SAKITKU ADALAH CINTAKU 15
(Tien Kumalasari)
Raungan sirene ambulans merobek ketenangan pagi itu, merobek rasa bagi Zein yang mengiringi sang ibu dalam kebingungan yang melanda.
Semalam masih ada tawa riang sang ibu. Tawa bahagia ketika bercerita tentang keberhasilannya menjadikan Zein seorang dokter. Walau belum wisuda tapi itu sudah dipastikan. Tinggal menunggu hari, lalu impian itu kemudian sepenuh nya terwujud. Rupanya bu Iman begitu berbahagia. Kebahagiaan yang meledak-ledak dan kegembiraan yang meluap-luap itu telah mengganggu kesehatan jantungnya. Bukannya Zein tak mengertti, tapi ia sudah berkali-kali mengingatkan sang ibu agar bersikap biasa saja, tapi sang ibu yang kelewat bahagia itu melampiaskannya dengan mengundang beberapa kerabat dan tetangga, memasak banyak makanan, mengatur semuanya sendiri dengan rona bahagia di sepanjang kesibukannya.
Zein terpekur dalam doa, demi keselamatan sang ibu. Ia sudah selamat pada serangan jantung sebelumnya, akankah ia bisa bertahan dalam kondisi yang tampaknya semakin parah?
Walau tidak meneteskan air mata, tapi wajah Zein begitu kusut dan muram. Keramaian semalam telah berbuntut duka. Zein bahkan tak sadar ketika ibunya sudah berada di atas brankar dan di dorong masuk ke ruang IGD,
Zein tak mampu berkata-kata. Salah seorang tetangga yang mengantarkannya masuk, memberi beberapa keterangan yang diperlukan. Zein duduk di bangku tunggu, dengan pikiran kalut yang sulit dijelaskan.
Dan keterangan dokter yang kemudian menemuinya membuat separuh jiwanya melayang. Sang ibu tak tertolong. Ia meninggal dalam perjalanan.
***
Suasana di tempat pemakaman sudah sepi. Pelayat sudah pada meninggalkan area pemakaman, meninggalkan aroma bunga yang tersebar menutupi gundukan tanah basah. Senyap, bahkan anginpun enggan bertiup. Zein masih bersimpuh di depan gundukan tanah itu sambil berurai air mata. Ia melantunkan doa lalu berbicara seakan sang ibu sedang duduk di hadapannya.
“Mengapa Ibu tidak menunggui saat Zein di wisuda? Mengapa Ibu tergesa pergi ketika sudah berjanji akan membantu Zein saat berpraktek? Ibu, kalau demikian apakah masih ada gunanya Zein melanjutkan langkah ini? Zein tidak bisa sendirian Bu, Zein butuh Ibu. Zein ingin Ibu menggandeng lengan Zein ketika nama Zein dipanggil keatas area wisuda. Zein ingin Ibu bertepuk tangan dalam bahagia karena semua derita Ibu membuahkan hasil seperti yang Ibu harapkan. Lihatlah Bu, sebentar lagi Zein akan menjadi dokter. Hanya tinggal selangkah. Mengapa Ibu tak hendak menunggu?” bisiknya berulang-ulang.
***
“Mengapa Mbak pulang, dan tidak mengajak Zein sekalian, lalu mengantarkan kerumahnya?” tanya Arun yang mengikuti kakaknya ikut melayat dan sekarang dalam perjaΔΊanan pulang.
“Kan kamu tahu sendiri, dia tidak mau ditemani, lalu aku disuruhnya pulang saja. Dalam situasi seperti itu, barangkali dia lebih suka menyendiri. Biarkan saja, nanti kalau sudah tenang, dia pasti juga akan pulang.”
“Kasihan sekali. Dia seperti orang bingung.”
“Bisa dimaklumi. Belum lama kehilangan ayah, lalu beberapa waktu kemudian ibunya menyusul.”
