Tuesday, July 5, 2022

KEMBANG CANTIKKU 13

 

KEMBANG CANTIKKU  13

(Tien Kumalasari)

 

Orang yang dimaksud Wahyudi adalah Sunthi, yang sedang berjalan bersama Tino.

Nano menghentikan mobilnya tepat di hadapan keduanya, membuat mereka terkejut, kemudian melangkah agak ke pinggir.

“Mentang-mentang punya mobil, main selonong saja,” gerutu Tino sambil menggandeng lengan Sunthi.

Wahyudi tiba-tiba turun dari mobil, dan mendekati mereka. Bagaimanapun, Wahyudi masih merasa bahwa Sunthi adalah calon istrinya, mengapa sekarang bersama laki-laki lain dan tampak sangat dekat. Bukan karena Wahyudi sangat mencintai Sunthi, tapi Wahyudi tak mau dipermainkan. Kalau memang Sunthi mau sama pria itu, Wahyudi pasti akan mengikhlaskannya.

“Sunthi!” panggilnya, membuat langkah keduanya terhenti. Terbelalak mata Sunthi melihat siapa yang ada di depannya.

“Mas Wahyudi ?”

Tino menatap Wahyudi tak berkedip. Ada rasa tak suka karena dulu Sunthi kelihatan sangat menyukainya.

“Mas Wahyudi, aku sama bapak mencarimu ke mana-mana.”

“Aku tidak tahu jalan pulang. Siapa dia?” tanyanya kemudian sambil menunjuk ke arah Tino.

“Dia_”

“Aku calon suaminya,” kata Tino sambil menatap tajam Wahyudi.

Wahyudi menatap Sunthi, mencari kesungguhan di wajah gadis yang katanya adalah calon istrinya.

Sunthi menundukkan kepalanya, bingung akan mengatakan apa. Malu mengakui kebohongannya.

“Tapi kamu dulu mengatakan bahwa ….”

“Maaf Mas …” kata Sunthi lirih.

“Apa yang terjadi?” kata Tino yang merasa kesal melihat Sunthi tampak bingung.

“Dia ini, calon istriku,” kata Wahyudi pelan, “walau aku tidak menyukainya,” lanjutnya.

“Sunthi …?” sekarang Tino menatap Sunthi.

“Maaf Mas …”

“Apa maksudmu Sunthi?” tanya Tino dengan nada tinggi.

“Aku hanya … bohong sama dia,” katanya pelan, sambil menunjuk ke arah Wahyudi.

“Apa maksudmu bohong?” tanya Wahyudi, hampir bersamaan dengan Tino.

“Dulu aku bilang begitu sama sampeyan, aku bohong.”

“Apa?”

“Kita belum pernah bertemu sebelum bapak membawa sampeyan pulang dalam keadaan sakit,” kata Sunthi akhirnya.

“Jadi ….”

“Jadi sampeyan bukan siapa-siapa aku Mas.”

Wahyudi menghela napas, dan sangat merasa lega.

“Mengapa kamu membohongi dia?” tanya Tino yang masih tidak terima.

“Aku ….”

“Kamu sebenarnya suka sama dia?” lanjut Tino.

“Tidak, aku hanya mengganggunya saja, sungguh.”

“Baiklah, terima kasih atas penjelasan ini, Sunthi. Aku sungguh merasa lega,” kata Wahyudi pada akhirnya.

Nano yang berada di antara mereka hanya mendengarkan pembicaraan itu.

“Aku senang akhirnya kamu menemukan calon suami," kata Wahyudi.

“Yudi, ini siapa?” tanya Nano.

“Ini namanya Sunthi, anaknya pak Tukiyo yang menolongku ketika aku sakit.”

“Oh, dimana sampeyan tinggal?” tanya Nano kepada Sunthi, karena Wahyudi tidak tahu dimana penolongnya itu tinggal sehingga kemudian tidak kembali pada mereka.

“Popongan, jauh dari kota,” jawab Sunthi.

“Sekarang aku bersama sahabatku ini, tinggal di sebuah keluarga yang menolongku. Suatu hari nanti aku akan pergi ke rumah ayahmu dan mengucapkan terima kasih,” kata Wahyudi.

“Apa … sampeyan sudah menemukan keluarga sampeyan, dan ingat semuanya?”

“Belum.”

“Tapi dia sedang menjalani pengobatan. Lain kali saya akan mengantarkan dia menemui yang namanya pak Tukiyo,” kata Nano pada akhirnya, karena dia harus segera pulang bersama Wahyudi, khawatir keluarga Kartiko terlalu lama menunggu.

“Oh, begitu? Nanti akan aku sampaikan kepada bapak dan simbok,” kata Sunthi.

“Baiklah, aku pergi dulu Sunthi, sampaikan maafku pada pak Tukiyo, lain kali aku akan menceritakan semuanya. Dulu itu aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang, kemudian sampai pada rumah seorang pengusaha, dan aku diijinkan bekerja di sana.”

“Oh, syukurlah Mas.”

Nano dan Wahyudi mengangguk pada Tino yang wajahnya masih tampak masam, lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu.

Sunthi menatap mereka dengan heran. Ia bahkan lupa mengatakan bahwa pada suatu hari pernah melihatnya dan memanggil-manggilnya.

“Hei, kamu menyesal dia pergi?” tanya Tino sampil menyentuh lengan Sunthi.

“Tidak, mengapa kamu berkata begitu?”

“Kamu masih suka sama dia?”

“Tidak. Kan aku sukanya sama kamu?” kata Sunthi yang mulai merasa tenang.

“Bohong.”

“Yah, sama calon istri sendiri kenapa tidak percaya? Ayo cari makan, aku lapar, tahu.”

Walau masih penuh tanda tanya, tapi kemudian Tino mengajak Sunthi ke sebuah warung makan.

***

“Kok lama sekali sih?” tanya Wisnu ketika istrinya datang dari yang katanya membeli ponsel baru.

“Iya sih, memilih-milih.”

“Seperti apa sih yang kamu beli?”

“Sama seperti yang lalu, tidak ada bedanya.”

“Beli baru, tapi sama. Untuk apa?”

“Kan aku sudah bilang bahwa yang lama rusak? Sudah aku tukarkan dengan yang baru."

Wisnu tak menjawab, kembali menekuni pekerjaannya.

“Lanjutkan tugas kamu, semua harus selesai hari ini. Bagaimana sih kamu?”

“Hari ini? Mana bisa selesai? Ini sudah hampir sore.”

“Kalau perlu lembur.”

“Yah … lembur?”

“Qila, kamu itu di sini untuk membantu aku, bukan semau kamu.”

“Bagaimana kalau Mas mencari sekretaris saja?”

“Apa maksudmu?”

“Aku lelah. Aku mau di rumah ibu saja.”

“Apa? Kamu mau di rumah ibu saja? Apa yang akan kamu lakukan di sana? Kalau kamu tidak mau bekerja, ya di rumah saja."

“Ada Mila di sana, aku bisa mengawasinya.”

“Aku tidak mengerti. Mila ada di rumah ibu karena aku sama kamu bekerja di kantor. Kalau kamu tidak mau ikut mengurus bisnis ini, ya di rumah saja, dan Mila tidak perlu dititipkan di rumah ibu. Bagaimana sih?”

“Aku kan belum pengalaman mengasuh anak Mas, dari masih bayi, ibu yang menjaganya. Jadi biarkan Mila disana dan aku menemaninya.”

“Tidak masuk akal.”

“Mas ….”

Kerjakan tugas kamu dulu, itu semua harus selesai hari ini, besok pagi-pagi sudah harus di kirim. Lihat, aku sudah membantu kamu. Selesaikan, dan kalau perlu lembur,” kata Wisnu tandas, tanpa melihat lagi ke arah istrinya yang melakukan tugasnya dengan mulut cemberut.

Diam-diam Wisnu merasa bahwa sikap istrinya semakin aneh. Sebelum ini Qila adalah wanita yang pintar, dan bisa membantu mengatasi semua masalah di perusahaan, tapi akhir-akhir ini dia seperti malas, bahkan mengatakan bahwa ingin berhenti bekerja.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Wisnu dalam hati.

***

Pak Udi … pak Udi … “ teriak Mila ketika Wahyudi dan Nano memasuki rumah.

Wahyudi segera menggendong Qila dan membawanya menemui pak Kartiko yang sedang duduk santai di ruang tengah.

