Thursday, April 16, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 17

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  17

(Tien Kumalasari)

 

Indras pura-pura tak mendengar, dia keluar lagi dari kamar, duduk di ruang tengah, seakan menikmati acara televisi yang sedang berlangsung. Pikirannya sungguh kacau. Ia sekarang yakin kalau suaminya berselingkuh. Siapa selingkuhan sang suami ini sehingga membuat sikapnya menjadi berubah drastis? Dari penuh perhatian dan cinta menjadi dingin dan pemarah? Apa yang membuat Zein berubah seperti itu? Tapi Zein tak pernah pergi ke mana-mana. Kalau di rumah ia hanya memegangi ponsel, ketak ketik entah apa, lalu senyum-senyum sendiri.

Ketika kemudian suaminya selesai mandi dan sudah berpakaian rapi, Indras ingin menegurnya, tapi Zein keburu keluar lalu duduk di teras.

Indras ingin mendekati tapi diurungkannya. Ia hanya berdiri di balik pintu, ingin melihat Zein akan bicara dengan siapa. Barangkali akan melanjutkan acara bertelpon karena waktu itu sedang ada di kamar mandi. Tapi Zein tidak bertelpon. Ia hanya mengutak-atik ponselnya, barangkali mengirimkan pesan, entah kepada siapa. Indras kembali duduk dengan hati merasa sakit.

Ia yakin sang suami sedang melakukan hal buruk. Berselingkuh. Lalu Indras bertanya, apa sebenarnya kekurangan dirinya sehingga suaminya melakukan hal yang sangat menyakitinya?

Tak tahan memendam sesuatu yang tak terjawab, akhirnya Indras keluar dan duduk di depan suaminya.

“Tadi telponan dengan siapa?”

Zein mengangkat wajahnya. Menatap sang istri dengan kening berkerut.

“Kapan kamu mendengar aku telpon-telponan?”

“Tadi, di kamar mandi.”

“Jadi kamu mengawasi terus apa yang aku lakukan?”

“Kebetulan saja, karena heran ada suara dering ponsel di kamar mandi, tapi aku tidak mendengar kamu bicara apa dan sama siapa kok.”

“Kamu mencurigai aku?”

“Aku hanya bertanya, bukan mencurigai.”

“Apa bedanya?”

“Apa aku tidak boleh tahu apa yang dilakukan suami aku?”

“Tidak semuanya kamu boleh tahu.”

“Ada yang kamu sembunyikan?”

“Jadi benar, kamu mencurigai aku?”

“Aku hanya ingin tahu,” Indras mulai kesal, air matanya sudah merebak dipelupuknya.

“Tidak semua hal kamu boleh tahu. Meskipun aku suami kamu, tapi aku punya privacy,” katanya tanpa menatap lagi istrinya, karena ada notifikasi pesan masuk yang segera dibukanya.

Indras tak menjawab. Ia langsung berdiri lalu masuk ke dalam untuk menyembunyikan tangisnya. Ia tak sudi memperlihatkan tangis itu di hadapan suaminya.

Ia terus saja bertanya dan tetap saja tak menemukan jawaban.

***

Indras tak bicara apapun sampai malam, bahkan sampai pagi harinya ketika masing-masing makan pagi bersama.

Mereka juga diam ketika berangkat bekerja dengan mobil masing-masing.

Kalau Indras berpikir tentang apa yang terjadi dengan suaminya, Zein justru terlihat seperti tak terjadi apa-apa. Dia menyakiti, tapi merasa tidak bersalah. Merasa bahwa hal itu biasa saja, dan sepertinya menuntut agar sang istri bisa mengerti. Sementara itu sebagai seorang wanita, apalagi istri, dia juga butuh perhatian, butuh dimengerti, juga butuh dikasihi.

***

Hari itu saat selesai berpraktek, Indras kedatangan tamu. Ia agak kaget karena lama sekali tidak ketemu. Mereka juga tidak berkabar, setelah Indras menikah.

Ia adalah Bagas, yang tampak tidak begitu berubah walau puluhan tahun tidak ketemu.

“Bagas, aku tidak menyangka kita bertemu di sini.”

“Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu kamu. Takut salah.”

“Mengapa takut salah? Aku tidak pernah merasa terganggu. Bukankah kamu sahabatku?”

