Saturday, April 11, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 13

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  13

(Tien Kumalasari)

 

Zein mengucek matanya, barangkali dia salah lihat. Tapi itu benar. Indras datang bersama ayahnya, pak Narya Kusuma. Apa dia salah memberikan uangnya melalui Arun kemarin? Celaka, bukankah uangnya sebagian sudah dibelikan obat untuk ibunya kemarin? Zein mendadak bingung, sampai kemudian Indras tiba di depannya. Tapi pak Narya tak lagi kelihatan? Zein merasa bahwa ia telah salah lihat. Tak ada pak Narya datang, ia pasti berhalusinasi.

“Zein,” sapa Indras lembut, seperti biasanya.

“Kamu? Kenapa kemari?”

“Aku minta libur hari ini. Bagaimana keadaan ibu? Kemarin Arun ketemu ibu tidak?”

“Ibu semakin membaik. Nanti dulu, kamu datang sendiri?”

“Tidak, aku bersama bapak.”

“Ba … pak? Kamu bersama bapak?”

Lalu Zein mencari-cari.

“Oh, bapak sedang menemui temannya.”

“Oh, mencari temannya?”

Zein merasa lega, jadi pak Narya bukan datang untuk menanyakan uang yang kemarin dibawa Arun.

“Indras, kemarin Arun datang. Memaksa aku agar menerima pemberian uang dari ayahmu. Tapi sungguh aku tak percaya. Bukankah itu akal-akalan kamu?”

“Tidak. Kemarin Arun menelpon, menanyakan alamat rumah kamu, karena bapak menyuruh Arun menemui kamu.”

“Mengapa? Bukankah dia benci sama aku?”

Indras tersenyum. Ia bisa mengerti kalau Zein tak percaya tentang pemberian uang itu. Dirinyapun semula tak percaya, tapi Arun meyakinkannya, bahwa memang benar ayahnya ingin menyumbangkan uang  kekeluarga Zein.

“Tadinya aku juga tidak percaya.”

“Apa yang terjadi? Kalau saja tidak memikirkan ibuku, aku tidak akan mau menerimanya. Jadi orang miskin itu susah. Bukan susah karena memikirkan kemiskinannya, tapi susah menghadapi orang-orang kaya yang tiba-tiba berbaik hati sementara tadinya membenci.”

“Manusia bisa berubah.”

“Tapi luka tetaplah luka.”

“Zein, kami ikut prihatin tentang keadaan ibu kamu. Jangan berprasangka buruk atas apa yang dilakukan ayahku. Dia benar-benar ingin membantu.”

“Aku sangat berterima kasih. Ibuku sangat berarti dalam hidupku. Ibuku sakit karena terlalu keras bekerja dalam memperjuangkan keluarga. Apapun akan aku lakukan, bahkan kalau aku harus menanggung malu karena pemberian dari seseorang yang entah dengan maksud apa.”

“Sekali lagi aku bilang, jangan berprasangka buruk, Zein. Bahkan bapak mengajak aku kemari ketika bapak ingin kemari, dan itu menunjukkan bahwa hati bapak telah melunak.”

“Teman ayahmu sakit?”

“Entahlah, bapak hanya mengatakan ingin menemui teman yang kebetulan ibu kamu dirawat disini. Semalam bapak menelpon aku, menanyakan apakah aku bisa libur hari ini.”

Zein tak mengerti, bagaimana seseorang bisa berubah tiba-tiba.

“Zein, kamu belum menjawab pertanyaan aku, bagaimana keadaan ibu.”

“Kelihatannya semakin membaik. Tapi masih berada di ruang khusus.”

“Ruang khusus? Maksudmu ruang isolasi?”

“Semacam itu. Katanya agar bisa mendapat pengawasan khusus. Aku juga bingung. Pasti biayanya mahal. Aku sedang memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu.”

“Barangkali memang harus mendapat pengawasan khusus. Aku ingin menemuinya, kalau boleh.”