“Wahyudi, sudah selesai?” sapa pak Kartiko.

“Sudah Pak, saya minta maaf karena tidak_”

“Mengapa harus minta maaf. Aku kan tahu bahwa periksa di rumah sakit itu tidak bisa hanya sebentar saja. Kamu menjalani beberapa pemeriksaan bukan?”

“Iya Pak.”

“Sekarang kamu istirahat saja, kamu pasti lelah.”

“Tapi ….”

“Semuanya sudah dilakukan ibu, kamu istirahat saja sekarang.”

“Iya, Wahyudi, istirahat dulu sana. Nanti malam saja kamu kembali melayani bapak,” kata bu Kartiko.

“Mila, ayo turun. Pak Udi lelah, kok kamu malah minta gendong?” tegur pak Kartiko.

Bukannya turun, Mila malah mengacak-acak rambut Wahyudi. Entah mengapa, gadis kecil itu sangat senang memain-mainkan rambut Wahyudi.

“Mila, nggak boleh begitu. Ayo Tinah, ajak Mila bermain di taman, sebentar lagi saatnya mandi kan?”

“Baik Bu.”

Tinah segera merayu Mila agar mau turun dari gendongan Wahyudi.

“Tunggu Wahyudi,” panggil pak Kartiko ketika Mila sudah dibawa Tinah ke belakang.

“Ya Pak,” langkah Wahyudi terhenti.

“Apa uangmu kurang?”

“Tidak Pak, masih cukup. Masih ada sisa setelah saya membeli obat untuk sebulan.”

“Benar?”

“Bukankah tadi ibu juga memberi uang lagi sebelum saya berangkat, nanti akan saya kembalikan. Dompet saya masih dibawa Nano, tadi dia yang mengurus semuanya.”

“Jangan, bawa saja. Kamu kan masih harus kontrol?”

“Iya, sebulan lagi.”

“Bawa saja sisanya. Sudah, jangan membantah lagi,” kata pak Kartiko tandas.

“Wahyudi, kamu itu jangan bandel, itu semua demi kebaikan kamu,” sambung bu Kartiko.

Wahyudi berlalu dengan rasa penuh haru. Ia berharap semuanya segera selesai sehingga dia tidak lagi membebani semua orang dengan kekurangan yang dimilikinya.

***

“Ini dompet kamu, Yudi,” kata Nano, karena memang tadi Wahyudi meminta Nano membawanya dan mengurus pembayaran saat dia menjalani pemeriksaan demi pemeriksaan.

“Terima kasih ya. Sebenarnya aku ingin mengembalikan sisa uang ini pada ibu, tapi tadi bapak melarangnya. Aku jadi merasa tidak enak.”

“Mengapa kamu perpikiran begitu? Mereka itu orang-orang baik yang ingin menolong kamu, kamu jangan menolaknya.”

“Aku kan sudah punya gaji, dan aku tidak akan mempergunakannya untuk yang lain kecuali periksa ke dokter.”

“Tapi kan kita tidak tahu, akan seberapa banyak nanti biaya yang kamu butuhkan lagi. Sudah, jangan terlalu memikirkan. Mereka ikhlas kok. Tadi sebenarnya kalau masih kurang, aku kan membawa uang juga.”

“Nano, kamu jangan macam-macam. Kamu sedang mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan kamu, bukan?”

“Iya benar, tapi kalau memang kamu membutuhkan, aku bersedia membantu kok.”

“Terima kasih Nano. Kamu sahabat terbaikku. Doakan agar pengobatan ini berhasil ya.”

“Pasti aku akan ikut mendoakan kamu.”

“Pak Udiii … “ teriakan si kecil Mila mengejutkan mereka.

“Mila, cantik … ada apa?”

“Ini … oti …” kata Mila sambil memberikan sebuah bungkusan kapada Wahyudi.

Wahyudi membuka bungkusan itu, isinya roti beberapa potong.

“Mila, ini bawa saja, punya Mila kan?”

“Ini .. punya pak Udi …”

“Bukan, ini punya Mila.”

“Dali ibu … dali ibu … “

“Itu roti buat kamu Yudi, dari ibunya Mila,” kata Nano menerangkan.

“Dali ibu … “ lalu Mila berlari meninggalkan Wahyudi dan Nano.

Wahyudi bingung, lalu mengulurkan bungkusan itu pada Nano.

“Hei, kamu yang diberi … “ elak Nano.

“Ini ada beberapa. Aku tanyakan dulu ke depan, jangan-jangan Mila tidak tahu ini roti siapa,” kata Wahyudi yang kemudian bergegas ke depan.

Dilihatnya Qila masih berdiri di teras, dengan bu Kartiko dan Mila yang sudah digendong Tinah.

“Bu, ini … punya Mila,” kata Wahyudi sambil mengacungkan bungkusan roti.

Qila menatapnya, dan wajahnya berbinar.

“Wahyudi, itu untuk kamu,” kata Qila dengan senyuman manisnya.

“Tapi … “

“Terima saja Wahyudi, tadi untuk bapak juga ada. Makanlah bersama Nano,” kata bu Kartiko.

Wahyudi dengan cepat membalikkan tubuhnya. Ada rasa tak enak melihat cara Qila memandangnya.

“Wahyudi,” panggil Qila. Wahyudi menghentikan langkahnya.

“Rotinya enak kok,” hanya itu yang dikatakan Qila. Wahyudi mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu dengan cepat.

Qila tertawa senang, bisa ketemu Wahyudi setelah siang tadi makan di rumah tanpa kehadiran pria yang dipujanya.

Wisnu membunyikan klakson mobilnya, kemudian Qila melangkah mendekat, sementara Tinah dan Mila sudah masuk ke dalam mobil.

Qila memasuki mobilnya tanpa berpamit pada ibu mertuanya, yang kemudian melambaikan tangannya begitu mobil itu berlalu.

***

Sunthi meletakkan bungkusan-bungkusan yang tadi dibeli Tino, dan membuka isinya satu persatu. Tino sudah pulang, karena hari sudah sore, dan ia harus menyiapkan dagangan yang akan dijualnya besok pagi.

“Tadi tanpa diduga ketemu mas Wahyudi,” katanya.

“Benarkah?” kata Tukiyo.

“Dia bilang waktu itu tersesat dan tidak tahu jalan pulang, kemudian entah bagaimana, dia ditemukan orang yang kemudian memperkerjakannya. Entah jadi apa, soalnya dia tampak tergesa-gesa sehingga tidak bisa bercerita jelas.”

“Dia sama siapa?”

“Seorang laki-laki yang katanya temannya. Mereka naik mobil bagus. Senang ya, bisa naik mobil,” celoteh Sunthi.

“Kamu tidak menyuruhnya menemui bapakmu?” kata simboknya.

“Dia, eh … teman mas Wahyudi itu bertanya dimana aku tinggal. Katanya, pada suatu hari mau datang kemari.”

“Jadi dia belum ketemu keluarganya?”

“Dia masih hilang ingatan, tapi pakaiannya bagus, dan dia tampak lebih ganteng,” kata Sunthi yang kemudian dipelototi ayahnya.

Sunthi hanya tersenyum dan meleletkan lidahnya.

“Ya sudah kalau dia baik-baik saja, aku ikut senang. Disini tidak banyak yang bisa dia lakukan. Aku juga bingung mau melakukan apa untuk dia.”

“Kelihatannya dia senang. Seperti orang kaya.”

“Kaya itu bukan ukuran senang bagi seseorang. Kita ini miskin, tapi setiap hari senang. Artinya tidak merasa kesusahan. Ya kan?” kata Tukiyo.

“Biarpun miskin, kalau kita bersyukur, hidup ini juga terasa senang,” sambung mbok Tukiyo.

“Iya. Sebenarnya Sunthi senang hidup bersama bapak sama simbok disini. Kalau aku harus mengikuti mas Tino … sedih dong Mbok.”

“Kamu tidak boleh begitu. Namanya perempuan itu kalau sudah berkeluarga juga harus mengikuti suaminya.”

“Iya juga sih.” Kata Sunthi yang tiba-tiba menjadi muram.

“Sudah, masukkan barang-barang ini ke kamar, ditata rapi,” kata simboknya.

“Ini cincinnya. Simbok saja yang menyimpan, kata mas Tino dipakaikan kalau menikah nanti,” kata Sunthi sambil menyerahkan kotak kecil berisi cincin.

