Monday, April 6, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 08

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  08

(Tien Kumalasari)

 

Zein tampak sangat khawatir. Seorang tetangga yang memberikan kabar,  tidak menjabarkan bagaimana sakit sang ibu, Ketika Zein menanyakannya, ia hanya mengatakan bahwa sebaiknya dirinya segera pulang.

Karena itu ia harus mencari waktu luang dan segera pulang.

Indras menawarkan mobilnya, kalau saja Zein ingin cepat pulang, tapi Zein  menolaknya. Ia selalu begitu. Tidak mentang-mentang punya kekasih kaya lalu ia kemudian mempergunakan kesempatan untuk ikut menikmati fasilitas mewahnya. Tidak. Indras memakluminya.

“Semoga ibu tidak apa-apa, hanya sakit biasa saja.”

“Aamiin. Terima kasih, Indras.”

***

Ketika  Zein sampai di rumah, ia melihat pintu rumahnya tertutup.  Rasa khawatir menyergapnya.

Ketika ia memasuki pintu rumah melalui pintu belakang, ia tak segera menemukan ibunya. Ternyata sang ibu berbaring di dalam kamar.

“Ibu,” kata Zein sambil mendekati pembaringan.

Bu Iman membuka matanya, tapi kemudian bangkit ketika melihat siapa yang datang.

“Zein, kamu pulang?”

“Ibu tiduran saja, mengapa bangun?”

“Ibu tidak apa-apa, hanya sedikit mengantuk. Biar aku buatkan kamu minum," katanya sambil berusaha berdiri.

“Tidak, biar Zein mengambil sendiri, Ibu tiduran saja.”

“Ibu tidak apa-apa, aku duduk di luar.”

“Jangan memaksa Bu, kalau Ibu sakit, lebih baik Ibu istirahat dulu.  Tiduran saja, Bu.”

“Tidak...ibu bilang bahwa ibu tidak sakit.”

“Bu,” Zein menahan ibunya yang ingin berdiri, tapi sang ibu nekat berdiri, kemudian perlahan berjalan keluar.

Zein mengikuti.

“Duduklah, ibu buatkan minum.”

“Tidak, biar Zein saja. Ibu duduk di sini. Oh ya, Zein membeli pisang tuh Bu,” kata Zein sambil beranjak ke belakang. 

Dibuatnya dua gelas teh hangat sekalian, lalu dibawanya keluar.

“Kamu itu baru datang, malah buat minum untuk ibu.”

“Minumlah, hangat-hangat enak,” kata Zein sambil lebih dulu menyeruput tehnya.

“Dari mana kamu mendapat berita kalau ibu sakit?”

“Dari tetangga sebelah. Zein memang berpesan, kalau ada apa-apa minta tolong ngabarin Zein.”

“Dia itu mengada-ada. Ibu hanya masuk angin, tidak jualan sehari. Tapi besok ibu sudah akan jualan lagi.”

“Bu, kalau sakit jangan dipaksa.”

“Tidak, ibu tidak memaksa. Kamu itu bagaimana, mengapa meninggalkan tugas kamu? Kalau kamu mengabaikan tugas, kamu tidak akan segera jadi dokter. Dulu itu kamu bilang sudah lulus, ibu kira sudah bisa buka praktek di sini, ternyata masih lama.”

“Ibu jangan khawatir. Sekarang ini Zein memang sudah lulus, tapi baru disebut sarjana kedokteran, belum boleh disebut dokter. Kalau mau jadi dokter, ya harus menjalani program-program yang akan menjadikan Zein menjadi dokter beneran, seperti ini, mereka sebut co-ass.”

“Pekerjaannya apa tuh?”

“Semacam belajar menjadi dokter, begitu Bu. Misalnya membantu di bagian bedah, di bagian jantung, di bagian paru-paru. Nanti harus diuji lagi, bener tidak kami melakukan tugasnya, kalau bener ya lulus. Kalau tidak ya harus mengulang.”

“Berapa bulan nantinya?”

“Agak lama Bu, sekitar dua tahunan, bisa kurang bisa lebih.”

“Ternyata masih lama,” kata bu Iman, seperti sebuah keluhan.

“Ibu tidak usah khawatir, Zein akan segera bisa menyelesaikannya.”

Bu Iman menyeruput tehnya.

“Apa kamu akan menginap?”

“Kalau Ibu tidak apa-apa, nanti sore Zein akan kembali. Tapi Zein janji, kalau ada waktu luang, Zein akan menjenguk ibu.”

“Jangan terlalu memikirkan ibu. Yang penting kamu tekun menjalani semua tugas kamu. Oh iya, ambil uang yang ada di dompet ibu, kebetulan kamu datang jadi ibu tidak usah mengirimkannya.”

“Untuk Ibu saja, uang Zein masih cukup.”

“Jangan, kamu selalu begitu. Ambil saja, ibu tidak ingin kamu kekurangan, terlebih untuk biaya kuliah kamu.”

Zein memeluk ibunya terharu.

“Ibu berkeringat,” kata Zein kemudian.

“Udara sangat panas. Ya begini ini. Ibu ganti pakaian dulu, kamu segera ambil uangnya.”

***

“Bagaimana keadaan ibu?” tanya Indras ketika Zein sudah kembali.

“Mungkin ibu kecapekan. Katanya hanya tidak jualan sehari. Besok sudah akan jualan lagi.”

“Syukurlah. Seharusnya ibu tidak terlalu capek.”

“Ibu merasa harus bekerja giat, itu untuk aku. Aku jadi sedih. Aku tidak merasa butuh uang, kemarin diberi lagi.”

“Ibu sangat berharap agar kamu selalu berkecukupan, untuk biaya kuliah, untuk makan. Belum biaya kost.”

