Tuesday, November 9, 2021

MELANI KEKASIHKU 21

 

MELANI KEKASIHKU  21

(Tien Kumalasari)

 

“Hallo...,” suara dari seberang, seorang laki-laki.

“Ada yang bisa saya bantu ?” tanya Andra.

“Ya, tentu, apakah anda yang memasang iklan di koran-koran beberapa hari yang lalu ?”

“Ya.. ya, ini saya bicara dengan siapa ya?”

“Saya ini kerabatnya mas Angoro.”

“Oh, begitu ya. Kalau begitu barangkali anda bisa mengatakan dimana tante saya berada.”

“Anindita? Saat ini beliau sedang sakit, nanti kalau saya datang ke Solo akan bercerita banyak. Saya ini mendapat mandat dari mas Anggoro, yang saat ini sedang mencari-cari puterinya.”

“Oh, begitukah ? Bagaimana dia bisa berpisah dengan puterinya?”

“Itulah, ada musibah beberapa tahun lalu. Melani diculik orang.”

“Tolong bilang pada om Anggoro bahwa Melani disini sudah ketemu keluarganya.”

“Oh, benarkah?” orang itu seperti berteriak senang.

“Ya, kebetulan belum lama ini saya menemukannya, dan itu sebabnya saya kemudian memasang iklan, agar kami bisa bertemu ibu kandungnya juga.”

“Syukurlah, iklan anda tidak sia-sia. Kerabat mas Anggoro telah membacanya, dan menyuruh saya datang kemari untuk membuktikan kebenarannya.”

“Saya akan lebih senang kalau om Anggoro yang datang.”

“Tentu, dia berusaha sekali datang, tapi mohon dituliskan alamat dimana Melani berada.”

“Saat ini Melani masih berada dirumahnya bersama ibu angkatnya. Alamat persisnya saya kurang jelas, tapi saya tahu tempatnya.”

“Dimana ? Hari ini juga saya akan berangkat.”

“Kampungnya saya kurang tahu namanya, ada di daerah Palur. Tapi kalau siang Melani bekerja disebuat toko kelontong.”

“Bagus, karena saya kemungkinannya akan tiba waktu siang, maka sebaiknya saya menemui ditempat dia bekerja saja. Tolong tuliskan alamatnya, ini nomor WA saya, kalau ditulis kan lebih jelas. Nama tokonya dan letaknya di jalan apa.”

“Baiklah, akan segera saya tuliskan.”

Lalu Andra menuliskan toko dimana Melani bekerja dan toko itu terletak di jalan apa.”

Andra menarik napas lega.

“Dari siapa?” tanya Panji.

“Dia kerabatnya om Anggoro, aduh, saya lupa menanyakan namanya.”

“Dia mengatakan kabarnya tante kamu?”

“Dia hanya bilang sekilas, bahwa tante sedang sakit, tapi nanti dia akan menceritakan semuanya setelah datang.”

“Mengapa bukan Anggoro yang datang?”

“Katanya akan diusahakan. Mungkin sedang menemani tante Anindita, karena tadi dia bilang bahwa tante sedang sakit.”

“Kamu mengirimi alamat kita?”

“Tidak, hanya alamat toko dimana Melani bekerja.”

“Sembrono kamu. Bagaimana kalau Melani langsung dibawa ke Jakarta?”

“Masa sih pak? Tak mungkin juga Melani mau, kemanapun dia pergi kan simbok harus tahu.”

“Tapi perasaanku kok nggak enak sih Ndra, coba tilpun Melani, beri tahu dia tentang orang yang akan menemuinya, dan bilang kalau sudah ketemu, ajak dia ke rumah kita. Atau kamu nanti harus menjemputnya. Tapi sebaiknya telpon dulu Melani,” pesan Panji.

“Iya Ndra, perasaanku kok juga nggak enak, Nanti kalau orang yang katanya kerabatnya Anggoro itu datang, suruh Melani mengajaknya kemari,” kata Maruti yang sudah ada diantara mereka.

