Tuesday, March 31, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 03

SAKITKU ADALAH CINTAKU  03

(Tien Kumalasari)

 

“Zein … “ Indras langsung menyapa.

“Maaf In, aku tidak mengangkat panggilan telpon kamu, dan juga tidak membalas pesan kamu.”

“Kamu marah?”

“Awalnya ingin marah. Tapi sudahlah, bukankah itu kenyataan?”

“Zein, aku minta maaf. Barangkali kamu mendengar sesuatu yang membuat kamu kesal dan marah.”

“Kamu tahu, kalau aku mendengar sesuatu?”

“Aku tahu, dan aku menyesali semua. Kamu tidak usah berkecil hati. Yang penting aku masih tetap Indras yang akan selalu ada di dekat kamu.”

“Terima kasih. Tapi untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa datang ke kampus.”

“Kamu sakit?”

“Ayahku yang sakit. Aku harus menungguinya, sementara ibuku harus tetap berjualan karena harus menghasilkan uang untuk biaya obat dan lain-lain.”

“Ayah kamu ada di rumah sakit?”

“Malam ini masih ada di rumah sakit, tapi besok ibu akan memintanya agar rawat jalan saja.”

“Kalau memang masih harus dirawat, mengapa meminta rawat jalan?”

“Kamu tahulah In, keluargaku tidak mampu membiayai perawatan di rumah sakit.”

“Katakan berapa, barangkali aku bisa membantu.”

“Tidak, aku mohon, jangan lakukan itu. Keluarga aku tidak akan mau. Nanti aku akan bertambah kelihatan rendah di mata orang tua kamu.”

“Zein, aku tidak akan_."

“Jangan, dan jangan! Kamu juga tidak usah datang ke rumah sakit untuk membezoeknya jugal,” tandas kata Zein.

Ini membuat Indras terdiam. Ia bisa mengerti apa yang dirasakan Zein, dan ia tak akan memaksanya, kalau tak ingin membuat Zein marah.

“Baiklah, aku mengerti. Tapi sebenarnya ayahmu sakit apa?”

“Radang paru-paru, sudah sangat parah.”

“Oh, apa sebelumnya tidak pernah periksa ke dokter?”

“Ayahku keras kepala. Ia perokok berat. Dalam keadaan terbatuk-batuk dia masih juga merokok.”

“Zein, kamu harus bisa membuatnya berhenti merokok.”

“Akan aku usahakan. Ini aku ada di rumah sakit. Ibuku pulang karena esok hari harus berjualan. Tapi selepas itu, ibu mau ke rumah sakit dan meminta ayah agar pulang paksa.”

“Aku prihatin untuk keluarga kamu.”

“Indras, ada buku catatan praktikum tertinggal di laci, tolong kamu ambil dan kamu bawa dulu. Kalau ayahku sudah bisa ditinggal aku akan ke kampus.”

“Baiklah, besok akan aku cari buku itu.”

***

Indras termenung. Ia ingin berbuat sesuatu, tapi bingung bagaimana melakukannya. Zein sudah terang-terangan menolak bantuannya. Zein akan marah kalau dia memaksanya. Atau ia akan memberikan uang saja kepada ibunya? Tapi tidak, Zein bukan orang yang suka mengalah. Kalau dia bilang tidak, maka seharusnya juga tidak. Indras merasa tak akan bisa berbuat banyak untuk menolongnya.

“Ada apa?” Indras terkejut, ternyata sang adik masih ada didekatnya, mengawasinya ketika dia bertelpon.

“Ayah Zein sakit.”

“Mbak akan ke sana? Dirawat di rumah sakit?”

“Ya, tapi besok keluarganya akan membawanya pulang paksa.”

“Karena ….”

“Karena tak mampu membayar biaya rawat inap. Jadi memilih rawat jalan saja.”

“Kasihan. Mbak akan membantu?”

“Tidak. Dia tidak akan mau. Zein orang yang keras kepala.”

“Dan sombong?”

“Bukan begitu. Dia hanya tak ingin merepotkan. Ada alasan yang bisa aku terima, jadi aku memang tak bisa apa-apa.”

“Semoga segera sembuh.”

“Radang paru-paru yang sangat parah.”

“Apa tidak bisa disembuhkan?”

“Hanya Allah yang tahu. Apalagi dengan perawatan seadanya. Tapi mujizat itu ada kan? Semoga bisa disembuhkan.”

“Aamiin.”

***

“Kamu bilang hari ini tidak ke kampus?” tanya sang ayah ketika Indras sudah rapi berdandan.

“Ada sesuatu yang harus Indras kerjakan.”

“Ke kampus?”

“Ya.”

“Kencan lagi dengan laki-laki itu?”

“Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit.”

“Kamu mau membezoeknya di rumah sakit?”

“Tidak.”

“Tapi kamu harus membantu kan, biaya rumah sakit tidak murah,” kata sang ayah, bukan karena belas kasihan.

