MELANI KEKASIHKU 21
(Tien Kumalasari)
“Hallo...,” suara dari seberang, seorang laki-laki.
“Ada yang bisa saya bantu ?” tanya Andra.
“Ya, tentu, apakah anda yang memasang iklan di koran-koran beberapa hari yang lalu ?”
“Ya.. ya, ini saya bicara dengan siapa ya?”
“Saya ini kerabatnya mas Angoro.”
“Oh, begitu ya. Kalau begitu barangkali anda bisa mengatakan dimana tante saya berada.”
“Anindita? Saat ini beliau sedang sakit, nanti kalau saya datang ke Solo akan bercerita banyak. Saya ini mendapat mandat dari mas Anggoro, yang saat ini sedang mencari-cari puterinya.”
“Oh, begitukah ? Bagaimana dia bisa berpisah dengan puterinya?”
“Itulah, ada musibah beberapa tahun lalu. Melani diculik orang.”
“Tolong bilang pada om Anggoro bahwa Melani disini sudah ketemu keluarganya.”
“Oh, benarkah?” orang itu seperti berteriak senang.
“Ya, kebetulan belum lama ini saya menemukannya, dan itu sebabnya saya kemudian memasang iklan, agar kami bisa bertemu ibu kandungnya juga.”
“Syukurlah, iklan anda tidak sia-sia. Kerabat mas Anggoro telah membacanya, dan menyuruh saya datang kemari untuk membuktikan kebenarannya.”
“Saya akan lebih senang kalau om Anggoro yang datang.”
“Tentu, dia berusaha sekali datang, tapi mohon dituliskan alamat dimana Melani berada.”
“Saat ini Melani masih berada dirumahnya bersama ibu angkatnya. Alamat persisnya saya kurang jelas, tapi saya tahu tempatnya.”
“Dimana ? Hari ini juga saya akan berangkat.”
“Kampungnya saya kurang tahu namanya, ada di daerah Palur. Tapi kalau siang Melani bekerja disebuat toko kelontong.”
“Bagus, karena saya kemungkinannya akan tiba waktu siang, maka sebaiknya saya menemui ditempat dia bekerja saja. Tolong tuliskan alamatnya, ini nomor WA saya, kalau ditulis kan lebih jelas. Nama tokonya dan letaknya di jalan apa.”
“Baiklah, akan segera saya tuliskan.”
Lalu Andra menuliskan toko dimana Melani bekerja dan toko itu terletak di jalan apa.”
Andra menarik napas lega.
“Dari siapa?” tanya Panji.
“Dia kerabatnya om Anggoro, aduh, saya lupa menanyakan namanya.”
“Dia mengatakan kabarnya tante kamu?”
“Dia hanya bilang sekilas, bahwa tante sedang sakit, tapi nanti dia akan menceritakan semuanya setelah datang.”
“Mengapa bukan Anggoro yang datang?”
“Katanya akan diusahakan. Mungkin sedang menemani tante Anindita, karena tadi dia bilang bahwa tante sedang sakit.”
“Kamu mengirimi alamat kita?”
“Tidak, hanya alamat toko dimana Melani bekerja.”
“Sembrono kamu. Bagaimana kalau Melani langsung dibawa ke Jakarta?”
“Masa sih pak? Tak mungkin juga Melani mau, kemanapun dia pergi kan simbok harus tahu.”
“Tapi perasaanku kok nggak enak sih Ndra, coba tilpun Melani, beri tahu dia tentang orang yang akan menemuinya, dan bilang kalau sudah ketemu, ajak dia ke rumah kita. Atau kamu nanti harus menjemputnya. Tapi sebaiknya telpon dulu Melani,” pesan Panji.
“Iya Ndra, perasaanku kok juga nggak enak, Nanti kalau orang yang katanya kerabatnya Anggoro itu datang, suruh Melani mengajaknya kemari,” kata Maruti yang sudah ada diantara mereka.