“Baik bu, nanti di kantor Andra telpon Melani. “

“Mengapa harus di kantor, sekarang saja. Nanti kamu sibuk mengurus pekerjaan jadi lupa menelpon.”

“Iya Ndra, telpon sekarang, biar bapak berangkat dulu, kamu berangkatnya setelah menelpon,” sambung Panji.

“Kalau bisa kamu telpon dulu orangnya, tanyakan siapa namanya, supaya nanti Melani tidak bingung,” sambung Maruti.

“Iya, ibumu benar Ndra,” kata Panji sambil mendekati mobilnya. Maruti mengikuti di belakangnya.

Andra mengangguk, sementara Panji berangkat ke kantor terlebih dulu. Tapi ternyata nomor telpon orang itu sudah tidak aktif lagi. Berkali-kali dicobanya, hasilnya nihil.

“Bagaimana Ndra?” tanya Maruti yang sudah kembali setelah suaminya pergi.

“Nomornya tidak aktif.”

“Nah, kok mencurigakan begitu. Kenapa baru saja menelpon kemudian sudah tidak lagi aktif?”

“Mungkin dia tadi sudah di bandara, kalau sudah berada di pesawat pasti hp harus dimatikan bu. Soalnya dia mau berangkah hari ini juga, mungkin ketika mnelpon dia sudah di bandara.”

“Iya juga sih.”

“Andra menelpon Melani saja dulu bu.”

Maruti mengangguk, dia menunggui ketika Andra menelpon Melani.

“Ya mas..” jawab Melani ketika Andra menelponnya.

“Kamu sibuk ?”

“Sedang mau buka mas, ada apa?”

“Dengar ya, nanti akan ada orang yang menemui kamu..”

“Siapa mas, aku deg-degan nih.”

“Dia kerabat ayah kamu.”

“Kerabat ayah saya ?”

“Iya, dia disuruh ayah kamu untuk menemui kamu.”

“Berarti bapak sama ibuku sudah ketemu?” tanya Melani yang terdengar riang.

“Tampaknya hampir ketemu. Dia bilang ayah kamu memang sedang mencari-cari kamu.”

“Dimana ibuku?”

“Katanya lagi sakit, nanti dia akan menjelaskannya. Mungkin ketika itu dia sedang tergesa-gesa. Dan perkiraanku dia sudah ada di pesawat.”

“Aku nanti harus bagaimana ?”

“Kalau dia datang, kamu harus mengajaknya ke rumah terlebih dulu.”

“Ketemu bude Maruti ?”

“Iya, dia harus menceritakan semuanya. Jangan sampai dia langsung pergi, apalagi dengan mengajak kamu juga.”

“Iya mas.”

“Ya sudah, sekali lagi, ajak dia kerumah agar ketemu bude kamu.”

“Iya mas.”

Andra merasa lega setelah menelpon Melani, dan merasa bahwa sepupunya  benar-benar sudah aman.

***

Pak Cokro duduk sendirian di teras. Sudah beberapa hari Abi tidak pulang ke rumah. Bu Cokro sendiri sebenarnya juga gelisah. Tak biasanya Abi ngambeg sampai berhari-hari. Dan karena gelisah itu beberapa hari bu Cokro juga tidak pergi kemana-mana.

“Kemana ya pak, perginya Abi? Ibu menelpon ke kantor baru saja, katanya Abi tidak ke kantor sudah tiga hari ini.”

“Mana bapak tahu? Kan dia perginya tanpa pamit,” jawab pak Cokro acuh tak acuh.

“Ini semua gara-gara perempuan itu, Dasar tak tahu malu. Jangan-jangan Abi malah ada dirumahnya.”

“Ini bukan gara-gara siapa-siapa. Ini gara-gara ibu.”

“Kok bisa gara-gara ibu? Bapak kan tahu bahwa ibu hanya ingin menyelamatkannya.”

“Menyelamatkan dari apa? Memangnya Abi dalam bahaya ?”