"Ayahnya juga sudah meninggal.”
“Dia sekarang kan yatim piatu. Harapan satu-satunya adalah membahagiakan ibunya, yang sangat berharap bisa melihatnya berhasil. Tapi nyatanya semua terjadi diluar perkiraan. Manusia bisa berharap dan berusaha, tapi Allah Punya Kuasa. Tapi di saat begini lebih baik membiarkannya sendiri…”
“Tadi pengin ikut nangis melihatnya. Habis dia kelihatan sangat kacau.”
“Aku juga begitu. Semoga dia segera bisa menerima kenyataan ini, lalu bangkit kembali.”
“Aamiin. Bisa aku bayangkan Mbak, besok kalau wisuda dia pasti akan benar-benar menangis.”
“Ya. Tentu saja.”
“Eh, mobil bapak mana ya? Tadi ada di belakang kita kan?”
“Mampir-mampir, barangkali.”
“Aku tidak menduga bapak juga menaruh perhatian pada keluarga Zein. Apa Mbak tahu, bapaklah yang membiayai bu Iman saat dirawat waktu sakit?”
“Bapak tidak mengatakan apapun padaku, tapi aku sudah menduganya.”
“Aku tidak hanya menduga, aku mendengar sendiri bapak bicara sama ibu. Biayanya lumayan mahal, tapi bapak tidak keberatan. Ini seperti sebuah keajaiban ya Mbak, yang tadinya sangat benci, kemudian sangat menaruh perhatian.”
“Aku juga tidak mengira. Rupanya bapak masih punya nurani.”
“Bapak ingat waktu dulu, orang tuanya, kakek kita itu dulu juga bekerja keras untuk menjadikan anak-anaknya berhasil, jadi cerita tentang perjuangan bu Iman membuat bapak teringat hidupnya di masa lalu.”
“Syukurlah.”
“Dan aku yakin, nanti bapak pasti tidak menghalangi Mbak terus berhubungan dengan Zein.”
Indras tersenyum.
“Semoga begitu. Tidak enak pacaran sembunyi-sembunyi.”
“Dan menjadikan dosa. Habis, Mbak sering berbohong.”
“Aku akan minta maaf nanti pada bapak dan ibu.”
“Pokoknya saya berdoa agar semuanya baik-baik saja.”
“Aamiin.”
***
“Mana bapak?” tanya bu Narya ketika Indras dan Arun sudah sampai di rumah.
“Nggak tahu, tadi kami juga menunggu.”
“Mungkin langsung ke kantor, tadi sebelum berangkat ada yang menelpon dari kantor.”
“O, iya barangkali,” jawab Arun.
“Langsung cuci kaki tangan ya, jangan masuk ke kamar dulu,” kata sang ibu lagi.
Keduanya langsung mencuci kaki tangan dan berganti pakaian rumah, kemudian duduk bersama sang ibu, sambil menunggu kepulangan ayahnya.
“Bagaimana tadi, banyak yang takziah?”
“Lumayan banyak Bu. Bu Iman itu orangnya baik. Dia juga banyak pelanggannya.”
“Tadinya ibu ingin ikut, tapi agak kurang enak badan, jadi bapak melarang ibu untuk ikut. Pusing sekali. Kata bapak tekanan darah rendah.”
“Masih pusing Bu?”
“Tidak, sudah sangat berkurang. Tadi juga ikut memasak bersama bibik.”
“Ibu istirahat saja kalau begitu. Biar diperiksa nih, anak sulung kan sudah jadi dokter,” ledek Arunika yang kemudian dicubit kakaknya.
“Belum ya, masih banyak yang harus dikerjakan nantinya.”
“Susah menjadi dokter ya, itu sebabnya aku nggak suka sekolah dokter. Cari yang enteng-enteng saja.”
“Mana ada sekolah enteng, semuanya mikir, tahu.”
“Tidak seperti Mbak, rumit.”