***

Qila sedang ada di kamar mandi, ketika Mila yang berlarian ke sana kemari tiba-tiba menyentuh tas ibunya, dan membuat isinya berhamburan.

“Mila, bagaimana sih,” kata Wisnu.

Tinah segera memunguti isi tas itu dan dimasukkannya lagi ke dalam tas, tapi Wisnu menatap sesuatu. Ada sebuah kotak ponsel lagi di dalam tas itu, yang terlempar agak jauh, dan Wisnu memungutnya.

“Bukan kotak kosong, Qila membeli berapa biji sih?”

***

Besok lagi ya.

 

 

Monday, July 4, 2022

KEMBANG CANTIKKU 12

 

KEMBANG CANTIKKU  12

(Tien Kumalasari)

 

“Qila … itu kan Qila … Qila adalah nyata …” gumamnya perlahan.

“Yudi, ada apa ?

“Qila …” katanya lemas sambil menunjuk ke arah perginya mobil yang membawa gadis kecil yang dikenalinya dalam mimpi-mimpinya.

“Kamu Qila .. Qila terus..” tegur Nano.

“Itu benar, gadis kecil dalam mimpiku, aku yakin dia Qila. Qila itu nyata. Qila itu nyata,” gumamnya terus menerus.

“Bukankah dia digendong oleh seorang wanita cantik?”

“Benar …”

“Kamu mengenali wanita itu?”

“Aku lupa … tapi sepertinya tidak asing …”

“Jangan-jangan istri kamu?”

“Tidak. Ada pria gagah yang membawa mobil itu. Pastinya dia suaminya. Aku juga seperti mengenalinya,” kata Wahyudi sambil memijit-mijit kepalanya.

“Aduh, sayang sekali dia pergi begitu saja. Seandainya mereka melihat kamu, mungkin akan ada titik terang mengenai siapa dirimu.”

“Entahlah, kepalaku sangat pusing.”

“Baiklah, ayo duduk di kursi itu dulu, biar aku ke loket pendaftaran,” kata Nano sambil menuntun Wahyudi lalu mendudukkannya di sebuah kursi.

Wahyudi masih memijit-mijit kepalanya sambil terus membisikkan nama gadis kecil itu.

“Qila … Qila … Qila … siapa kamu sebenarnya Qila?”

Wahyudi menyandarkan kepalanya, sambil terus memijit-mijitnya. Semakin dia mengingatnya, semakin terasa pusingnya.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku ini … Tunjukkanlah jalan terang agar hamba bisa mengingat semuanya … “ doanya dalam hati.

“Qila … aku sangat mengenal nama itu, gadis kecil berkepang dua itu … tapi siapakah kamu, dan siapa pula diriku? Mengapa tadi aku hanya bengong dan tidak segera memanggil namanya?” gumamnya terus menerus.

“Kepala kamu pusing?” tanya Nano sambil mendekat. Dia telah selesai mendaftarkan Wahyudi.

“Sangat pusing, karena semuanya terasa gelap,” keluhnya.

“Baiklah, ayo ke sana, aku sudah mendaftarkan kamu. Kita harus menunggu,” kata Nano sambil membantu Wahyudi berdiri, dan menuntunnya ke arah ruang dokter, dimana Wahyudi akan diperiksa.

***

“Pak Udi nana … ? Pak Udi nana …” Mila berteriak-teriak sambil berlarian ke sana kemari begitu bangun tidur di siang hari itu.

“Mila, pak Udi sedang ke rumah sakit,” kata bu Kartiko yang kemudian mendekati cucunya.

“Akit ?”

“Ke rumah sakit. Ya, sayang, pak Udi sakit.”

Mila berlari lagi mendekati Tinah yang sedang menyiapkan makan untuk Mila.

“Pak Udi … akit,” katanya kepada Tinah.

“Iya, pak Udi sakit. Ayo .. kita ke taman sambil makan ya?” ajak Tinah sambil menggandeng tangan Mila.

Siang itu seperti janjinya, Qila dan Wisnu datang ke rumah untuk makan siang. Sudah seminggu hal itu dilakukannya, tapi Qila tak pernah menemukan cara untuk bisa mendekati Wahyudi. Perasaan gemas selalu ditahannya, karena Wahyudi selalu acuh terhadapnya. Namun Qila menganggapnya bahwa Wahyudi hanya takut kepada majikannya, apalagi kepada suaminya yang selalu mengantarnya.

“Dia memendam rasa sukanya kepadaku, dan menahannya. Kasihan. Tenanglah Wahyudi, aku pasti akan menemukan cara agar kita saling mengungkapkan isi hati. Aku tak tahan lagi Wahyudi, aku menyukai kamu. Bukankah kamu juga?” kata batin Qila yang menganggap Wahyudi sebenarnya juga menyukainya, tapi takut kepada keluarga suaminya.

“Qila, kami sudah siap, mau kemana kamu?” seru bu Kartiko ketika melihat Qila tidak segera duduk bersama suami dan kedua mertuanya di kursi makan.

“Mau mencari Mila di taman dulu Bu.”

“Mila sudah bersama Tinah, nanti saja, ayo makan dulu,” kata ibu mertuanya.

Mau tak mau Qila terpaksa kembali ke arah meja makan, dari yang semula ingin mencari Wahyudi, karena ia tak melihat Wahyudi duduk di dekat ayah mertuanya.

Qila duduk, menahan pertanyaan yang ingin dilontarkannya karena sungkan.

“Kemana si ganteng itu? Kenapa tidak melayani ayah mertuaku?” bisik batinnya.

“Wahyudi kemana?”

Qila mengangkat wajahnya karena suaminya mewakilinya bertanya tanpa diminta.

“Wahyudi sedang ke rumah sakit,” kata pak Kartiko.

“Sakit?”

“Ya sakit ingatannya itu. Kasihan dia, sampai sekarang belum mengingat semuanya,” kata pak Kartiko lagi.

“Kenapa tidak dipasang iklan saja, siapa kehilangan anggauta keluarganya, lalu sertakan foto Wahyudi, gitu,” usul Wisnu.

“Pernah ada pemikiran begitu, tapi Nano bilang, Wahyudi tidak mau. Ia ingin, ia mengingat sendiri semuanya, baru mencari keluarganya.”

“Kok aneh, apa alasannya?”

“Dia akan tetap seperti anak hilang, saat keluarganya menemukannya, sedangkan dia sendiri belum mengingat apapun. Ya kita harus menghormati keinginannya itu, sambil membantunya. Misalnya dengan membawanya ke dokter, begitu.”

“Kalau di sini dia sudah senang, biar saja begitu, tidak usah kembali ke keluarganya tidak apa-apa kan?” kata Qila yang punya pemikiran lain.

“Apa maksudmu? Tentu saja dia tidak akan senang. Mengingat-ingat tanpa bisa ingat, pastilah akan menyiksa sekali,” tegur Wisnu.

“Benar. Bagaimanapun dia harus bisa mengingatnya, dan kalau kemudian dia harus kembali kepada keluarganya, biarkan saja. Kita harus merasa senang karena bisa membantunya. Ya kan?”

“Benar kata Bapak. Dia anak baik. Aku yakin dia juga berasal dari keluarga baik-baik,” sambung bu Kartiko.

“Lama ya ke rumah sakitnya?” tanya Qila yang penasaran kalau hari itu tidak bisa melihat Wahyudi.

“Pasti dia harus melewati beberapa pemeriksaan. Biarkan saya, yang penting ada usaha untuk mengembalikan ingatannya, semoga berhasil,” kata pak Kartiko.

“Aamiin,” kata Wisnu.

Siang itu Qila makan tanpa bisa menikmati rasanya. Pikirannya hanya kepada Wahyudi. Tidak melihat sehari saja akan membuatnya resah. Karena hanya saat makan siang saja dia bisa bertemu atau tepatnya melihat Wahyudi lebih lama, menikmati getar-getar dihatinya yang sedang dimabuk cinta.. Saat sore, belum tentu bisa bertemu, karena Wisnu pasti sudah menunggunya di mobil, dan Tinah juga sudah siap menunggu di teras. Mana mungkin dia akan masuk ke dalam dan mencari keberadaan Wahyudi.

***

Siang itu mbok Tukiyo sudah siap pulang karena sayur yang dibawanya sudah hampir habis, hanya tinggal seikat dua ikat daun pepaya yang akan dibawanya pulang untuk lauk makan bersama suami dan anaknya.

