SAKITKU ADALAH CINTAKU 04
(Tien Kumalasari)
Indras masih memegang ponselnya, dengan tangannya yang gemetar. Berita meninggalnya pak Iman, ayah Zein, membuatnya terkejut. Apa karena kesalahan keluarga mereka yang meminta pulang paksa?
Belum lama berada di rumah, dan Zein mengatakan batuknya berkurang, tapi badannya panas. Pasti mereka sudah mengupayakan yang terbaik, dan obat dari dokter pasti sudah diminumkannya. Tapi kalau Allah berkehendak lain? Mati dan hidup itu bukan tentang kaya dan miskin bukan? Indras masih termenung, dan ponsel masih dipegangnya erat, sementara Zein hanya menelponnya sebentar, sekedar memberi tahu.
“Ada yang meninggal? Siapa?” tanya pak Narya ketika mendengar Indras menjawab telpon.
“Ayah Zein akhirnya meninggal,” katanya lirih.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun.." kata sang ayah dan ibunya hampir bersamaan.
“Sakit apa? Baru kemarin kamu bilang dia sakit.”
“Radang paru-paru yang sudah parah. Minta pulang paksa karena tak punya biaya,” kata Indras sambil berdiri. Ia ingin datang ke rumah Zein.
“Kasihan. Pulang karena tak punya biaya? Dan akhirnya meninggal.,” gumam sang ibu.
“Hidup ini memang susah. Saat tak punya apa-apa, lalu kita membutuhkannya, apa yang kemudian kita dapatkan? Bukan soal membedakan antara kaya dan miskin, hanya saja kenyataannya bagaimana kalau kita tak punya uang? Indras tak mau mengerti. Ia bicara tentang rasa hati. Apakah cinta bisa membuat kita kenyang?” omel pak Narya, yang membuat sang istri mengangguk-angguk.
Indras sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian berwarna gelap. Tak usah bertanya, pak Narya dan istrinya sudah tahu bahwa Indras akan pergi ke rumah duka.
“Indras pergi dulu Pak, Bu,” katanya sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
Pak Narya dan istrinya tak ingin mencegah, walau kurang suka melihat perhatian Indras yang sedemikian besar kepada Zein dan keluarganya. Tak apalah, mereka sedang berduka.
***
Zein duduk bersila di atas tikar, di dekat jenazah sang ayah yang belum sempat dimandikan, menunggu kedatangan para petugas dari masjid terdekat.
Sang ibu mendekat dan terisak di dekat sang anak.
“Zein, apa kamu menyalahkan ibu atas meninggalnya ayahmu?”
Zein menatap wajah ibunya yang pucat, dengan mata sembab karena tak berhenti menangis.
“Mengapa Ibu berkata begitu?”
“Dokter melarang aku membawa pulang ayahmu, tapi aku nekat. Akibatnya apa, ayahmu kemudian meninggal,” isaknya.
Zein merangkulnya.
“Ibu tidak usah menyesalinya. Bukankah mati dan hidup itu milik Yang Maha Kuasa? Apapun jalannya, kalau kita harus sembuh, maka sembuhlah. Tapi kalau memang harus mati, ya pastilah akan mati, hanya jalannya yang berbeda.”
“Bapak sudah sakit parah, dokter yang merawat tidak menjanjikan kesembuhan, hanya minta agar dirawat. Itu berarti memang sudah takdirnya bapak harus meninggal. Ibu tidak usah menyesalinya, ini semua bukan salah Ibu.”
Tak henti-hentinya Zein menghibur sang ibu, walau dia sendiripun pastinya juga sedih.
***
Indras datang ketika jenazah almarhum sudah dikafani. Ia mengucapkan ikut berbela sungkawa, lalu menyerahkan sebuah amplop ke tangan bu Iman, tanpa sepengetahuan Zein, karena takut Zein tidak suka.
“Ini kesalahan ibu, Nak,” tangis bu Iman pecah lagi ketika Indras merangkulnya.
“Tidak Bu, ini sudah suratan. Ibu tidak boleh menyesalinya.”
Pak Iman dimakamkan hari itu juga, meninggalkan duka mendalan dihati anak istrinya.
Indras juga langsung pulang setelah jenazah diberangkatkan. Tak banyak yang dibicarakan dengan Zein, karena ia juga sibuk mempersiapkan semuanya.
Toh sesampainya di rumah, sang ayah masih juga menegurnya.
“Mengapa lama sekali?”
“Menunggu jenazah diberangkatkan. Nggak enak kalau pulang lebih dulu.”
“Dia bukan apa-apa kita, sudah datang untuk berbela sungkawa, itu cukup kan? Apalagi kalau kamu sudah memberinya uang duka.”
“Zein teman baik Indras. Sudah semestinya kalau Indras memberi perhatian lebih.”
“Cuci kaki tangan, setelah takziah itu harus dilakukan, jangan dulu masuk ke dalam kamar,” kata sang ibu yang masih menganut kebiasaan orang tua jaman dulu.
“Ya, Bu,” kata Indras yang bergegas ke belakang, sekaligus menghindari omelan sang ayah yang akan semakin panjang.