“Suami kamu tidak akan pernah bisa menerima aku sebagai sahabat."

Indras tertawa.

"Sahabat tetaplah sahabat. Kalau dia tidak, maka akulah sahabat kamu, selamanya.”

“Terima kasih Indras. Kamu tetap cantik seperti dulu.”

Indras terkekeh.

“Aku sudah tua, Bagas.”

“Kata siapa kalau tua tidak boleh dibilang cantik?”

“Ya beda dong Gas, tua itu proses untuk kehilangan segala kecantikannya.”

“Tidak. Bagiku kamu masih seperti dulu.”

“Ngaco ah. Tapi ngomong-ngomong anakmu sudah berapa?”

“Anak? Memang laki-laki bisa punya anak?”

Indras semakin terkekeh. Tawa yang sudah lama tidak hadir di hari-harinya dalam beberapa tahun ini, tiba-tiba meledak-ledak.

“Kamu lucu ya Gas. Pastinya bukan kamu yang punya anak, tapi istri kamu.”

“Aku belum punya istri,” jawab Bagas sambil tersenyum, sedikit tersipu. Ia merasa tidak laku sebagai laki-laki yang sudah mapan.

“Kamu serius?”

“Sangat serius. Tak ada perempuan yang mau sama aku.”

“Bohong ah. Perempuan bodoh yang tidak mau diambil istri oleh kamu.”

“Kamu salah satu diantaranya,” kata Bagas lirih, seakan takut perkataannya menyinggung.

“Oh, aku? Ya ampun Bagas, aku sudah punya seseorang.”

“Ya, kamu sudah mengatakannya waktu itu. Aku bersyukur. Tapi aku melihat wajahmu kusut. Kamu tidak bahagia?”

“Bagas, sejak kapan kamu jadi ahli nujum?”

“Tidak memerlukan keahlian untuk melihat keadaan hati seseorang.”

“Kamu ahli jiwa?”

“Bukan ahli apa-apa. Aku hanya tukang tebak. Mungkin benar, tapi mungkin juga salah. Kan hanya menebak?”

Indras tersenyum, tipis. Masa ia harus mengeluhkan tentang keluarganya kepada orang lain?

“Maaf kalau salah, maaf juga kalau benar.”

“Kalau salah … minta maaf. Kalau benar … juga minta maaf?”

“Kalau salah, ya namanya salah harus minta maaf dong. Sedangkan kalau benar, aku minta maaf karena perkataanku itu, sedikit banyak pasti menyinggung perasaan kamu. Sungguh, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku bersyukur kalau kamu bahagia, karena memang itulah yang sangat aku harapkan.”

Indras tersenyum. Terharu mendengar ketulusan yang diungkapkan Bagas. Apakah Bagas mencintainya sampai kemudian tak ingin menikahi perempuan lain?

“Bagas, kamu belum mengatakan, mengapa kamu sampai sekarang belum menikah? Serius, jangan bercanda,” kata Indras untuk mengalihkan pembicaraan tentang nuansa batinnya.

“Sejauh ini aku tidak pernah tertarik kepada siapapun.”

“Karena aku? Masa karena aku, Gas?”

“Salah satunya … ya.”

“Berarti ada yang lain?”

“Tidak ada yang cocok.”

“Jangan mengatakan tidak ada. Katakan belum ada, walaupun hal itu sudah terlambat. Kamu bisa disebut bujang lapuk.”

Bagas tertawa.

Tiba-tiba Indras menemukan cara untuk membalas sakit hatinya kepada sang suami.

“Gas, sebenarnya aku lapar, maukah menemani aku makan?”

“Dengan senang hati, Tuan Putri,” kata Bagas dengan wajah cerah.

***

Di kantornya, Zein juga sedang beristirahat. Ia belum beranjak dari kursi kerjanya, setelah lelah melakukan visite di ruang rawat para pasiennya.

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, seorang dokter cantik masuk.

“Selamat siang dok.”

“Siang, cantik,” jawab Zein bersemangat.

“Aku bawakan lemper buatan aku sendiri,” katanya sambil meletakkan piring kecil dengan beberapa lemper di atasnya.

Zein tertawa semringah.