“Benar. Besok aku akan mencari tempat kost yang lebih murah, agar bisa lebih menghemat.”

“Zein, kalau kamu memang membutuhkannya, aku pasti akan membantu.”

“Tidak usah, berapa kali aku mengatakan bahwa jangan melakukan itu? Nanti orang tua kamu bilang kalau aku bisa berhasil karena bantuan kamu.”

“Ya ampun, kamu selalu membawa-bawa orang tua aku. Ini kan tidak ada hubungannya sama mereka?”

“Kata siapa? Yang memberi kamu uang itu kan mereka? Pada saat kamu minta, pasti mereka berpikir kamu menghabiskan uangnya karena aku.”

“Jangan begitu Zein, kamu belebihan.”

Zein terdiam. Luka yang ditimbulkan oleh pembicaraan pak Narya waktu itu masih membekas dihatinya, dan mungkin selamanya dia tak akan melupakannya. Bukannya dendam, hanya tak bisa melupakan. Rasanya luka itu masih menganga.

***

Hari-hari berlalu. Tetangga bu Iman yang selalu dihubungi Zein mengatakan bahwa sudah berhari-hari bu Iman berjualan, dan tampak sangat bersemangat.

Sebenarnya Zein sedih. Ia tahu sang ibu bekerja keras untuk dirinya. Karena itulah ia bertekat agar bisa segera menyelesaikan tugasnya, lalu mewujudkan impian sang ibu agar dirinya benar-benar bisa menjadi dokter.

Tetapi hari itu bu Iman berpesan kepada tetangganya yang baik hati itu, agar tidak mengatakan hal-hal buruk kepada anaknya.

”Saya sangat berterima kasih, Ibu memperhatikan keluarga saya, tapi saya khawatir, Zein akan terganggu pelajarannya karena mengkhawatirkan saya.”

“Tapi kalau ibunya sakit, setidaknya Zein harus mengetahuinya kan?”

“Benar, tapi kalau hanya karena kelelahan atau sakit biasa, saya mohon Zein tidak usah diberi tahu. Dia harus fokus kepada kuliahnya. Dia itu mendengar saya sakit sedikit saja sudah pasti panik.”

“Baiklah bu Iman, semoga bu Iman selalu sehat. Tapi saya lihat akhir-akhir ini bu Iman kelihatan selalu kelelahan.”

“Itu sudah lumrah Bu, saya kan semakin tua.”

“Sebaiknya Ibu mengurangi saat Ibu berjualan. Tidak usah terlalu banyak, agar bisa segera beristirahat.”

“Iya Bu, nanti akan saya kurangi. Sekarang ini saya harus giat mencari uang agar Zein selalu tercukupi kebutuhannya.”

“Benar, tapi semua itu harus disesuaikan dengan kekuatan Ibu.”

Bu Iman hanya mengangguk-angguk. Apa yang dikatakan tetangganya memang tidak salah, dia harus mengurangi kegiatannya berjualan, tapi bu Iman selalu berusaha agar bisa mencukupi kebutuhan anaknya.

“Semoga Zein cepat bisa lulus, dan bisa mencari uang sendiri. Dengan begitu seandainya saya harus berhenti bekerja seperti sarannya, dia tidak akan kekurangan,” gumam bu Iman pada akhirnya yang diamini oleh tetangganya.

***

Hari itu Bagas menelpon Indras. Bukan apa-apa, ia belum bisa melupakan rasa cintanya. Hanya saja ia ingin menelpon hanya sekedar menanyakan kabar. Ia sama sekali tak berharap karena tahu bahwa cinta Indras kepada Zein sangatlah besar.

“Apa kamu sedang sibuk?”

“Tidak, ini sedang istirahat. Apa kabar Bagas?”

“Kabar baik, Aku mendapat berita bahwa kamu sudah selesai dan sedang menjalani co-ass.”

“Iya, doakan segera selesai ya.”

“Tentu aku doakan.”

“Kapan-kapan kalau aku sedang ada tugas kemari pasti menemui kamu.”

“Terima kasih. Dari mana kamu tahu tentang aku?”

“Bapak. Aku sering telponan sama bapak. Meskipun urung jadi menantunya, boleh dong aku telponan sama bapak?”

“Tentu saja boleh. Telponan sama aku juga boleh kok.”

“Senang mendengarnya.”

Lalu mereka bertelpon dan ber canda. Saat itu Zein sedang berjalan ke arahnya, dan mendengar candaan akrab diantara mereka.

***

Besok lagi ya.

15 comments:

  1. πŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eSAaCe_08
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽ

    ReplyDelete
  2. Terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda bersm bpk πŸ™πŸ˜­πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  4. Zein jangan baper lho ya, dikit dikit cemburu, tapi cemburu itu tanda nya cinta sih...πŸ˜πŸ’

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (08)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  6. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu selalu sehat wal'afiat..

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah cerbung ^SAKITKU ADALAH CINTAKU 08 ^ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, indras telah hadir, maturnuwun Bu Tien, πŸ™ tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta,.......liku liku cinta dlm kehidupan manusia pasti ada, tidak ada yg mulus.....

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, Zein sdh ketemu ibunya.
    Rada bandel memang, begitulah orang tua berjuang tidak ingin anak semata wayangnya kandas ditengah jalan.
    Terimakasih mBak Tien, dalam SEROJA tetap ADUHAI dan semangat untuk terus menulis, menghibur para penggemar cerbung mBak Tien.

    ReplyDelete
  10. Indras ini kurang bisa menjaga rasa
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  11. Indras ini kurang bisa menjaga rasa
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 08

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  08 (Tien Kumalasari)   Zein tampak sangat khawatir. Seorang tetangga yang memberikan kabar,  tidak menjabarkan bag...