***
Kejadian itu membuat Zein beberapa hari tidak masuk kuliah, dan Indras merasa kesepian. Ia selalu pulang cepat begitu jam kuliah selesai.
Hari itu sepulang dari kampus ia kaget, karena bukan hari libur, tapi Bagas bertandang ke rumah.
“Bagas, tumben kamu kemari, biasanya menunggu liburan kan?”
“Kebetulan ada tugas, lalu aku mampir, lama nggak ketemu, aku kangen.”
Indras tersenyum. Sudah sering Bagas mengatakan itu, dan hanya dijawabnya dengan senyuman.
“Orang sibuk, tapi sempat-sempatnya mampir.”
“Kan aku sudah bilang kalau aku kangen?”
“Baiklah, terima kasih atas kangennya.”
“Beberapa hari yang lalu bapak menelpon, mengapa aku lama tidak kemari.”
“Berarti bapak juga kangen sama kamu,” canda Indras.
“Ayuk kita jalan-jalan, aku sudah minta ijin sama bapak lhoh, sebelum kamu datang.”
“Kemana?”
“Jalan aja, cari makanan, atau sekedar melihat-lihat.”
“Sebenarnya aku capek.”
Tapi kemudian Indras berpikir, bahwa sebaiknya Bagas tidak terlalu mengharapkannya karena dia sudah punya seseorang yang dicintainya, dan ia akan berterus terang nanti.
“Jadi nggak mau ya?”
”Mm … mau kok. Ayuk, tungguin sebentar ya, aku ganti pakaian dulu.”
“Itu kan bagus, mengapa harus ganti?”
“Bau kecut, tadi praktikum dan pasti bau obat atau entahlah, pokoknya nggak enak,” kata Indras sambil berdiri.
Bagas tersenyum senang. Akhirnya ia akan bisa jalan berdua bersama Indras. Ia akan berterus terang mengatakannya pada Indras tentang isi hatinya. Harus. Tadi pak Narya juga menyarankan begitu.
“Bagas, kalau kamu memang suka pada Indras, katakan terus terang. Dia tidak akan tahu kalau kamu sungkan mengatakannya,” kata pak Narya waktu itu.
Lalu setelah kebetulan ada tugas di mana Indras tinggal, ia berencana akan melakukannya. Mana dia tahu kalau sebenarnya Indras juga sudah merencanakan sesuatu untuknya.
“Kok belum berangkat juga?” tiba-tiba pak Narya keluar dan menatap Bagas yang duduk sendirian di teras.
“Masih menunggu Indras, katanya mau ganti pakaian.”
“Jangan lupa pesanku,” kata pak Narya setengah berbisik.
Bagas mengangguk sambil tersenyum. Lalu pak Narya kembali masuk ke dalam.
***
Hari itu ada peringatan tujuh hari atas meninggalnya pak Iman. Hanya tetangga dekat yang diminta datang, karena keluarga pak Iman adalah keluarga yang sederhana. Itupun hanya orang-orang dari kalangan masjid yang mengenal pak Iman lebih dekat.
Siang hari itu Zein sudah menggelar tikar.
“Zein, walaupun hanya beberapa orang yang kita undang untuk mengaji dan mendoakan ayah kamu, tapi kita harus mempersiapkan hidangan.”
“Nanti Zein beli saja, ibu tidak usah memasak,” kata Zein yang melihat sang ibu tampak lelah.
“Sebenarnya ada tetangga yang ingin membantu, tapi aku tidak ingin merepotkan. Beli saja beberapa makanan yang sekiranya pantas. Ada yang membantu membuatkan minuman, alhamdulillah.”
“Baiklah, ibu buatkan saja catatannya, makanan apa yang harus Zein beli nanti.”
“Ibu akan membuat catatannya sebentar. Uangnya nanti kamu ambil sendiri. Ada uang dari beberapa penyumbang, belum semuanya ibu buka.”
Bu Iman segera membuat catatan, sementara Zein bersiap pergi belanja.
***
Bagas mengajak Indras jalan-jalan, tapi Indras mengajaknya makan lebih dulu.
“Aku lapar, kita makan dulu ya.”
“Baiklah, aku carikan restoran yang enak,” kata Bagas bersemangat.
“Di warung sederhana saja. Aku tidak suka makan di restoran, seringnya brisik.”
“Di warung?”
“Ya, kamu malu makan di warung, bukan di restoran?”
“Tidak, siapa bilang aku malu? Katakan warung yang mana yang kamu inginkan untuk makan.”
“Agak di depan sana, setelah pertigaan itu, aku sering makan di situ.”
Bagas mengangguk, ia menuju ke arah warung sederhana yang ditunjuk Indras. Indras menginginkan tempat yang sepi, di mana ia bisa leluasa berbicara.
Keluar dari mobil, Bagas segera mengikuti Indras untuk masuk terlebih dulu. Sambil berjalan itu Bagas sudah meronce kata untuk menyatakan cintanya kepada Indras. Ia tidak boleh segan dan harus berani berterus terang, itu saran pak Narya, ayah Indras.
Tapi tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap keduanya dengan wajah muram.
***
Besok lagi ya.