Tino mendekatinya, karena ada yang ingin dikatakannya.

“Mbok, jangan pulang dulu,” katanya.

“Ada apa No?”

“Nanti saya boncengkan saja pulangnya, soalnya saya mau mengajak Sunthi belanja.”

“Siang ini?”

“Iya, kapan lagi. Saat hari pernikahan seperti di katakan bapak, kan tidak lama lagi, saya akan membelikan cincin untuk Sunthi.”

“O, bagus lah kalau begitu. Kamu masih mau jualan ?”

“Tidak Mbok, daganganku sudah habis, tinggal pulang.”

“Wah, laris manis ya le?”

“Iya, atas doa simbok kan? Itu sebabnya saya sudah siap menjadikan Sunthi sebagai istri.”

“Syukurlah, aku senang Sunthi akhirnya mendapatkan jodoh seorang laki-laki yang baik seperti kamu.”

“Biasa saja Mbok, sebagai laki-laki kan saya harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Jadi bukan karena saya baik. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan sebagai laki-laki yang ingin memiliki istri.”

“Iya, aku tahu. Dan aku suka sama kamu juga karena kamu sangat baik dan rendah hati. Tidak sombong meskipun kamu banyak uang.”

“Kalau banyak sih tidak Mbok, tapi cukuplah kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anak saya kelak.”

“Iya, simbok senang mendengarnya.”

“Sekarang simbok tunggu dulu di sini, saya akan mengambil sepeda motor saya dulu.”

“Baiklah, aku tunggu di sini, kamu tidak lama kan? Soalnya bapaknya Sunthi pasti sudah menunggu, dia tidak mau makan kalau simbok belum datang. Terkadang dia pulang lebih dulu, setelah menyetor ikan di pasar timur.”

“Iya Mbok, nanti saya bawakan bakso beberapa bungkus untuk simbok makan sama bapak. Kalau Sunti nanti biar makan bareng saya saja, setelah  belanja akan saya ajak makan di warung.”

“Baiklah kalau begitu.”

***

Tukiyo berkali-kali melongok ke arah jalan, karena istrinya belum tampak pulang.

“Bapak kalau sudah lapar, makan saja dulu, sudah saya siapkan,” kata Sunthi yang melihat kegelisahan bapaknya.

“Bukan karena bapak lapar, biasanya simbokmu kan sampai di rumah lebih dulu, dan kalaupun aku sampai duluan, selisihnya  pasti tidak lama dengan kedatangan simbokmu.”

“Mungkin simbok sambil belanja, atau beli beras, biasanya di warung langganan simbok itu selalu antre pembeli, soalnya di situ paling murah harga barang-barangnya.”

Tukiyo hampir masuk ke dalam rumah ketika mendengar sepeda motor memasuki halaman.

“Lha itu simbok, sama mas Tino.”

Wajah Tukiyo berseri, ketika melihat istrinya datang bersama calon menantunya. Memang, hampir sebulan lalu Tino sudah resmi melamar, dan Tukiyo merasa lega. Bayangan bahwa Sunthi tergila-gila sama Wahyudi sirna sudah, karena Wahyudi adalah sosok yang belum jelas asal usulnya, dan banyak kemungkinan buruk terjadi seandainya benar dia menjadi menantunya.

“Ternyata bareng sama kamu ?” sapanya ketika Tino datang dan mencium tangannya.

“Iya Pak, tadi aku disuruh menunggu dia, katanya juga mau ke sini, mau mengajak Sunthi belanja,” sambung mbok Tukiyo.

“O, ya sudah, ayo masuk, diajak makan dulu kan mbokne?”

“Tidak Pak, saya mau mengajak Sunthi belanja, sekalian makan nanti.”

“Ini, Tino membawakan kita bakso untuk makan kita Pak.”

“Wah, bagus kalau begitu,” kata Tukiyo senang.

“Sunthi, segera ganti bajumu, kasihan calon suami kamu kalau kelamaan menunggu,” kata mbok Tukiyo.

Sunthi tersenyum, melirik sekilas ke arah Tino, lalu masuk ke dalam kamarnya.

“Duduk dulu No.”

“Iya Mbok.”

***

“Mas, aku mau keluar sebentar ya,” kata Qila kepada suaminya saat mereka sudah sampai kembali di kantor.

“Mau kemana?”

“Aku mau beli ponsel lagi.”

“Beli ponsel lagi? Bukankah belum lama ini kamu sudah beli ponsel baru?”

“Kemarin jatuh, kayaknya ada yang retak. Jelek banget, pengin beli baru.”

“Kenapa tidak tadi sekalian mampir?”

“Membeli ponsel kan tidak bisa sebentar, nanti kamu marah kalau aku kelamaan.”

“Ya sudah terserah kamu saja. Tapi nggak pakai lama ya?”

“Iya, cuma beli saja, lalu kembali, nggak lama kok.”

“Minta sopir kantor agar mengantar kamu.”

“Nggak usah Mas, aku sendiri saja, cuma beli ponsel kenapa harus diantar sopir?” kata Qila sambil mengambil kunci mobil di meja suaminya.

Qila bergegas keluar, diikuti pandangan masam suaminya.

“Akhir-akhir ini kenapa Qila seperti berbeda ya? Hanya perasaanku saja, atau memang ada sesuatu yang membuatnya berbeda? Ah, tidak, mengapa aku memikirkan yang bukna-bukan. Selama ini dia selalu bersikap baik dan patuh. Kecuali satu, dia sering menghindari aku dengan alasan lelah. Ya sudah, aku harus bisa mengerti. Memang punya istri cantik harus sabar. Begitukah? Kata batin Wisnu sambil tersenyum tipis. Ia bangga punya istri cantik dan pintar, walau terkadang mengesalkan juga karena banyak permintaan, dan terlalu boros. Tapi apa sih artinya uang bagi keluarga sekaya anak pak Kartiko?

***

Mungkin Qila tidak waras, atau gila, atau sedang tergila-gila. Dia memasuki halaman rumah sakit, hanya untuk melihat apakah mobil ayah mertuanya masih ada di antara deretan mobil yang diparkir. Ada ratusan mobil disana, dan dia kemudian yakin bahwa mobil itu tak ada.

“Berarti Nano sudah membawa Wahyudi pulang. Sayang sekali. Sebenarnya aku ingin membelikan ponsel untuk Wahyudi. Hanya ini satu-satunya jalan agar aku bisa berhubungan dengan Wahyudi. Tapi kalau ada Nano bagaimana? Ah, gampang, aku beri Nano uang untuk tutup mulut, itu tidak susah kan?

Ah iya juga sih, mana ponselnya, kan aku belum beli. Seandainya dia masih di rumah sakitpun kan aku belum membawa ponselnya?

“Ya sudah, itu gampang, yang penting aku sudah beli dan kalau ada kesempatan aku akan melakukannya dengan mudah,” kata batin Qila sambil tersenyum, kemudian memutar mobilnya untuk kembali keluar dari area parkir rumah sakit itu.

***

Wahyudi memang merasa lelah. Ada beberapa tahap pemeriksaan yang tadi dilaluinya. Ia bersyukur uangnya masih cukup. Ia juga sudah membeli obat dari resep yang diberikan dokter di apotik luar, karena kalau di rumah sakit akan terlalu lama.

“Aku hanya memikirkan tugas aku, pasti bapak sudah makan.”

“Maksudnya tugas melayani bapak dan menyiapkan obat-obatnya?”

“Iya.”

“Ibu sudah mengijinkan kita pergi, berarti ibu juga sudah siap melayani sendiri suaminya, kamu tidak usah terlalu memikirkannya.”

“Iya juga sih, tapi nanti aku harus meminta maaf.”

“Kamu itu sangat perasa sekali,” kata Nano sambil tersenyum’

“Semoga obatnya bisa membantu, dan pemeriksaan tadi juga bisa mendorong ingatanku agar bisa kembali normal.”

“Semoga kamu segera pulih.”

“Aamiin, terima kasih Nano.”

Tapi ketika itu, tiba-tiba Wahyudi melihat sesuatu. Seorang gadis yang dikenalnya.

“Tolong berhentilah. Itu kan Sunthi.”

Nano memperlambat laju mobilnya.