“Bagaimana tadi Zein, pasti sedih sekali.”
“Waktu kami pulang, dan para pelayat sudah pulang, dia masih di pemakaman, sendiri.”
“Tidak kalian ajak pulang?”
“Nggak mau, malah dia nyuruh kami pulang lebih dulu. Biarkan saja, nanti juga dia bisa menenangkan diri.”
***
“Indras, mengapa tak mengabari aku kalau ibunya Zein meninggal?”
Semuanya terkejut. Pri, teman Indras tiba-tiba muncul di depan rumah. Indras segera turun.
“Kamu membuat aku terkejut saja.”
“Ibu Zein meninggal, mengapa aku tidak diberi tahu? Teman-teman pada tahu semua, jahat kamu In.”
“Kamu saja yang tidak perhatian. Semua pada tahu, apa kamu tidak membaca pesan di grup WA kita?”
"Ponselku rusak. Tadi aku ketemu teman-teman sudah pada pulang melayat.”
“Ya sudah, besok saja kalau keadaan sudah lebih tenang kita ke sana lagi.”
“Aku mau ke sana sekarang. Katakan di mana alamatnya?”
“Ayo, duduklah dulu, aku kirim alamatnya.”
“Tulis saja, kan aku nggak punya ponsel, lagi dibengkel.”
“Baiklah. Ayo masuk dulu, kan aku harus ambil kertas juga.”
***
Tapi berjam-jam kemudian Zein masih bersimpuh di sana. Di depan gundukan tanah basah bertabur bunga, yang mulai layu oleh terik matahari yang menyengat.
Berkali-kali diucapkannya sesal karena ibunya tak sempat menunggui dirinya wisuda.
“Mengapa Ibu tergesa pergi? Sebentar lagi Zein wisuda, tanpa Ibu, lalu apa artinya Bu, untuk apa semua ini? Zein ingin berhenti. Tak usah menjadi dokter, Zein akan menunggui Ibu di sini, Zein akan berhenti.”
Lalu tiba-tiba tangis yang ditahannya menjadi tumpah, seperti anak sungai yang deras membasahi pipinya.
“Zein hanya punya Ibu. Sekarang untuk apa Zein menjadi dokter Bu? Ini keinginan Ibu, tapi Ibu tak mau menunggu. Ibu, Zein akan berhenti saja.”
Zein ambruk di atas gundukan tanah, seperti tak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri. Membiarkan wajahnya kotor, oleh tanah yang bercampur air matanya.
Tiba-tiba seseorang menarik tangannya, begitu kuat, memaksanya berdiri.
Zein berdiri dengan limbung, seseorang itu menahan tubuhnya.
“Seorang laki-laki tidak boleh tumbang didera angin kehidupan.”
Zein terbelalak. Lagi-lagi ia hampir roboh, dan tangan kokoh itu menahannya kembali.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun mBak Tien
Hamdalah sampun tayang
ReplyDeleteπ₯ππ₯ππ₯ππ₯π
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦πΉ
Cerbung eSAaCe_15 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π₯ππ₯ππ₯ππ₯π
Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 15" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng daluπ
Alhamdulilah cerbung " Sakitku adalah Cintaku 15 " sampun tayang maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga sll sehat dam bahagia, salam hangat dan aduhai aduhai bun π€©π€©❤️❤️ππ
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~15 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdullilah..mksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda ππ₯°πΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah, dah tayang , maturnuwun Bu Tien π,tetap sehat semangat dan bahagia ditengah keluarga tercinta, semoga Certa selanjutnya lebih menarik....
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien ππ
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu
Kayanya yang menolong Zein mau jatuh bp Narys
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (15)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 15 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Tidak baik ya Zein...meratap terus di atas pusara ibumu. Biarlah ibu mu istirahat dengan tenang di alam nya.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteTerima kasih pak Munthoni
Terima Kasih...
ReplyDeletePendek amat komennya prof π
Delete