“Baik bu, nanti di kantor Andra telpon Melani. “
“Mengapa harus di kantor, sekarang saja. Nanti kamu sibuk mengurus pekerjaan jadi lupa menelpon.”
“Iya Ndra, telpon sekarang, biar bapak berangkat dulu, kamu berangkatnya setelah menelpon,” sambung Panji.
“Kalau bisa kamu telpon dulu orangnya, tanyakan siapa namanya, supaya nanti Melani tidak bingung,” sambung Maruti.
“Iya, ibumu benar Ndra,” kata Panji sambil mendekati mobilnya. Maruti mengikuti di belakangnya.
Andra mengangguk, sementara Panji berangkat ke kantor terlebih dulu. Tapi ternyata nomor telpon orang itu sudah tidak aktif lagi. Berkali-kali dicobanya, hasilnya nihil.
“Bagaimana Ndra?” tanya Maruti yang sudah kembali setelah suaminya pergi.
“Nomornya tidak aktif.”
“Nah, kok mencurigakan begitu. Kenapa baru saja menelpon kemudian sudah tidak lagi aktif?”
“Mungkin dia tadi sudah di bandara, kalau sudah berada di pesawat pasti hp harus dimatikan bu. Soalnya dia mau berangkah hari ini juga, mungkin ketika mnelpon dia sudah di bandara.”
“Iya juga sih.”
“Andra menelpon Melani saja dulu bu.”
Maruti mengangguk, dia menunggui ketika Andra menelpon Melani.
“Ya mas..” jawab Melani ketika Andra menelponnya.
“Kamu sibuk ?”
“Sedang mau buka mas, ada apa?”
“Dengar ya, nanti akan ada orang yang menemui kamu..”
“Siapa mas, aku deg-degan nih.”
“Dia kerabat ayah kamu.”
“Kerabat ayah saya ?”
“Iya, dia disuruh ayah kamu untuk menemui kamu.”
“Berarti bapak sama ibuku sudah ketemu?” tanya Melani yang terdengar riang.
“Tampaknya hampir ketemu. Dia bilang ayah kamu memang sedang mencari-cari kamu.”
“Dimana ibuku?”
“Katanya lagi sakit, nanti dia akan menjelaskannya. Mungkin ketika itu dia sedang tergesa-gesa. Dan perkiraanku dia sudah ada di pesawat.”
“Aku nanti harus bagaimana ?”
“Kalau dia datang, kamu harus mengajaknya ke rumah terlebih dulu.”
“Ketemu bude Maruti ?”
“Iya, dia harus menceritakan semuanya. Jangan sampai dia langsung pergi, apalagi dengan mengajak kamu juga.”
“Iya mas.”
“Ya sudah, sekali lagi, ajak dia kerumah agar ketemu bude kamu.”
“Iya mas.”
Andra merasa lega setelah menelpon Melani, dan merasa bahwa sepupunya benar-benar sudah aman.
***
Pak Cokro duduk sendirian di teras. Sudah beberapa hari Abi tidak pulang ke rumah. Bu Cokro sendiri sebenarnya juga gelisah. Tak biasanya Abi ngambeg sampai berhari-hari. Dan karena gelisah itu beberapa hari bu Cokro juga tidak pergi kemana-mana.
“Kemana ya pak, perginya Abi? Ibu menelpon ke kantor baru saja, katanya Abi tidak ke kantor sudah tiga hari ini.”
“Mana bapak tahu? Kan dia perginya tanpa pamit,” jawab pak Cokro acuh tak acuh.
“Ini semua gara-gara perempuan itu, Dasar tak tahu malu. Jangan-jangan Abi malah ada dirumahnya.”
“Ini bukan gara-gara siapa-siapa. Ini gara-gara ibu.”
“Kok bisa gara-gara ibu? Bapak kan tahu bahwa ibu hanya ingin menyelamatkannya.”
“Menyelamatkan dari apa? Memangnya Abi dalam bahaya ?”
“Iya dong pak. Kalau dia mendapatkan isteri yang miskin, pasti isterinya itu hanya akan menghambur-hamburkan uangnya.”