“Sunthi. Calon istriku. Mengapa dia digandeng seorang laki-laki? Berhentilah agak di dekat mereka. Apa maksudnya ini?”

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, July 2, 2022

KEMBANG CANTIKKU 11

 

KEMBANG CANTIKKU  11

(Tien Kumalasari)

 

Qila berhenti melangkah. Dadanya berdegup kencang. Hatinya berbunga-bunga. Wahyudi menyebutkan namanya saat tidur. Berati pria tampan itu menyukainya. Qila masih berdiri di depan kamar dan ingin melonjak menari-nari, tapi sebuah panggilan mengejutkannya.

“Qila !”

“Qia terkejut dan membalikkan tubuhnya. Ibu mertuanya berdiri di pintu belakang rumah.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Mau mencari Mila di taman, ibu,” jawabnya, tentu saja berbohong.

“Qila sudah bersama ayahnya, kamu ditunggu tuh,” tegur bu Kartiko.

Qila bergegas menghampiri ibu mertuanya.

“Ya ampuun, saya tadi lewat samping rumah, langsung mau mencari dia di taman,” jawab Qila sambil tertawa kecil. Tertawa karena hatinya berbunga-bunga. Pria yang dikaguminya ternyata juga menyukainya. Duuuh, senangnya. Sore itu cukup baginya, dan sekarang dia harus pulang bersama suami dan anaknya.

Qila berlari kecil, dan kalau tidak ingat bahwa sedang bersama ibu mertuanya, pasti dia sudah berputar-putar menari dan bernyanyi.

“Ibuuu … teriak Mila yang sudah ada dalam gendongan ayahnya.

“Sayaaang, ibu mencarimu, ibu kira kamu di taman seperti biasanya,” kata Qila sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangannya ke arah Mila, untuk menggendongnya.

Wisnu masuk ke dalam mobilnya setelah mencium tangan ibunya.

“Ibu, Qila pulang dulu,” kata Qila sambil mencium tangan ibu mertuanya.

“Hati-hati nak,” pesan bu Kartiko sambil melambaikan tangannya, menunggu mobil anaknya menghilang di balik gerbang, barulah masuk ke dalam rumah.

“Kemana Qila tadi, kok bisa dicari-cari?” tanya pak Kartiko ketika istrinya sudah masuk ke dalam.

“Nggak tahu tuh anak, Mila sudah di depan dan digendong bapaknya, ee … dia malah nyari ke belakang, katanya mencari Mila di taman.”

“Apa dia tidak melihat anaknya jalan ke depan tadi?”

“Katanya lewat pintu samping, mau mencari anaknya ke taman.”

“Ya sudah, aku kira ngilang ke mana. Oh ya, apa Wahyudi sudah pulang?”

“Sudah, kelihatannya pada tidur. Kelelahan, nggak tahu kemana mereka tadi.”

“Mungkin ke desa. Rumah calon istrinya Nano.”

“Iya benar, sudah lama Nano tidak pamit untuk pergi ke sana.”

“Dulu pernah bilang, mau menikah tahun depan. Kalau sudah menikah pasti dia tak mau lagi tinggal disini.”

“Mengapa tidak mengajak istrinya tinggal di sini saja?”

“Kalau mereka mau. Kan di belakang masih ada kamar yang lebih besar, kalau dibersihkan kan masih bagus tuh.”

“Coba saja ibu bilang. Nano kan belum punya rumah, daripada ngontrak.”

“Iya nanti coba ibu tawarkan.”

***

Malam itu Wisnu merasa kesal, karena istrinya tidak segera masuk ke kamar untuk tidur.

Qila sedang duduk di ruang tengah. Televisi masih menyala, tapi walau matanya menatap ke arah sana, pikirannya lari ke sebuah kamar, dimana seorang pria sedang mengigau menyebut-nyebut namanya.

“Ya ampuun, aku tidak mengira, dia yang tadinya bersikap acuh sama aku, ternyata memendam rasa suka sama aku. Iyalah Wahyudi, pasti kamu takut, karena aku kan menantu majikan kamu, jadi kamu berpura-pura tak peduli sama aku, Tapi kamu tidak usah khawatir, Yudi, pasti ada jalan untuk kita saling mengungkapkan kata hati. Kamu tidak salah menyukai aku, karena aku cantik bukan?” kata batin Qila.

Ia terus tersenyum-senyum, membayangkan dirinya akan berdekatan dengan Wahyudi, memadu rasa saling suka, saling menatap mesra.

Tanpa disadari, Wisnu sudah berdiri di dekatnya, menatap istrinya heran, karena acara televisi tidak sedang menayangkan adegan lucu, tapi istrinya tersenyum-senyum sendiri.

“Qila, apa sih yang lucu atau menyenangkan di televisi itu?”

Qila terkejut, menoleh ke arah suaminya yang sedang berdiri di sampingnya.

“Ada apa sih Mas?”

“Kamu itu kenapa, senyum-senyum sendiri?”

“Itu, aku lihat yang lucu di televisi,” jawabnya sekenanya.

“Televisi ada apanya? Mana yang lucu? Itu berita olah raga, nggak ada yang lucu sama sekali. Kamu ngelindur ya?”

“Bukan sekarang, sebelumnya ada lawak lucu kok. Kalau sekarang memang nggak lucu lagi.”

“Ya sudah, ayo tidur.”

“Mas tidur dulu saja, aku belum ngantuk,” jawabnya sambil memegang remote, seakan sedang mencari-cari chanel yang diinginkannya.

“Qila, tapi aku ingin kamu temani tidur,” kata Wisnu setengah merengek.

“Ogah Mas, aku lagi ingin nonton. Belum ngantuk.”

“Menolak suami itu dosa.”

“Aku capek Mas, sudahlah, jangan membawa-bawa dosa, masalah begituan juga kenapa dosa sih.”

“Itu adalah dosa.”

“Jangan memaksa Mas, aku sedang tidak ingin. Tidurlah dulu, aku mau nonton film,” katanya sambil memijit-mijit remote yang dipegangnya, tapi ia tampak tak menemukan apa yang dicarinya.

Wisnu membalikkan tubuhnya, kemudian masuk kekamar dan menutupnya dengan keras. Qila sampai terlonjak kaget, karena suaminya belum pernah berlaku kasar sebelum ini.

“Hiiih, tambun! Kenapa kasar begitu sih? Aku tambah nggak suka sama kamu, tahu!!”

Lalu Qila membaringkan tubuhnya di sofa itu, dan memejamkan matanya, tanpa mematikan televisi yang sejak semula memang tak dinikmatinya. Bayangan Wahyudi memenuhi benaknya. Dalam hati dia berpikir, bagaimana caranya supaya bisa berduaan dengan Wahyudi, serta saling mengungkapkan isi hati. Pasti sangat manis. Ia mulai bosan berdampingan dengan suaminya yang dianggapnya sangat tidak menarik dan sama sekali tidak pernah dicintainya.

Qila akhirnya terlelap dengan senyuman dibibirnya. Barangkali ia telah bertemu Wahyudi dalam tidur lelapnya.

***

Wisnu terbangun dengan wajah kusut. Ia membuka matanya dan meraba di sampingnya, tapi tak mendapatkan Qila di sana.

Wisnu bangkit, dan keluar dari kamar. Dilihatnya sang istri terlelap di sofa.

“Kenapa kamu tidur di dini?” katanya sambil menggoyangkan tubuh istrinya.

Qila menggeliat, kedua tangannya terangkat, seperti sedang meraih sesuatu, atau tepatnya seseorang ingin di rangkulnya. Wisnu tersenyum, lalu mendekat, dan membalas pelukan istrinya.

“Aku menyukai kamu,” bisiknya lirih dengan mata terpejam.

“Tentu saja, dan aku mencintai kamu,” balas Wisnu sambil mencium pipi istrinya.

Qila tersenyum, lalu tiba-tiba membuka matanya.

“Iih, kamu Mas?  Aduuh, tubuhmu sangat berat. Aku merasa seperti kejatuhan sekwintal beras,” katanya sambil mendorong tubuh suaminya.

Wisnu terkejut.

“Kamu bermimpi tentang apa?” katanya dengan wajah masam karena ternyata Qila bukan sedang ingin memeluk dirinya.

“Apa? Aku bermimpi? Apa maksudmu?”

“Kamu memeluk aku, dan mengatakan bahwa kamu menyukai aku, tapi ternyata bukan aku yang kamu maksud bukan?”