“Iya dong pak. Kalau dia mendapatkan isteri yang miskin, pasti isterinya itu hanya akan menghambur-hamburkan uangnya.”

“Jangan menuduh tanpa bukti. Bukan semua orang miskin itu jahat. Dan bukan semua orang kaya itu baik.”

“Ini bukan masalah baik atau tidak baik. Secara logika saja lah pak, kalau orang miskin ingin mendapat suami kaya, itu kan karena dia menginginkan hartanya saja. Apakah nanti Abi akan bahagia kalau isterinya hanya pintar membuang-buang uang?”

“Ini masalah tuduhan kamu itu lho bu. Kamu menuduh bahwa nanti Melani akan menghamburkan uang, padahal belum ada buktinya. Dan kamu merasa pasti karena dia orang tidak punya. Kamu tahu tidak? Kamu sendiri itu yang suka menghambur-hamburkan uang. Arisan ke sana, arisan ke sini, pesta ke sana, pesta ke sini. Lalu piknik ke gunung, ke pantai bersama teman-teman kamu. Apa itu tidak menghambur-hamburkan uang?”

“Bapak itu aneh. Kalau aku menghambur-hamburkan uang, itu kan karena aku punya uang. Lha kalau Melani yang menghamburkan uang, itu namanya apa.. orang tidak punya, yang dihamburkan ya uang suaminya.”

“Diamlah bu, kamu itu jahat, tahu nggak sih. Mentang-mentang kamu kaya, lalu kamu menghina orang tak punya.”

“Bukan menghina pak, berjaga-jaga saja.”

“Sudah, jangan omong apa-apa lagi, sakit kupingku mendengarnya,” kata pak Cokro sambil berdiri.

“Mau kemana pak ?”

“Mau cari sarapan, sudah agak siang, aku lapar.”

“Aku buatkan sebentar,” teriak bu Cokro karena pak Cokro terus saja melangkah.”

“Tidak, aku ingin sarapan diluar.”

“Jalan kaki?”

“Ya..”

“Aku temani..” bu Cokro berteriak semakin keras.

“Tidak usah,” kata pak Cokro yang sudah keluar dari halaman.

Bu Cokro mengeluh kesal, dan merasa tidak bersalah karena memilihkan yang terbaik untuk anaknya. Kemudian ia langsung ke dapur, membuat sarapan untuk dirinya sendiri.

***

Ternyata pak Cokro naik taksi untuk pergi ke kantor anaknya. Tapi seperti dikatakan oleh isterinya tadi, Abi tidak ke kantor selama berhari-hari.

“Pak Abi hanya memberi perintah melalui WA, tentang apa yang harus kami lakukan,” ujar sekretarisnya.

Pak Cokro duduk di kursi kerja Abi. Membuka-buka map yang ada disana. Tapi pak Cokro enggan membacanya. Ia sudah menyerahkan seluruh perusahaan kepada anaknya, dan menyerahkan semua kebijakan di tangannya.

Tiba-tiba telpon di meja Abi berdering.

Pak Cokro segera mengangkatnya, dan sangat terkejut karena Abi yang menelponnya.

“Abi?”

“Lho, Bapak kok ada disini ?”

“Bapak sedih karena kamu tidak pulang. Kamu dimana ?”

“Abi sedang menenangkan diri Pak.”

“Ibumu mengira kamu ada dirumah Melani.”

“Tidak, Melani kan menolak Abi, mana mungkin Abi kesana?”

“Melani menolak kamu ?”

“Iya ..” jawab Abi. Pak Cokro menangkap nada sedih pada ucapan Abi.

Tuh kan, ibunya Abi salah sangka. Melani bukan bersorak gembira karena dicintai seorang Abisatya yang kaya raya. Dia menolaknya.

“Apakah itu karena ibumu ?”

“Katanya dia sudah punya pacar. Tapi Abi tidak percaya. Kemungkinannya juga karena ibu. Siapa sih yang tidak sakit hati kalau dihina seperti itu?”

“Iya Bi, pastinya begitu. Tapi kamu harus bersabar ya Bi, kalau memang dia itu jodoh kamu, suatu saat kamu pasti bisa mendapatkannya.”