“Jangan menuduh tanpa bukti. Bukan semua orang miskin itu jahat. Dan bukan semua orang kaya itu baik.”
“Ini bukan masalah baik atau tidak baik. Secara logika saja lah pak, kalau orang miskin ingin mendapat suami kaya, itu kan karena dia menginginkan hartanya saja. Apakah nanti Abi akan bahagia kalau isterinya hanya pintar membuang-buang uang?”
“Ini masalah tuduhan kamu itu lho bu. Kamu menuduh bahwa nanti Melani akan menghamburkan uang, padahal belum ada buktinya. Dan kamu merasa pasti karena dia orang tidak punya. Kamu tahu tidak? Kamu sendiri itu yang suka menghambur-hamburkan uang. Arisan ke sana, arisan ke sini, pesta ke sana, pesta ke sini. Lalu piknik ke gunung, ke pantai bersama teman-teman kamu. Apa itu tidak menghambur-hamburkan uang?”
“Bapak itu aneh. Kalau aku menghambur-hamburkan uang, itu kan karena aku punya uang. Lha kalau Melani yang menghamburkan uang, itu namanya apa.. orang tidak punya, yang dihamburkan ya uang suaminya.”
“Diamlah bu, kamu itu jahat, tahu nggak sih. Mentang-mentang kamu kaya, lalu kamu menghina orang tak punya.”
“Bukan menghina pak, berjaga-jaga saja.”
“Sudah, jangan omong apa-apa lagi, sakit kupingku mendengarnya,” kata pak Cokro sambil berdiri.
“Mau kemana pak ?”
“Mau cari sarapan, sudah agak siang, aku lapar.”
“Aku buatkan sebentar,” teriak bu Cokro karena pak Cokro terus saja melangkah.”
“Tidak, aku ingin sarapan diluar.”
“Jalan kaki?”
“Ya..”
“Aku temani..” bu Cokro berteriak semakin keras.
“Tidak usah,” kata pak Cokro yang sudah keluar dari halaman.
Bu Cokro mengeluh kesal, dan merasa tidak bersalah karena memilihkan yang terbaik untuk anaknya. Kemudian ia langsung ke dapur, membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
***
Ternyata pak Cokro naik taksi untuk pergi ke kantor anaknya. Tapi seperti dikatakan oleh isterinya tadi, Abi tidak ke kantor selama berhari-hari.
“Pak Abi hanya memberi perintah melalui WA, tentang apa yang harus kami lakukan,” ujar sekretarisnya.
Pak Cokro duduk di kursi kerja Abi. Membuka-buka map yang ada disana. Tapi pak Cokro enggan membacanya. Ia sudah menyerahkan seluruh perusahaan kepada anaknya, dan menyerahkan semua kebijakan di tangannya.
Tiba-tiba telpon di meja Abi berdering.
Pak Cokro segera mengangkatnya, dan sangat terkejut karena Abi yang menelponnya.
“Abi?”
“Lho, Bapak kok ada disini ?”
“Bapak sedih karena kamu tidak pulang. Kamu dimana ?”
“Abi sedang menenangkan diri Pak.”
“Ibumu mengira kamu ada dirumah Melani.”
“Tidak, Melani kan menolak Abi, mana mungkin Abi kesana?”
“Melani menolak kamu ?”
“Iya ..” jawab Abi. Pak Cokro menangkap nada sedih pada ucapan Abi.
Tuh kan, ibunya Abi salah sangka. Melani bukan bersorak gembira karena dicintai seorang Abisatya yang kaya raya. Dia menolaknya.
“Apakah itu karena ibumu ?”
“Katanya dia sudah punya pacar. Tapi Abi tidak percaya. Kemungkinannya juga karena ibu. Siapa sih yang tidak sakit hati kalau dihina seperti itu?”
“Iya Bi, pastinya begitu. Tapi kamu harus bersabar ya Bi, kalau memang dia itu jodoh kamu, suatu saat kamu pasti bisa mendapatkannya.”