“Eh, apa?” Qila terkejut.

Matanya terbelalak. Ia sedang bermimpi ketemu pria yang digandrunginya, lalu tanpa disadari dia ternyata memeluk suaminya dan membisikkan kata yang tadi diucapkannya didalam mimpinya kepada sang pujaan.

“Celaka, aku harus mengatakan apa? Mas Wisnu pasti curiga,” kata batinnya.

“Kamu sebenarnya mimpi apa? Kamu bilang suka sama entah siapa …” geram Wisnu.

“Aku mimpi? Itu … mimpi kucing?”

“Kucing?”

“Ada kucing bagus sekali, aku peluk dia, aku sangat suka. Bulunya tebal, matanya bagus, dia menjilati pipiku,” kata Qila seenaknya.

“Kucing? Bukankah kamu benci sama kucing?”

“Ya ampun Mas, itu kan hanya mimpi. Bahwa dalam kenyataannya aku tidak suka, ya aku tidak tahu,” kata Qila kemudian bangkit lalu masuk ke kamarnya. Wisnu mengikutinya.

“Kamu mau apa?”

“Mandi lah mas, kan sudah pagi.”

“Aku juga mau mandi.”

“Ya sudah, Mas saja dulu, aku mau melihat Mila, apa Tinah sudah menyiapkan semua kebutuhannya,” kata Qila sambil membalikkan tubuhnya, keluar dari kamar.

“Masih pagi benar, paling Mila belum bangun. Hanya alasan saja dia tuh,” gumam Wisnu dengan nada kecewa.

Wisnu menghela napas kesal. Sejak semalam Qila menolaknya. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Tapi kemudian ia menepiskannya. Barangkali Qila memang sedang lelah, ia tak ingin memaksanya. Dengan langkah gontai dia masuk ke kamar mandi.

***

Hari masih remang ketika Wahyudi keluar dari kamarnya. Ia telah selesai shalat, dan melihat di meja diluar kamar sudah tersedia dua cangkir kopi. Simbok selalu menyiapkannya untuk Wahyudi dan Nano.

Wahyudi duduk, dan saat dia ingin menghirup kopinya, Nano keluar dari kamar.

“Silakan, masih panas nih,” kata Wahyudi.

Nano duduk dan meraih cangkir kopinya.

“Semalam tidur nyenyak sekali ya? Pasti kamu sangat lelah, hampir seharian mengikuti aku,” kata Nano.

“Tidak juga, sore saat pulang kan kita langsung tidur, jadi lelahnya sudah hilang.”

“Iya sih.”

“Aku heran, selalu saja aku mimpi tentang gadis kecil itu.”

“Ah ya, yang namanya Qila?”

“Benar. Berkali-kali aku memimpikan gadis itu.”

“Jangan-jangan Qila adalah nama anakmu?”

“Anakku? Masa sih aku sudah punya anak?” kata Wahyudi sambil mengerutkan keningnya.

“Kalau itu benar, aku ikut kecewa dong,” kata Nano sambil kembali menghirup kopinya.

“Kenapa kecewa?

“Aku ingin kamu berjodoh dengan Murni.”

“Ah, gadis itu.”

“Apa kamu merasa ada tanda-tanda suka di hati kamu?”

“Suka? Gadis itu cantik. Tapi masih sangat muda.”

“Umur kamu berapa sih?”

“Umurku? Berapa ya, mana aku tahu? Aku kan tidak ingat apapun.”

“Oh, iya juga sih. Tapi menurutku kamu tidak kelihatan tua. Paling seumuran sama aku.”

“Benarkah? Maksudnya, masih pantas jadi perjaka, begitu?”

“Ya, masih pantas kok. Mau ya, jadi ipar aku?”

“Gadis itu menyenangkan, entahlah apa aku suka ya. Tapi aku bingung, kata anaknya pak Tukiyo, aku ini calon suaminya.”

“Tapi kamu bilang bahwa nggak suka sama gadis itu.”

“Benar, aku heran. Mengapa aku melamar gadis yang aku tidak suka?”

“Barangkali saat kamu melamar, kamu sebenarnya suka. Setelah ingatanmu hilang, rasa suka itu juga hilang.”

Wahyudi menggaruk-garuk kepalanya.

“Kapan kamu ada waktu? Aku ingin periksa ke dokter. Tapi apa dokter bisa mengembalikan ingatanku ya?”

“Kalau kamu bilang sama ibu, pasti dia akan menyuruh aku mengantarkan kamu. Masalah dokter itu bisa atau tidak mengembalikan ingatan kamu, itu urusan nanti. Yang penting kita berusaha. Pasti lah dokter akan tahu apa yang harus dilakukannya untuk menolong pasiennya.”

“Nanti aku bilang sama ibu. Barangkali setelah menyiapkan obat untuk bapak, aku bisa minta ijin untuk pergi ke dokter.”

“Bagus. Sekarang aku mau mengeluarkan mobil dulu, siapa tahu ibu mau bepergian pagi-pagi.”

“Aku juga mau melihat, apakah bapak sudah bangun,” kata Wahyudi sambil beranjak berdiri, mengikuti Nano yang sudah pergi ke garasi lebih dulu.

***

“Besok? Kenapa tidak hari ini saja ke dokternya?” kata bu Kartiko ketika Wahyudi pamit mau ke dokter.

“Tapi maaf, saya akan minta agar Nano mengantarkan saya ya Bu.”

“Tentu saja, kamu kan tidak bisa jalan sendiri. Tanpa diantar kamu mungkin tidak bisa pulang kemari.

“Apa ibu tidak akan pergi ke mana-mana hari ini?”

“Tidak. Kalau kamu mau ke dokter hari ini, tidak apa-apa.”

“Baiklah Bu, terima kasih. Semoga dengan pengobatan ini ingatan saya bisa segera pulih.”

“Berusaha itu perlu, tapi teruslah berdoa, agar usaha itu bisa membuahkan hasil.”

“Saya selalu mohon dalam shalat saya Bu.”

“Bagus Yudi, aku juga akan selalu mendoakan kamu.”

“Ada baiknya ibu bawain uang lagi untuk Wahyudi, siapa tahu kurang,” kata pak Kartiko.

“Tidak usah Pak, biar pakai uang saya sendiri saja, nanti kalau kurang saya _”

“Tidak boleh menolak. Biaya rumah sakit bukan sekedar membayar dokternya, tapi juga obat-obatnya,” potong pak Kartiko yang sudah menduga kalau Wahyudi akan menolak.

“Tapi … “

“Kalau uangnya sisa, bisa untuk pengobatan selanjutnya. Aku yakin pengobatan setiap penyakit tidak cukup sekali berobat lalu sembuh,” kata bu Kartiko yang kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Wahyudi tidak mengucapkan lagi kata bantahan.

Wahyudi terpaksa tak menjawab lagi, lalu mengambilkan obat untuk pak Kartiko.

“Tapi Bu, ini obat bapak tinggal untuk hari ini saja.”

“Benar Yud, nanti sore bapak akan konrol ke dokter.”

“Sore ya bu”

“Ya, sore, bapak ke dokter pribadi saja, tidak ke rumah sakit, nanti antre lama malah tensi bapak jadi naik. Bapak itu kan nggak sabaran.”

“Iya Bu.”

“Aku kalau melihat banyak orang juga pusing,” sambung pak Kartiko.

“Ibuuu, saya bawakan bubur mutiara untuk bapak dan ibu,” tiba-tiba Qila muncul, diiringi Tinah yang menggendong Mila.

“Kamu kalau datang selalu membuat orang terkejut,” tegur bu Kartiko.

Qila tertawa sambil meletakkan bungkusan di meja.

“Qila langsung pamit ya Bu, Pak,” kata Qila sambil mencium tangan bapak dan ibu mertuanya, tapi ketika memegang tangan bapak mertuanya, matanya melirik ke arah Wahyudi, yang sama sekali tak melihat ke arahnya.

***

Wahyudi turun dari mobil, setelah Nano memarkir mobilnya di parkiran rumah sakit.

Keduanya kemudian menuju ke arah lobi rumah sakit, bermaksud mendaftar dulu. Tapi tiba-tiba mata Wahyudi menatap sesosok anak kecil berkucir dua yang digendong oleh seorang wanita cantik.