“Iya Pak, aamiin.”

“Sekarang kamu pulanglah, tampaknya ibumu juga gelisah karena kamu tak pulang selama berhari-hari.”

“Apa ibu sudah bisa meredam keinginannya?”

“Tampaknya belum.”

“Abi belum mau pulang, apalagi sore ini Abi mau ke Jakarta.”

“Kamu mau ke Jakarta?”

“Iya Pak.. ada client yang harus Abi temui di sana. Itu sebabnya Abi menelpon, mau berpesan sama sekretaris Abi.

“Oh, baiklah, bapak panggilkan dia, bapak mau jalan-jalan dulu mencari sarapan.”

“Bapak bersama ibu?”

“Tidak, sendirian, sudah.. bapak panggil dulu sekretaris kamu.”

***

Hari itu Melani merasa tak tenang. Andra mengatakan bahwa kerabat ayahnya akan datang. Apakah dia akan membawanya ke Jakarta?

“Tidak, aku tidak akan mau. Aku lebih nyaman tinggal di kota ini, apalagi bude Maruti menyuruh aku tinggal di rumahnya bersama simbok,” pikir Melani sambil bersiap akan istirahat.

Pekerjaannya sudah selesai, lalu ia berpamit kepada temannya untuk membeli kerupuk sebagai teman makan siangnya. Tadi simbok membawakan nasi oseng untuk bekalnya, tapi lupa membawakan kerupuk kesukaannya.

Tapi begitu ia keluar, seorang laki-laki tinggi besar sudah menunggunya.

“Selamat siang,” sapa laki-laki itu.

“Selamat siang, bapak mau membeli sesuatu? Ada yang akan melayani bapak disana,” kata Melani sambil menunjuk ke arah depan toko.

“Tidak, aku ingin bertemu dengan Melani.”

Jantung Melani berdetak kencang. Inikah yang kata Andra kerabat ayahnya? Wajahnya kok serem begitu?

“Bisakah? Apakah dia ada ?”

“Saya Melani,” jawab Melani agak ragu.

“Haaa, Melani.. aduuh, pasti ayah kamu akan sangat gembira aku bisa menemukan kamu,” kata laki-laki yang ternyata Boni. Sungguh pintar dia bersandiwara.

“Dimana ayah dan ibuku ?”

“Ibu kamu sedang sakit, ayahmu datang bersama aku, tapi dia menunggu di hotel dekat bandara.”

“Mengapa menunggu di hotel?”

“Sesungguhnya ayah kamu juga sakit. Dia tak kuat berjalan jauh.”

“Tt-tapi..”

“Aku akan minta ijin kepada pimpinan kamu, agar kamu diijinkan pulang sekarang juga.”

“Tadi sepupu saya bilang bahwa saya harus membawa om pulang menemui bude terlebih dulu.”

“Nanti kita akan menemui bude kamu, tapi kita jemput dulu ayah kamu.”

“Mengapa bapakku tidak sekalian datang kemari?”

“Aku kan belum tentu bisa langsung ketemu kamu. Ayah kamu berpikir aku harus berputar-putar kemana dulu untuk mencari keberadaan kamu, jadi dia takut kecapekan. Dan sekarang, karena sudah pasti aku bisa ketemu kamu, kita bisa menjemputnya disana.”

Melani tampak ragu, tapi ia membayangkan ayahnya sedang menunggu. Betapa rindunya Melani kepada orang tuanya, dan betapa gembira ketika dia akan segera  bertemu dengannya.

“Bagaimana? Jangan terlalu lama berpikirnya, aku kasihan pada mas Anggoro yang sedang menunggu.”

“Oh, iya.. iya, aku pamit dulu pada majikan, om tunggu ya.”

“Ya, tentu saja,” kata Boni dengan wajah berbinar.

“Yesss!” desisnya perlahan, ketika Melani masuk kedalam toko untuk berpamitan.