“Iya Pak, aamiin.”
“Sekarang kamu pulanglah, tampaknya ibumu juga gelisah karena kamu tak pulang selama berhari-hari.”
“Apa ibu sudah bisa meredam keinginannya?”
“Tampaknya belum.”
“Abi belum mau pulang, apalagi sore ini Abi mau ke Jakarta.”
“Kamu mau ke Jakarta?”
“Iya Pak.. ada client yang harus Abi temui di sana. Itu sebabnya Abi menelpon, mau berpesan sama sekretaris Abi.
“Oh, baiklah, bapak panggilkan dia, bapak mau jalan-jalan dulu mencari sarapan.”
“Bapak bersama ibu?”
“Tidak, sendirian, sudah.. bapak panggil dulu sekretaris kamu.”
***
Hari itu Melani merasa tak tenang. Andra mengatakan bahwa kerabat ayahnya akan datang. Apakah dia akan membawanya ke Jakarta?
“Tidak, aku tidak akan mau. Aku lebih nyaman tinggal di kota ini, apalagi bude Maruti menyuruh aku tinggal di rumahnya bersama simbok,” pikir Melani sambil bersiap akan istirahat.
Pekerjaannya sudah selesai, lalu ia berpamit kepada temannya untuk membeli kerupuk sebagai teman makan siangnya. Tadi simbok membawakan nasi oseng untuk bekalnya, tapi lupa membawakan kerupuk kesukaannya.
Tapi begitu ia keluar, seorang laki-laki tinggi besar sudah menunggunya.
“Selamat siang,” sapa laki-laki itu.
“Selamat siang, bapak mau membeli sesuatu? Ada yang akan melayani bapak disana,” kata Melani sambil menunjuk ke arah depan toko.
“Tidak, aku ingin bertemu dengan Melani.”
Jantung Melani berdetak kencang. Inikah yang kata Andra kerabat ayahnya? Wajahnya kok serem begitu?
“Bisakah? Apakah dia ada ?”
“Saya Melani,” jawab Melani agak ragu.
“Haaa, Melani.. aduuh, pasti ayah kamu akan sangat gembira aku bisa menemukan kamu,” kata laki-laki yang ternyata Boni. Sungguh pintar dia bersandiwara.
“Dimana ayah dan ibuku ?”
“Ibu kamu sedang sakit, ayahmu datang bersama aku, tapi dia menunggu di hotel dekat bandara.”
“Mengapa menunggu di hotel?”
“Sesungguhnya ayah kamu juga sakit. Dia tak kuat berjalan jauh.”
“Tt-tapi..”
“Aku akan minta ijin kepada pimpinan kamu, agar kamu diijinkan pulang sekarang juga.”
“Tadi sepupu saya bilang bahwa saya harus membawa om pulang menemui bude terlebih dulu.”
“Nanti kita akan menemui bude kamu, tapi kita jemput dulu ayah kamu.”
“Mengapa bapakku tidak sekalian datang kemari?”
“Aku kan belum tentu bisa langsung ketemu kamu. Ayah kamu berpikir aku harus berputar-putar kemana dulu untuk mencari keberadaan kamu, jadi dia takut kecapekan. Dan sekarang, karena sudah pasti aku bisa ketemu kamu, kita bisa menjemputnya disana.”
Melani tampak ragu, tapi ia membayangkan ayahnya sedang menunggu. Betapa rindunya Melani kepada orang tuanya, dan betapa gembira ketika dia akan segera bertemu dengannya.
“Bagaimana? Jangan terlalu lama berpikirnya, aku kasihan pada mas Anggoro yang sedang menunggu.”
“Oh, iya.. iya, aku pamit dulu pada majikan, om tunggu ya.”
“Ya, tentu saja,” kata Boni dengan wajah berbinar.
“Yesss!” desisnya perlahan, ketika Melani masuk kedalam toko untuk berpamitan.
***
Besok lagi ya