“Kamu tahu dok, ini yang sering dibuat almarhumah ibuku kalau aku sedang libur kuliah.”

“Benarkah? Tapi belum pasti buatanku seenak buatan almarhumah dong.”

“Kamu mirip almarhum ibuku. Semua makanan yang kamu buat selalu enak. Mengingatkan aku kepada masakan ibuku.”

Perkataan itu menunjukkan bahwa Zein sudah sering dibawakan makanan oleh dokter cantik itu. Namanya dokter Tyas.

“Aduh, senangnya. Kalau begitu silakan dimakan, aku ambilkan minumnya ya,” kata dokter cantik itu sambil beranjak ke kulkas lalu mengambil sebotol minuman dingin.

Zein sedang mengupas daun pembungkus lemper itu, lalu menggigitnya pelan.

“Enak?” tanya dokter Tyas sambil duduk di depan meja kerja Zein.

“Aku kan sudah bilang, semua makanan buatan kamu pasti enak. Lemper ini luar biasa enak. Seperti buatan ibuku.”

Dokter Tyas tersenyum. Senyuman itu menciptakan lesung pipit yang sangat manis, membuat Zein terpana melihatnya.

“Sudah cantik, pintar masak pula,” kata Zein yang kemudian mencomot lagi sebuah lemper di depannya.

“Aku makan lagi ya?” lanjutnya.

“Habiskan saja Dok, kalau sisanya dibawa ke rumah,  istri dokter Zein marah tidak?”

Zein hanya tertawa, sambil menikmati lemper buatan dokter cantik di depannya.

“Kamu nggak makan?”

“Saya sudah kenyang. Itu untuk dokter Zein semua.”

“Tadinya aku mau keluar makan, karena lemper ini, kenyang deh.”

“Kalau makan lemper jangan banyak-banyak Dok, makanan dari ketan tidak bagus untuk lambung,” kata dokter Tyas, yang rupanya lupa bahwa dia bicara dengan seorang dokter juga, yang pastinya tahu batasan-batasan makanan yang harus disantap. Tapi dokter Zein senang mendengarnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari sang istri. Video cal? Tumben. Zein mengangkatnya.

“Zein, aku sedang menjamu sahabat yang lama tidak bertemu, nanti aku pulang terlambat ya,” kata Indras di telpon, sambil memperlihatkan wajah dirinya dengan Bagas di depannya.

Zein melotot marah.

***

Besok lagi ya. 

29 comments:

  1. Assalamualaikum bu Tien, alhamdulilah cerbung " Sakitku adalah Cintaku 17 " sampun tayang. Semoga bu Tien sekeluarga sll sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🩷🩷🌹🌹πŸ₯°πŸ₯°

    ReplyDelete
  2. πŸ‡πŸ«πŸ‡πŸ«πŸ‡πŸ«πŸ‡πŸ«
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸŒΉ
    Cerbung eSAaCe_17 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ‡πŸ«πŸ‡πŸ«πŸ‡πŸ«πŸ‡πŸ«

    ReplyDelete
  3. Alhamdullilah..terima ksih bundaqu cerbungnya..slmt mlm dan slmt istirahat..slm sehat sll unk bunda sekel πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih bunda. Semoga sehat slalu..
    Indras memanasi Zein.. bersama Bagas.. Zein kumat cemburunya..

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 17 l~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  7. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (17)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu

      Delete
  8. Mks bun SAC 17 sdh tayang.....selamat malam bun, smg bunda dan kelrg sll sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Supriyati

      Delete
  9. Alhamdulillah....
    eSAaCe_17 sudah tayang....
    Terima kasih Dhe.
    Sugeng dalu πŸ€πŸ€πŸ™

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~17 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  11. Matur nuwun Bu Tien, wah.....Zein berulah.
    Semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien πŸ™,ceritanya makin seru,balada rumahtangga selalu ada....semoga TDK sampai terpcah belah....

    ReplyDelete
  13. Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah

      Delete
  14. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 17 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Waduh Zein berselingkuh... mengkhianati kesetiaan dan cinta suci nya Indras.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  15. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 17

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  17 (Tien Kumalasari)   Indras pura-pura tak mendengar, dia keluar lagi dari kamar, duduk di ruang tengah, seakan m...