadi aku sangat lelah.”
“Kalau begitu seperti janji saya beberapa hari yang lalu, mari saya pijit sebentar,” kata dokter Tyas sambil mendekat.
Tapi dokter Zein menggoyang-goyangkan tangannya.
“Tidak, terima kasih banyak. Lebih baik saya pulang saja.”
“Dokter takut ya sama istri?”
Zein tidak menjawab, kecuali hanya tersenyum. Ia terus melangkah keluar dari rumah dan dokter Tyas menatapnya tak berdaya. Tapi rasa kecewanya kemudian terobati dengan barang-barang belanjaan yang belum sempat dibukanya. Pastilah dia senang sekali.
“Sayang, sangat susah meminta dokter Zein tinggal di sini walau sebentar saja. Mungkin takut sama istrinya,” gumamnya sambil membuka paper bag belanjaannya satu persatu.
***
Sesampai di rumah ia tak mengatakan apapun. Demikian juga Indras. Mereka makan bersama hanya untuk menutupi keretakan yang ada diantara mereka, tapi tak sepatah katapun terucap dari mulut mereka, kecuali menjawab celoteh Sinta yang menganggap tak terjadi apa-apa diantara mereka, walau sebenarnya dia mengerti.
“Bukankah besok libur?” tanya Sinta yang dijawab hampir bersamaan oleh ayah dan ibunya.
“Ma, besok kita masak bareng ya. Sinta ingin belajar masak dari Mama.”
“Ya, tidak apa-apa.”
“Papa tahu nggak, masakan mama enak sekali bukan?”
“Hm,” Zein menyuap makanannya lalu mengangguk.
“Besok Papa ingin dimasakin apa, biar Sinta yang masak. Tentu bersama Mama, Sinta belum bisa masak sendiri. Pengin apa Pa? Sup ayam, soto, rawon … eh … lama sekali bibik tidak masak rawon. Besok kita masak rawon ya Ma?”
“Hm-emh.”
“Besok Sinta mau ikut bibik ke pasar. Mama catat apa saja yang harus dibeli ya?”
“Bibik sudah tahu.”
“O, jadi besok terserah bibik saja kan?”
Sampai acara makan malam selesai, suasana rame hanya karena celoteh Sinta. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing. Zein, walaupun tidur sekamar dengan istrinya, tapi tak saling bicara. Sudah lama begitu. Tapi Zein seperti biasa tak pernah bisa tidur awal. Sebelum pagi merekah dia sudah bangun, tapi tak menemui sang istri di sampingnya.
Bagaimanapun Zein harus tahu, istrinya ada di mana. Di kamar mandi, di dapur, di mushala, tak ada. Tidur di kamar tamu? Tak ada. Bibik belum bangun.Hari belum pagi, udara sangat dingin karena kebetulan semalam hujan turun dengan sangat derasnya.
Zein duduk di ruang tengah. Tak ada bayangan sang istri. Zein keluar dan melihat garasi terbuka.
“Indras pergi?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah eSAaCe episode ke 29 sdh tayang.
ReplyDeleteMatur nuwun Dhe.
Semoga sehat selalu dan selalu sehat.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin 🤲
Aamiin Yaa'robbal'alamiin. Matur nuwun sanget mas Kakek
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Bu Tien sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa'robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sukardi
Delete🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞
ReplyDeleteAlhamdulillah 🦋💐
Cerbung eSAaCe_29 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja 😍
🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞
Aamiin Yaa'robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari
DeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteTrimakasih Bunda Tien, kemana ya dr Indras , jadi sedih 😭
Wa'alaikumussalam ibu Etty. Terima kasih perhatiannya.
DeleteSuwun mb Tien 🙏
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 29 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAlhamdullilah .terima lsih bunda cerbungnya sfh tayang..slm seroja dan aduhai unk bunda sekeluarga 🌹🥰🌹❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah SAC dah tayang,.....kira2 kemana ya indras? Hatinya sudah penuh kesakitan,semoga rumah tangganya tetap utuh bersatu dan bahagia kembali... maturnuwun Bu Tien,semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta 🙏 🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 29" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng dalu🙏
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulilah.
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Sehat slalu beserta keluarga
Akhirnya Indras kabur juga. Ga kuat nahan emosi barangkali...
Alhamdulilah " sakitku adalah cintaku 29 " sampun tayang maturnueun bu Tien ... wah kemana indras ya ? Salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️👌👌
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (29)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~29 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 29 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Kesabaran ada batasnya ya Indras. Klu tdk ingin di sakiti terus, maka kamu yang lebih tegas thd Zein.
Terimakasih bunda Tien, sehat, bahagia dan aduhaii
ReplyDeleteAlhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien 🙏🥰🌿💖 salam sehat wal'afiat selalu
ReplyDeletepara dokter Sakit semua nya,...
Indras pergi, Zein baru nyaho...
ReplyDeletePermisi Mbak, mau lihat Lukman dulu...
Ya sebaiknya memang Indras pergi dulu beberapa hari, untuk melihat reaksi Zein. Walaupun sepatutnya kalau ada masalah suami istri lebih baik diselesaikan dengan membicarakan berdua, bukan dengan cara saling mendiamkan begitu.
ReplyDeleteBtw, terima kasih ibu Tien sudah bikin pembaca gemas dan baper...sehat selalu, buu...🙏🏻😀🌹