“Boleh, bersama aku. Kemarin Arun juga bisa masuk, tapi ibu belum banyak bicara. Masih dipasang ventilator karena sesak napas.”

Zein mengajak Indras memasuki ruang rawat ibunya. Zein agak lega ventilator itu telah dilepas, berarti keadaan ibunya membaik.

Ketika mereka masuk, sang ibu melambaikan tangannya dan meminta agar dia mendekat.

“Bu, ada Indras.”

Indras menyalami tangan bu Iman dan menciumnya. Tapi bu Iman malah memarahi Zein.

“Mengapa kamu masih di sini?” katanya penuh teguran, walau masih dengan suara pelan.

“Tapi ….”

”Kembalilah, nanti kamu terlambat jadi dokter.”

“Tidak ada yang terlambat Bu, Ibu jangan khawatir.”

“Tidak terlambat, tapi kelamaan.”

“Baiklah, kalau keadaan Ibu baik, Zein akan pergi besok pagi.”

“Lama sekali.”

“Sabar ya Bu,” kata Indras.

“Ibu ingin Zein menjadi dokter, sebelum ibu meninggal.”

“Tidak Bu, ibu akan tetap menunggui Zein.”

“Nanti kalau sembuh, Ibu tidak boleh bekerja terlalu keras,” kata Indras.

“Dokter juga berkata begitu.”

“Ya sudah, Ibu istirahat lagi saja, tidak boleh banyak berbicara kan? Kalau kami kelamaan di sini, dokter atau perawat juga akan menegur.”

“Kembalilah, jangan menunggui ibu lagi.”

“Baiklah, besok Zein akan kembali, tapi Ibu cepat sembuh ya.”

"Anakku ….” dengan lembut bu Iman mengusap pipi anaknya.

“Dalam hidup ini, keinginanku hanya satu, menjadikan kamu orang yang benar-benar bisa berguna bagi sesama. Jadi penuhilah keinginan ibumu ini, Zein.”

Bu Iman masih mengusap pipi Zein, sambil berlinang air mata. Walau suaranya lemah, hampir tak terdenar, tapi mampu menggugah semangat Zein untuk terus bangkit.

“Ibu, Zein akan mewujudkan keinginan Ibu.”

“Terima kasih, Nak.”

Dan air mata yang semula hanya merebak di pelupuknya, akhirnya bergulir bagai sungai mengaliri pipinya yang masih tampak pucat.

“Zeinlah yang harus berterima kasih pada Ibu. Perjuangan Ibu yang sangat berat tidak akan sia-sia.”

Indras menatap keduanya dengan haru yang memuncak. Diam-diam air matanya juga menetes, yang kemudian cepat-cepat diusapnya.

“Terima kasih untuk nak Indras yang sudah sudi menjengukku.”

“Sama-sama Ibu, saya dan keluarga saya juga ikut prihatin atas sakitnya Ibu, semoga Ibu segera sembuh dan bisa pulang ke rumah.”

“Aamiin, sekali lagi terima kasih.”

Tiba-tiba ponsel Indras berdering, dari ayahnya.

“Ya Pak. Baiklah, saya segera menyusul Bapak ke mobil.”

Rupanya pak Narya sudah selesai dengan urusannya, lalu mengajak Indras pulang. Tapi sebelum menutup pembicaraan, pak Narya menyampaikan salam untuk Zein dan ibunya.

”Salam dari bapak untuk kamu Zein, dan doa untuk kesembuhan Ibu,” kata Indras sambil tersenyum.

“Sampaikan juga rasa terima kasih saya atas doa yang diberikan,” kata bu Iman.

“Akan saya sampaikan,” jawab Indras sambil menyalami tangan bu Iman, kemudian keluar ruangan, diikuti Zein dengan perasaan aneh.

“Pak Narya yang angkuh dan tinggi hati itu menitipkan salam untukku dan ibuku?” kata batin Zein sambil terus berjalan mengikuti Indras sampai ke lobi.