Wahyudi terpaku ditempatnya, terus menatap mereka. Ternyata mereka menuju ke sebuah mobil, yang sudah siap di depan lobi, lalu keduanya mendekati mobil itu, di mana seorang laki-laki ganteng kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk keduanya.

Mulut Wahyudi yang semula terasa kelu, baru bisa berteriak ketika mobil itu sudah berlalu.

“Qilaaa … Qilaaa… “

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Friday, July 1, 2022

KEMBANG CANTIKKU 10

 

KEMBANG CANTIKKU  10

(Tien Kumalasari)                       

 

“Nah, ini Yud, namanya Murni. Adiknya Murti, tapi agak galak dia,” kata Nano sambil tertawa.

Murni merengut, tapi ia mengulurkan tangannya ketika Wahyudi menyalaminya.

“Wahyudi …” kata Wahyudi sambil terus memandangi Murni, membuat Murni tersipu lalu menundukkan kepala.

“Aku buatkan minum dulu ya Mas,” kata Murti.

“Biar aku saja,” kata Murni yang kemudian langsung berlari ke dalam rumah. Rupanya dia mendapatkan jalan untuk menghindari tatapan Wahyudi yang membuatnya risih dan malu.

Tapi ketika sampai di belakang, ternyata ibunya sudah membuatkan minum untuk tamu-tamu di rumahnya.

“Ini Murni, sudah ibu buatkan, langsung bawa ke depan sana.”

“Iih, aku malu Bu,” kata Murni yang kemudian malah duduk di kursi.

“Gimana sih kamu ini,  cuma menyajikan minum saja kok malu. Lagian apa kamu nggak kenal sama calon ipar kamu?” tegur ibunya.

“Kalau mas Nano aku kenal, satunya itu …””

“Lha kalau belum kenal ya kenalan dulu, Kalau sudah kenalan kan pasti kenal.”

“Malu aku Bu, dilihatin terus. Apa dia belum pernah melihat manusia ya ?”

“Sudah, ayo bawa ke depan, sama ada singkong  goreng itu, dibawa sekalian,” ibunya memaksa.

Murni mengambil nampan yang sudah disiapkan ibunya, dengan beberapa gelas minuman teh di atasnya.

Ia menyajikannya dengan wajah masam.

Tapi Murti melihatnya sambil tersenyum. Ia membantu meletakkan gelas-gelas minum itu di meja. Lalu Murni kembali ke belakang. Ia heran, jantungnya terasa berdebar lebih kencang.

“Apa sih ini, kenapa aku berdebar-debar?” kata batinnya.

“Ini singkong gorengnya, bawa sekalian,” perintah ibunya.

“Hiih, kenapa tadi nggak sekalian? Aku harus bolak-balik ketemu dia dong.”

Sang ibu tertawa.

“Memangnya kalau ketemu kenapa?”

“Aku ganti baju dulu ya Bu.”

“Lha iya, tadi ibu juga mau bilang, dari tadi masih pakai seragam sekolah.”

Bu Lasmi, sang ibu, hanya tersenyum melihat Murni berlari-lari kecil masuk ke dalam kamarnya.

Bu Lasmi seorang janda, yang mengandalkan keahliannya menjahit, demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Ia melakukannya sejak suaminya meninggal tujuh tahun yang lalu, dimana kemudian dia harus membesarkan dan menyekolahkan ke dua anaknya. Almarhum suaminya adalah seorang guru SD yang uang pensiunnya tidak seberapa, sehingga ia harus mencari tambahan dengan menerima jahitan. Murti anak sulungnya sudah lulus dua tahun yang lalu, dan sudah siap menikah ketika Marno melamarnya. Murni sudah kelas tiga SMA dan sebentar lagi diharapkannya lulus.

Dikampung itu, seorang gadis berumur tujuh belas sudah pantas untuk menikah. Kalau lebih malah dianggap tidak laku, dan itu sangat memalukan. Itu sebabnya, kedatangan Nano bersama seorang pria gagah itu membuat bu Lasmi berharap agar pria itu juga menyukai gadis bungsunya.

“Mana Bu, yang harus dibawa lagi? Ini ya?” tanya Murni yang sudah menggantikan seragam sekolahnya dengan baju rumahan.

“Iya, kan sudah ibu siapkan, kamu tinggal membawanya. Ingat, kamu harus bersikap baik kepada tamu kita,” pesan bu Lasmi wanti-wanti, karena Murni terkadang menampakkan sifatnya yang sedikit galak.

“Iya, aku tahu,” jawab Murni dengan cemberut.

“Senyum dong, kalau cemberut begitu, tamunya bisa takut.”

Murni menarik bibirnya, agar kelihatan seperti tersenyum.

“Masa sih, aku harus senyum-senyum di depan orang yang baru aku kenal. Nanti aku dikira kegenitan, bagaimana?” kata Murni dalam hati, karena dia tak berani membantah perkataan ibunya.

Murni muncul dan meletakkan sepiring singkong goreng, lalu Murti menariknya agar duduk di sebelahnya.

Murni mengerucutkan mulutnya, tapi ia menurut ketika kakaknya menyuruhnya duduk.

“Silakan diminum, dan itu singkong goreng dari kebun,” kata Murti mempersilakan.

“Baiklah, terima kasih. Ayo di minum,” ajaknya sambil menoleh ke arah Wahyudi yang sejak tadi diam saja.

Wahyudi mengangguk, lalu meraih gelas minumnya, sambil melirik ke arah Murni yang lebih banyak menunduk.

Wahyudi heran, ketika kemudian dia tiba-tiba menilai gadis kecil yang baru dikenalnya. Murni memang cantik. Ia tampak lebih dewasa ketika sudah berganti pakaian rumahan, bukan seragam sekolah yang dipakai sebelumnya. Wahyudi tersenyum tipis.

“Dik Murni klas berapa?” tanya Wahyudi yang bingung harus bicara apa.

“Tiga,” jawabnya lirih.

“Berapa? Yang keras dong, nggak dengar aku,” kata Wahyudi yang timbul rasa kocaknya ketika melihat gadis kecil yang duduk sambil malu-malu di hadapannya.

“Tiga,” jawabnya lebih keras.

“O, tiga, habis tadi suaranya nggak kedengaran. Sudah hampir lulus dong.”

“Ya.”

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” ajak Nano.

“Jalan-jalan Mas? Kemana?”

“Namanya juga jalan-jalan, ya kemana saja, yang penting jalan. Lagian aku juga mau beli sesuatu untuk ibu, tadi tidak sempat belanja,” kata Nano.

“Soalnya Nano keburu ingin segera ketemu pacarnya,” kata Wahyudi.

Nano memukul lengan Wahyudi pelan.

“Tahu aja kamu.”

“Tahu dong. Kelihatan kan, orang kalau lagi terburu-buru.”

“Baiklah, bagaimana, kalian mau kan?”

“Kalian? Berarti aku, sama Murni juga?”

“Iya dong, kita berempat, jadi dua pasang, asyik kan?” kata Nano.

“Aku nggak mau,” kata Murni tiba-tiba.

“Eh, kamu harus mau, masa aku perempuan sendiri.”

“Tapi …”

“Sudah, ayo ganti baju, lalu pamit sama ibu,” Murti memaksa, dan Murni tak bisa apa-apa.

***

Nano membeli dua potong baju untuk calon ibu mertuanya, dan untuk Murti dan Murni, masing-masing satu potong.

Wahyudi merasa aneh, berdekatan dengan Murni seperti ada yang mengusik jiwanya. Kebekuan hatinya karena melupakan masa lalunya, perlahan cair. Keramahan Murti dan celoteh Murni yang mulai bisa menanggapi setiap canda yang dilontarkannya, membuat hatinya terasa lain.

“Gadis kecil ini selain cantik, juga menarik, apa salahnya kalau aku suka?”” kata batin Wahyudi.

Tapi tiba-tiba Wahyudi teringat bahwa dia sudah punya calon istri. Wajahnya muram tiba-tiba.

“Tapi di mana sekarang calon istriku?” Wahyudi masih berbicara dengan batinnya.

Selesai berbelanja, mereka mampir di sebuah warung mie di dekat pasar.

“Aku selalu suka makan di sini. Mie nya enak. Atau karena aku jarang makan mie ya?” gumam Nano saat mereka makan.

“Ini satu-satunya warung mie di dekat pasar. Tapi memang enak.”

“Aku setuju, ini memang enak,” sambung Wahyudi.

“Kok Murni tidak komentar?”