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

 

Monday, November 8, 2021

MELANI KEKASIHKU 20

 

MELANI KEKASIHKU   20

(Tien Kumalasari)

 

Anggoro terbelalak menyaksikan kejadian itu, dan lebih terbelalak lagi ketika melihat suasana ruang tengah yang berantakan seperti disapu puting beliung.

Santi kaget melihat suaminya berdiri terpaku ditengah pintu. Ia ingin memperbaiki semuanya, tapi sudah terlambat. Ia juga bingung menentukan jawab. Ia terdiam sampai suaminya menghardiknya.

“Apa-apaan ini ?”

“Maaf mas... mm.. maaf.. aku.. aku.. “ jawabnya terbata-bata.

“Apa yang kamu lakukan ?”

“Aku .. sangat marah .. mendengar .. mendengar.. Boni.. tak mau membantu.. dan.. dan.. aku tak bisa mengendalikan diri..” akhirnya ditemukannya sebuah jawaban sekenanya.

“Ada apa dia? Mengapa kamu marah dan mengamuk?”

“Itu, sangat marah sama Boni. Dia bilang.. tak mau lagi membantu, padahal tadinya sudah sanggup. Dan aku bersedia membayarnya mahal. Maaas, ini semua aku lakukan demi membantu mas menemukan kembali anak dan isteri mas..” katanya memelas. Aduhai.

“Ini tak masuk akal. Coba sekarang telpon lagi dia,” perintahnya.

“Aap..apa mas?”

“Telpon dia dulu, nanti aku yang bicara.”

Santi bergegas mengambil ponselnya.. yang tergeletak di lantai, tapi ponsel itu hancur berantakan karena bantingannya. Ponsel yang kesekian kalinya dia beli sehabis dia mengamuk.

“Maaf mas, ponselku.. hancur.”

“Apa-apaan kamu ini..?”

Sementara itu sang pembantu yang semula bersembunyi dibalik pintu dengan kaki gemetar, melangkah ke depan hendak berpamitan.

”Maaf bu, saya mau pamit..”

“Apa maksudmu? Lihat ini, bersihkan dulu baru kamu boleh pergi,” kata Santi dengan mata yang hampir meloncat dari tempatnya.

Anggoro tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah melihat Santi beringas seperti ini. Hanya karena Boni tak mau membantu? Tampaknya aneh. Marah kepada seseorang dan merusak semua barang-barang dirumahnya sendiri ?”

“Saya.. pusing bu..” pembantu itu memberi alasan, dan tetap melangkahkan kaki keluar.

“Bibik !!” hardik Santi, tapi pembantu itu tetap berjalan pergi. Tampaknya dia sangat ketakutan.

Anggoro mengikuti pembantu itu sampai diluar.

“Bik, tunggu bik,” kata Anggoro pelan.

“Mendengar suara pelan dari suami majikannya, pembantu itu berhenti. Ia sudah hampir sampai di pintu pagar.

“Ya, tuan..”

“Ada apa sebenarnya ?”

“Saya tidak tahu tuan, ibu sering begitu. Saya tiga hari membantu disini, sudah dua kali melihat ibu mengamuk. Membuat semuanya pecah berantakan.”

Anggoro terkejut mendengar penuturannya.

“Disini selalu berganti-ganti pembantu, semuanya berhenti karena ketakutan melihat ulah ibu,” lanjut pembantu itu.

“Selalu dia begitu ?”

“Selalu begitu, tiba-tiba saja mengamuk. Semua yang pernah bekerja disini bilang begitu. Sebenarnya saya enggan disuruh bekerja, tapi saya butuh uang, untuk membawa anak saya ke dokter. Tapi menghadapi keadaan seperti ini, saya sungguh takut. Lebih baik saya mencari kerja di tempat lain.”

Anggoro geleng-geleng kepala.

“Hei.. mengadu apa kamu sama suamiku? Tahu apa kamu? Dan jangan pergi sebelum membersihkan rumah, karena aku tak akan pernah membayar kamu!” tiba-tiba Santi mendekati mereka dan menghardik lagi pembantunya.