Ketika di lobi, mobil pak Narya sudah menunggu, dengan pak Narya di dalamnya. Zein menganggukkan kepalanya, dibalas oleh pak Narya dengan senyuman dan anggukan juga. Tak ada rasa merendahkan atau menghina, sampai kemudian mobil itu berlalu sambil membawa Indras yang terus membuka jendela kaca mobilnya sambil melambaikan tangan, sampai menghilang di luar gerbang.

***

Menurut Zein, banyak keanehan atau kalau boleh dikatakan keajaiban terjadi di beberapa hari terakhir ini. Banyak sekali. Tiba-tiba ibunya dipindahkan ke ruang ‘isolasi’ yang bagus, mendapat pengawasan prima, lalu kesehatannya membaik, lalu Arun datang dengan membawa segepok uang, yang katanya dari ayahnya, sehingga ia bisa menebus obat untuk ibunya di mana obat itu tak ada di rumah sakit tempat sang ibu dirawat. Ia bahkan kemudian teringat bahwa ia lupa mengucapkan terima kasih, baik melalui Indras ataupun ketika bertatap muka dengan pak Narya di lobi. Pemberian yang sedianya ingin ditolak karena harga diri yang tinggi, lalu akhirnya diterima karena ia memang membutuhkannya. Zein bingung harus bagaimana.

Zein juga tidak mendapat jawaban dari dokter yang menangani sakit ibunya, tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan karena merasa sang ibu mendapat perlakuan yang istimewa padahal semula sang ibu hanya dirawat di ruang paling murah yang memang disediakan bagi orang-orang yang tak mampu. Dokter hanya mengatakan bahwa dia tak perlu memikirkan apapun.

“Tapi saya yakin biayanya sangat mahal Dok, saya yakin tak akan bisa membayarnya."

“Rumah sakit memberi kemurahan untuk seorang ibu yang jatuh sakit karena berjuang demi keluarganya.”

Jawaban itu tidak memuaskannya, dan tetap dianggap sesuatu yang aneh walau melegakan karena kenyataannya kesehatan ibunya sudah membaik. Adakah sebuah rumah sakit memberi perhatian kepada seorang pasien yang dianggap sebagai seorang yang sakit karena berjuang demi keluarganya?

***

Bahkan ketika kemudian sang ibu dinyatakan sembuh, dan rumah sakit tidak membebaninya dengan sepeser uangpun untuk biayanya, Zein belum juga mendapatkan jawabannya.

Tapi ketika di saat memanggil taksi untuk membawa ibunya pulang lalu ia melihat dua orang sedang bercakap-cakap di lobi rumah sakit, ada sekilas jawaban yang melintas. Mereka itu adalah dokter yang merawat ibunya dan pak Narya, ayah Indras.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

18 comments:

  1. πŸŒ»πŸƒπŸŒ»πŸƒπŸŒ»πŸƒπŸŒ»πŸƒ
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸŒΉ
    Cerbung eSAaCe_13 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸŒ»πŸƒπŸŒ»πŸƒπŸŒ»πŸƒπŸŒ»πŸƒ

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Bu Tien, semoga Bu Tien selalu sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta.

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  4. Alhamdullilah..hatur nuhun bunda..salam sehat..slm semangat dan aduhaai unk bunda sekelπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien, SAC telah hadir, tetap sehat untuk ibu,semangat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta....πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  6. Terimakasih bunda. Semoga sehat slalu
    Teka teki Zein tentang yang membantu ibunya berobat . Mungkin bisa terjawab hari Senin... Slamat libur Bunda .

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 13" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  9. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 13 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Zein aja mbok pikir jero jero ya, pak Narya membantu mu ikhlas..😁😁

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (13)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu dan salam Aduhai

    ReplyDelete
  12. Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dab keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  13. Matur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 13

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  13 (Tien Kumalasari)   Zein mengucek matanya, barangkali dia salah lihat. Tapi itu benar. Indras datang bersama ay...