“Dia tidak akan mau dibantu.”

“Masa?”

“Indras pergi dulu, tadi sudah pamit sama ibu.”

Indras langsung kemuju ke arah mobil yang sudah disiapkannya, tanpa menoleh lagi ke belakang, apalagi untuk mendengar ucapan ayahnya yang pasti akan merendahkan Zein sebagai orang yang tidak punya.

“Sudah berangkat dia?” tanya sang ibu yang tiba-tiba sudah berada di ruang tengah, di mana suaminya sedang duduk sendirian.

“Bukankah tadi sudah pamit sama ibu? Dia bilang begitu tadi.”

“Ya, sudah. Hanya akan mengambil barang yang tertinggal.”

“Ayahnya sakit. Aku mengira dia akan menjenguknya di rumah sakit, atau mungkin akan membantunya. Bukankah biaya rumah sakit itu mahal?”

“Dirawat?”

“Sepertinya dirawat. Tadi Indras bilang begitu.”

“Anak itu sepertinya tak akan pernah berhenti.”

“Aku tidak mengira punya anak yang keras kepala seperti Indras.”

“Dia bukan anak kecil lagi.”

“Apa aku suruh Bagas segera melamar ya? Dia kan pernah bilang suka sama Indras.”

“Yang penting Indras dulu. Biarpun dilamar kalau dia tidak mau?”

“Nanti aku akan bilang setelah pulang. Masa dia akan menolak orang sebaik Bagas?”

***

Siang harinya, Zein harus membawa sang ayah pulang. Pulang paksa karena tak adanya biaya. Pesan dari dokter untuk kontrol setiap seminggu sekali disanggupi oleh Zein. Tak apa bagi mereka, asalkan tidak terbebani dengan biaya kamar inap di rumah sakit.

Begitu pulang Indras sudah menelpon, bahwa buku dan semua catatan yang tertinggal telah dibawanya.

“Terima kasih Indras, barangkali besok aku akan mengambilnya di rumah kamu.”

“Aku bawa saja ke kampus, Zein, jadi kamu datang saja ke kampus.”

“Baiklah, tidak apa-apa.”

“Jadi hari ini ayahmu pulang?”

“Ya, apa boleh buat.”

“Aku ingin membantu, tapi_."

“Tidak, kamu sudah pernah menawarkannya, tapi aku sudah menolaknya. Jangan lakukan itu.”

“Baiklah, katakan saja kalau kamu membutuhkan bantuan. Tapi apakah keadaannya sudah lebih baik?”

“Batuknya mereda, tapi tidak sepenuhnya baik. Hari ini badannya panas, dokter mencegahnya, tapi ibuku nekat. Asalkan diberikan obat sesuai anjuran dokter, katanya pasti sembuh.”

“Zein, kamu seorang calon dokter. Kamu pasti tahu sedikit banyak tentang kondisi ayah kamu.”

“Ya, tentu saja. Aku selalu memantau keadaannya.”

Indras mengangguk trenyuh. Apakah orang tak punya tidak berhak mendapat perawatan sampai dia sembuh karena terbebani oleh biaya?

“Zein, aku minta maaf, ada satu saran yang aku harap kamu mau mendengarkannya. Bagaimana kalau minta surat keterangan tidak mampu agar mendapat keringanan biaya?”

“Mungkin bisa, aku akan bicara dengan ibuku.”

“Semoga ada jalan terbaik untuk keluarga kamu.”

“Terima kasih Indras.”

***

Indras pulang ke rumah dan melihat sang ayah sepertinya sudah menunggu.

“Syukurlah kamu cepat pulang.”

“Indras hanya ke kampus, tidak ke mana-mana.”

“Duduklah, bapak ingin bicara.”

Indras melihat sang ibu juga duduk di samping ayahnya. Indras merasa mereka akan mengomelinya tentang hubungannya dengan Zein. Ia meletakkan tas di meja, lalu duduk menunggu.

“Apa kamu tahu, bahwa Bagas pernah bicara dengan bapak tentang kamu?”

“Bicara tentang Indras? Memangnya kenapa?”

“Bagas menyukai kamu.”

“Oh, iya. Indras sudah tahu.”

“Dia mengatakannya sama kamu?”

“Tidak, Indras merasakan dari sikapnya.”

“Dia laki-laki yang baik. Bapak berharap kamu bisa menerimanya.”

Indras menghela napas berat, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.

“Dengarkan bapakmu, In. Bapak hanya ingin kamu bahagia,” sambung sang ibu.

“Tapi Indras tidak mencintai Bagas.”

“Cinta itu tidak bisa datang tiba-tiba. Asalkan kamu sudah menjadi istrinya dan merasakan bagaimana baiknya dia, cinta pasti akan tumbuh di hati kamu.”

“Maafkan Indras,” kata Indras lirih.