“Nggak apa-apa bik, pulanglah, ini terimalah,” kata Anggoro sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

“T-tapi tuan..”

“Cepat pergi sebelum dia menelan kamu bulat-bulat.”

Pembantu itu menghaturkan terimakasih dan bergegas pergi.

“Mengapa mas melakukannya? Dia itu pemalas!”

Anggoro tak menjawab. Dia masuk kedalam kamarnya, yang untunglah masih tampak rapi. Ia mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam kopor.

“Mas, mau kemana mas ?”

Anggoro tak menjawab, menutup kopor dan menariknya keluar.

“Maaaas.. mau kemana maaas !” katanya sambil merangkul suaminya dari belakang. Anggoro tak menjawab, ia mengibaskan tubuhnya dan Santi jatuh terjengkang.

“Maaas.. kejam kamu maaas!” ratap Santi sambil menangis menggerung-gerung.

Anggoro terus melangkah mendekati mobilnya, dan sebelum masuk, ia masih mendengar suara gaduh barang-barang dilempar, mengeluarkan bunyi gaduh yang memekakkan telinga.

Anggoro memacu mobilnya dan pergi, membiarkan Santi bergulung dilantai, sampai tangannya berdarah-darah terkena pecahan kaca.

***

Anggoro pergi tak tentu arah. Hatinya kacau. Keterangan tentang isterinya membuatnya gelisah, sedih dan tak merasa tenang. Sesampai dirumah, dia melihat sesuatu yang sangat mengejutkannya. Isterinya mengamuk, dan itu sering dilakukannya? Hatinya semakin kacau.

“Apakah Santi punya penyakit gila ?” gumamnya.

Ia kembali melewati bekas rumahnya, melambatkan mobilnya untuk menatap ayunan itu dengan hati pilu. Ia berhenti sejenak, dan kembali meneteskan air matanya.

“Anindita tak berdosa, mengapa harus menderita?”                                           

“Maaas, jangan keras-keras mengayunnya mas, aku takutt.. kalau jatuh bagaimana?”

Pekik manja itu kembali terngiang di telinganya.

“Anindita.. Melani.. kekasihku.. dimana kalian berada ?” isaknya pilu. Lalu ia kembali menjalankan mobilnya tak tentu arah.

Akhirnya Anggoro berhenti di sebuah hotel, bermaksud menginap disana.

Begitu mendapatkan kamarnya, Anggoro langsung merebahkan tubuhnya. Letih lelah menderanya. Mendera jiwa dan raganya.

“Mungkinkah Anindita pulang ke Solo ? Tapi mungkinkah ? Bibik kan tidak tahu rumah keluarga Anin, sementara Anin kabarnya hilang ingatan. Tapi apakah sebaiknya aku bertanya kesana? mBak Maruti mungkin akan marah kepadaku, karena aku telah menyia-nyiakan adik dan keponakannya. Tapi siapa tahu Anindita ada disana? Mengapa baru sekarang aku memikirkannya?”

Tapi ada perasaan takut dihati Anggoro, karena dia merasa bersalah.

“Pasti aku kena marah, bahkan mungkin mereka tak mau menerima aku. Tapi kenapa aku harus takut? Kalau aku kena marah, itu sudah sewajarnya karena aku memang bersalah. Aku tidak harus takut seperti ini, aku harus bertanggung jawab atas semua kesalahanku.”

Semalam suntuk Anggoro tak bisa tidur, menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya.

***

Santi merintih kesakitan, tengkurap dilantai sambil tangannya mencari-cari. Sebuah ponselnya memang hancur, tapi ia selalu punya ponsel yang lainnya. Anggoro tak tahu semua itu.

Ia menemukan tasnya, terjatuh dibawah meja, merogohnya dan mengambil ponselnya. Ia harus menelpon Boni. Hanya dia yang bisa menolongnya.

“Boni.. datanglah kerumah,” katanya lemah.

“Hei, ada apa kamu?”