“Aku sudah sering beli mie di sini, mau komentar apa?” kata Murni.

“Ya sesuka kamu lah, enak atau kurang banyak porsinya, begitu,” kata Wahyudi sekenanya.

“Aku sudah tahu kalau enak. Tapi masalah porsi, wah … ini juga sudah membuat aku kekenyangan,” kata Murni yang tak berani bertatap muka langsung dengan pria di depannya.

“Benar, anak gadis nggak boleh makan terlalu banyak, nanti perutmu bisa gendut, lalu badan ikut gemuk seperti bola,” sambung Nano.

“Menggelinding dong aku,” kata Murni yang mulai lancar bicara.

“Bagus kalau kamu bulat seperti bola, aku bisa main bola setiap hari,” kata Murti.

“Iih, nggak bakalan aku gemuk seperti bola. Tiap hari aku minum jamu, tahu,” sungut Murni.

“Haa, jamu? Aku ingin sekali minum jamu,” kata Wahyudi.

“Kalau pagi di sini ada yang jual jamu,” kata Murti.

“Jamu apa saja?” tanya Nano.

“Jamu macam-macam.”

“Jamu macam-macam itu untuk mengobati apa?” canda Wahyudi.

“Namanya bukan jamu macam-macam Mas, jamu itu macamnya banyak. Jamu kates campur temulawak, itu untuk menambah nafsu makan, jamu galian putri, itu untuk gadis dan wanita, supaya selalu kelihatan singset. Ada jamu kunyit asem, jamu beras kencur…”

“Kok kamu sudah seperti bakul jamu sih?” kata Nano.

Murti tertawa, tapi Wahyudi lebih tertarik melihat tawa Murni, yang menampakkan deretan gigi putih yang tampak rapi.

“Gadis kecil ini ternyata benar-benar cantik,” kata batin Wahyudi lagi.

Mereka pulang setelah kenyang, tapi tampaknya kedua pria tampan itu belum ingin beranjak pulang ke rumah majikan mereka.

***

“Mas, kita makan siang di rumah ibu saja ya?” ajak Qila ketika saat istirahat makan siang.

“Tumben kamu tidak ingin makan di restoran.”

“Ibu kemarin cerita, simbok masakannya enak sekali, aku jadi ingin makan di sana.”

“Kamu kan sudah tahu kalau simbok masakannya enak, kenapa baru sekarang ingin makan di rumah?”

“Tiba-tiba saja aku ingin.”

“Ya sudah, terserah kamu saja,”

“Kalau begitu sekarang saja, tunggu apa lagi?”

“Iya, aku selesaikan ini dulu. Kenapa sih kamu ini, tiba-tiba ingin cepat-cepat pergi? Kamu kan tahu aku harus menyelesaikan ini?”

“Soalnya aku sudah lapar Mas,” rengek Qila.

“Kalau tidak bisa menahan lapar ya makan saja di kantin, sana.”

“Ogah, kan aku pengin makan di rumah ibu.”

“Kalau begitu hentikan ocehan kamu biar ini segera rampung,” kesal Wisnu.

Qila menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya. Bohong kalau dia ingin mencicipi masakan simbok, Ada yang lebih menarik hatinya dan itu tak bisa ditahannya.

***

Bu Kartiko yang sedang melayani suaminya, terkejut melihat Wisnu dan Qila muncul di ruang makan.

“Kalian?” kata pak Kartiko heran.

“Qila ingin makan masakan simbok, jadi kami datang kemari,” kata Wisnu.

“Benar begitu, Qila?” tanya bu Kartiko.

Qila tidak menjawab, karena dia asyik melihat ke sekeliling. Ada yang dicarinya, tapi tidak tampak juga.

“Qila, kamu itu sedang apa? Kok longak longok nggak jelas, ditanya ibu tuh,” tegur suaminya.

“Oh.. eh.. apa Bu? Saya sedang … mencari Mila, kok nggak kelihatan,” elak Qila.

“Mila tidur di kamar. Setelah makan dia langsung tidur,” jawab bu Kartiko.

“Oh, mm … Ibu tadi bilang apa?”

“Apa benar kamu pengin makan masakan simbok?”

“Iya Bu, ingin sekali,” katanya sambil duduk di samping suaminya.

“Mbook, tolong tambahin piring untuk pak Wisnu dan istrinya,” teriak bu Kartiko.

“Masak apa simbok hari ini?”

“Hanya sayur bening, sama tahu tempe bacem, tapi ada ayam bakar juga.”

Qila mengernyitkan hidungnya. Sayur bening, dia mana suka? Tapi ia tak berani komentar, masih untung ada ayam bakar.

Simbok datang membawa tambahan piring dan sendok untuk Wisnu serta istrinya.

“Kenapa hanya masak sayur bening Mbok? Aku ingin garang asem, atau rawon,” celetuk Qila.

“Saya tidak tahu kalau bu Qila mau datang. Bapak sama ibu kan suka sayur bening.”

“Bapak tidak boleh terlalu banyak makan santan dan yang pedas-pedas, kalau kamu ingin dimasakin sesuatu, bilang saja sama simbok kapan kamu mau datang kemari,” kata Bu Kartiko.

“Iya, saya mau setiap hari makan di sini Bu, bukankah begitu Mas? Kalau Mas tidak mau, biar aku sendiri saja yang makan di sini.,” kata Qila sambil mencomot sepotong paha ayam dan dimakannya begitu saja.”

“Terserah kamu saja,” kata Wisnu yang kemudian mulai makan.

“Bu, besok saya mau dimasakin rawon, sama telur asin ya,” kata Qila tanpa malu-malu.

“Iya, nanti aku bilang sama simbok, sekarang makanlah. Bapak sudah selesai, aku mau menyiapkan obatnya.

“Mengapa Ibu sendiri yang menyiapkan obat? Bukankah ada … Wahyudi?” akhirnya tak tahan Qila untuk tidak mengatakannya

“Hari ini Wahyudi dan Nano libur. Sepertinya mereka pergi berboncengan, nggak tahu pergi kemana,” kata bu Kartiko.

“Libur? Apa bukan Minggu mereka mendapat jatah libur?” tanya Wisnu, sementara wajah Qila langsung muram tertutup mendung.

“Ternyata si ganteng itu libur? Susah payah aku kemari agar bisa bertemu dia,” kata batinnya.

“Mereka tidak selalu libur Minggu, karena kemarin aku ada perlu dan butuh Nano untuk mengantarkan aku, jadi liburnya hari ini,” terang bu Kartiko.

“Kan Nano yang liburnya diundur, kenapa Wahyudi ikutan libur hari ini?” tanya Qila.

“Aku sama bapakmu setuju meliburkan mereka di hari yang sama, supaya mereka bisa berlibur bersama. Kalau sendiri-sendiri, barangkali mereka kurang senang, apalagi Wahyudi yang masih bingung.”

“Ibu sangat memanjakan karyawan,” celetuk Qila.

“Bukan memanjakan, hanya mencoba membuat mereka nyaman, dan tidak merasa diperbudak, karena mereka ibu anggap sebagai keluarga,” terang bu Kartiko lagi.

“Kamu ingin makan masakans simbok, tapi makan hanya sedikit?” tegur Wisnu kepada istrinya.

“Aku sudah makan ayam bakar, kenyang. Aku kan tidak suka sayur bening,” kilah Qila.

“Ya sudah, kalau begitu cepatlah, kita harus segera kembali ke kantor.”

Qila hanya mengangguk tak bersemangat.

“Semoga nanti sore saat menjemput Mila, Wahyudi sudah kembali,” kata batinnya.

***

Sore itu ketika mereka menjemput Mila, Qila berjalan ke arah belakang. Ia melihat sepeda motor Nano sudah terparkir di samping rumah, berarti Wahyudi juga sudah kembali. Wajah Qila berseri. Ia pura-pura mencari Mila di taman belakang, dengan melewati kamar Wahyudi.

Sepi tak ada suara, tampaknya Nano dan Wahyudi sedang tidur kelelahan.

Qila berendap-endap, hanya ingin melihat wajah Wahyudi sedikit saja, entah nanti dengan alasan apa. Tiba-tiba Qila terkejut, mendengar suara dari dalam kamar Wahyudi.

“Qila … Qila .,..”

***

Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA 05

  AKU ANAK SIAPA  05 (Tien Kumalasari)   Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang y ang...