“Datanglah dulu, aku butuh kamu.”

“Bagaimana kalau suami kamu melihat aku?”

“Dia pergi, tak akan pulang, cepatlah,” katanya semakin lemah karena menahan sakit.

“Baiklah.”

Boni yang dipanggil kerumah Santi, sangat terkejut melihat rumah Santi berantakan, dan Santi tertelungkup  dilantai dengan tangan berlumuran darah.

“Apa yang terjadi? Suami kamu mengamuk ?”

“Tolong aku, badanku sakit semua..”

“Laporkan pada polisi kalau suami kamu melakukan semua ini.”

“Tidak.. bangunkan aku dulu..”

Boni membangunkan Santi dan membantunya duduk di sofa. Kaca mejanya sudah remuk, almari kaca berisi gelas-gelas berhamburan dilantai tanpa bentuk, hancur berkeping-keping.

“Ada obat di almari obat disana, ambil apa saja, yang penting bisa untuk mengobati tanganku ini.”

Boni menuju ke arah yang ditunjuk dan menemukan sebuah almari obat. Ia mengambil kapas, dan obat merah, dan cairan pembersih luka, plester.. apa saja.

“Apa yang terjadi sehingga suami kamu mengamuk seperti ini?”

“Bukan dia..”

“Siapa? Ada rampok masuk kerumah? Suami kamu kemana ?”

“Jangan tanya... aduuuh... pelan-pelan dong, sakit..” teriak Santi katika Boni membersihkan lukanya. Darahnya banyak yang sudah mengering, tapi ada yang masih menetes pada luka yang tampaknya dalam.

“Tampaknya kamu harus dibawa kerumah sakit..”

“Tidak, jangan... “

“Mengapa tidak ?”

“Tidak usah, tolong pelan-pelan saja. Setelah ini coba carikan orang yang bisa membersihkan rumah ini.”

“Pembantu kamu sudah pulang?”

“Minggatttt!”

“Siapa melakukan ini semua?”

“Aku sendiri..”

“Kamu ?”

“Aku selalu tak bisa mengendalikan diri. Ketika aku marah.. aku tidak merasa puas kalau belum menghancurkan apa yang ada disekelilingku.”

“Ampun deh.. suami kamu tidak marah?”

“Tidak pernah tahu..baru sore tadi dia tahu..”

“Lalu dia pergi ?”

“Ya, sudah.. lanjutkan membersihkan lukanya dan bubuhkan obatnya.”

“Yang mana obatnya, kamu jangan teriak-teriak begitu.. aku jadi gugup..”

“Sakit.. tahu.”

“Iya, tahu.. tapi namany juga luka, ya pasti sakit. Tahan sebentar, kalau tidak aku bawa kamu ke rumah sakit.”

“Jangan.. aku tidak suka rumah sakit.”

“Kamu kan dokter.. kenapa takut ke rumah sakit?”

“Ada kenangan buruk ketika aku menjadi dokter. Tapi jangan banyak tanya, aku merasa lemas.”

Boni melanjutkan membersihkan luka di tangan Santi.

“Setelah ini, lakukan tugas kamu yang lebih penting. Aku kan sudah memberi kamu uang ?”

“Iya aku tahu, besok aku berangkat ke Solo, tapi aku harus menelpon orang yang nomornya ada di iklan itu.”

“Nanti aku kasih, aku menyimpannya.”

“Siip.. aku harus memastikan dimana alamatnya.”

Santi tersenyum dalam kesakitannya. Ia tak akan merasa puas sebelum menghilangkan jejak Anindita dan Melani dari pencarian suaminya.

***

“Besok, jemputlah Melani agar pindah ke rumah ini bersama simbok.” Kata Maruti kepada Andra.

“Besok ya bu? Andra bantu menyiapkan kamarnya dulu.”

“Ibu sudah memikirkannya. Kamar yang ada disebelah kamu itu kan agak luas, nanti diberi dua tempat tidur, untuk Melani dan simbok. Pasti mereka senang karena masih bisa selalu berdekatan.”

“Iya bu, besok Andra bantu ibu membereskan kamar sebelum berangkat ke kantor.”

“Bagus le, jadi pekerjaan ibu bisa lebih ringan. Barangkali bapak ingin membantu mengangkat tempat tidurnya.”

“Iya, nanti aku juga mau bantu sebelum ke kantor.”

“Tapi ibu berhutang sama Andra,” kata Andra tiba-tiba.

“Hutang apa sih?” tanya Maruti bingung.

“Ibu bilang mau menceriterakan tentang seseorang yang jahat kepada tante Anindita kala itu, lalu ibu khawatir jangan-jangan dia melakukannya lagi.”

“Oh, iya Ndra, itu dokter Santi..”

“Seorang dokter ?”

“Ya, seorang dokter. Dia tergila-gila sama ayah kamu itu, tapi mempergunakan tante kamu untuk menyakiti hati ibu.”

“Bagaimana itu, mengapa harus menyakiti hati ibu?”

“Karena bapak cintanya sama ibu kamu,” sambung Panji yang sejak tadi lebih banyak diam, sambil mengotak-atik ponselnya.

“Wauw, seru nih tampaknya. Iya sih bapak cintanya sama ibu, ibuku kan cantik dan baik.”

Lalu Maruti menceritakan semua kelakuan Santi yang membujuk Anindita agar bisa merebut Panji yang lebih memilih Maruti.

Andra mendengarkannya dengan tak berkedip. Itu pengalaman tantenya yang luar biasa. Dan dokter Santi yang juga luar biasa gilanya, karena membawa-bawa anaknya sendiri ketika membawa lari Anindita. Andra juga terkejut ketika tahu bahwa Sasa bukan anak kandung Laras.

“Heran ya bu, ternyata Sasa anaknya dokter jahat itu..?”

“Tapi Sasa tidak suka sama ibunya. Dulu saat masih kecil dia sangat takut kepada ibunya karena pernah membawanya lari sampai dikejar-kejar polisi.”

“Ya Tuhan..”

“Dia sangat menyayangi tante Laras, demikian juga tante Laras juga sangat mencintai Sasa, yang kemudian menjadi anak tirinya. Tapi kamu tidak usah bilang kepada Sasa atas semua yang ibu ceritakan. Kasihan Sasa.”

“Tapi dia tahu nggak kalau ibunya bukan tante Laras?”

“Tahu dong, ketika itu Sasa sudah agak besar, sekitar tiga tahunan atau kurang ya, tapi ibu tidak tahu, dia ingat apa tidak.”

***

Pagi hari itu keluarga Panji sangat sibuk mengatur kamar yang akan dipergunakan oleh Melani dan simbok setelah pindah ke rumahnya.

Dua tempat tidur, dua almari pakaian, satu cermin untuk berdandan yang diletakkan didepan jendela. Sebuah meja dan kursi. Pokoknya lengkap dan tidak mengecewakan. Kamar mandi juga terletak didalam.

“Semoga simbok dan Melani senang ya mas.”

“Iya. Apakah perlu ada teve dikamar ini? Nanti mas belikan yang baru,” kata Panji.

“Iya mas, nggak apa-apa, kalau begitu beri tempat untuk televisi itu mas.”

“Tidak usah yang besar ya, nanti kamar ini jadi penuh perabotan.”

“Iya mas..”

Andra sudah keluar dari kamar dan sedang bersiap untuk mandi, ketika tiba-tiba ponselnya berdering.

“Dari siapa nih, tidak ada namanya..”

“Kenapa tidak diangkat Ndra?” tegur ayahnya.

“Tidak ada namanya pak.”

“Siapa tahu itu ada hubungannya dengan iklan kamu ..”

Andra mengangkatnya.

“Hallo...”

***

Besok lagi ya.

 

AKU ANAK SIAPA 06

  AKU ANAK SIAPA … 06 (Tien Kumalasari)   Satria sudah berhenti menangis. Senja sudah membersihkan lukanya, dan menutupinya dengan plester. ...