“Kamu tetap akan berpegang teguh pada pendirian kamu tentang laki-laki miskin itu?”

“Dia laki-laki yang baik.”

“Berpegang pada cinta yang akan sia-sia.”

“Mengapa sia-sia Pak?”

“Kamu tidak akan bahagia.”

“Indras mohon, Bapak merestuinya dan mendoakan untuk kebahagiaan Indras,” kata Indras lirih, sedikit gemetar. 

Ingatan tentang Zein membuatnya trenyuh. Saat ini dia pasti sedang sedih karena ayahnya sakit dan tidak punya biaya untuk membayar perawatan di rumah sakit. Sekarang dia harus melukainya dengan menerima cinta Bagas?

Tiba-tiba ponsel Indras berdering. Indras segera mengangkatnya, lalu ia berteriak terkejut.

“Inalillahi wa inaillaihi rojiun.” ucapnya kaget.

***

Besok lagi ya.

Monday, March 30, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 02

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  02

(Tien Kumalasari)

 

Indras mengejar lalu mendekati Zein yang sudah naik ke motornya. Ia memegangi setang motor butut itu, yang sudah mulai dinyalakan mesinnya.

“Zein, bukankah kamu tadi bilang bahwa kamu mau singgah sebentar?”

“Maaf, Indras, aku lupa bahwa harus melakukan sesuatu.”

Indras melepaskan setang yang dipegangnya, karena Zein telah memutarnya ke arah keluar.

“Zein …. “

Indras masih membuka mulutnya ketika Zein memacu motornya keluar dari halaman.

“Zeiiiin,” mulutnya berbisik, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan bergegas menuju rumah.

Ketika memasuki ruang tengah, ia melihat ayah dan ibunya masih berbincang. Sekilas ia mendengar nama Bagas di sebut, lalu mereka memuji-mujinya. Mereka tak menanyakan siapa yang mengantarnya, atau mengapa si pengantar tak mau duduk barang sebentar di teras.

Indras menghela napas panjang. Pasti Zein mendengar ketika ayah ibunya berbincang. Pasti ada ucapan yang membuatnya sakit. Ia sudah naik ke tangga pertama ketika itu, kemudian membalikkan tubuhnya tiba-tiba dengan alasan yang sepertinya dibuat-buat.

Indras langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk dan menelpon Zein, tapi tidak diangkat. Lalu ia menuliskan sebuah pesan yang intinya meminta maaf, lalu mencantumkan emotikon cinta berderet-deret di akhir kalimatnya.

Perjalanan cinta memang tak selalu mulus. Dan ini terasa sangat rumit, karena orang tuanya membandingkannya dengan laki-laki lain yang  lebih sesuai dengan keinginan mereka dan dianggap sepadan derajatnya.

“Zein, aku akan tetap mencintai kamu, dan kamu adalah satu-satunya laki-laki yang selalu ada dalam hidupku,” bisiknya.

 Kemudian ia pergi ke kamar mandi. Ia merasa gerah, oleh keringat yang membasahi tubuhnya, karena udara memang panas. Tak ada keluhan ketika ia harus berpanas-panas di boncengan Zein, dan tidak duduk di dalam mobil yang dingin ber AC. Karena ini memang kehendaknya.

***

Ketika keluar dari dalam kamar mandi, dilihatnya sang ibu sudah menunggu.

“Indras, tadi kamu diantar oleh siapa?” justru sang ibu yang bertanya, padahal Indras hampir yakin kalau sang ibu sudah tahu siapa yang mengantarnya.

“Zein,” jawab Indras singkat. Tak ada gunanya ia berbohong. Ia justru ingin menunjukkan kepada orang tuanya, betapa gigih ia mempertahankan cintanya.

“Bapakmu tidak menyukai Zein.”

“Ibu juga kan?”

“Indras, kamu anak tertua, harus bisa memberi contoh kepada adikmu.”

“Apakah ada perilaku Indras yang buruk?”

“Membantah orang tua itu bukan perilaku yang baik.”

“Indras tidak melanggar sesuatu yang buruk. Jatuh cinta itu bukan hal buruk bukan? Indras mencintai Zein.”

“Terkadang pandangan orang tua itu benar. Bagaimana kalau hidupmu tidak bahagia?”

“Kemiskinan bukan ukuran untuk kebahagiaan seseorang. Mungkin dia bukan keluarga berada, tapi dia baik.”

“Terkadang juga, cinta bisa mengaburkan hal buruk menjadi seperti baik.”

“Ibu, berilah Indras restu, agar Indras bisa menjalani hidup dengan baik dan bahagia, walau kelak harus hidup dalam kemiskinan,” kata Indras sambil memeluk ibunya.

“Ibu selalu berdoa untuk anak-anak ibu, tapi jangan membuat ayahmu marah.”

***

Di rumah, Zein tampak murung. Rumah itu kosong, entah ke mana perginya ayah dan ibunya. Ingatan tentang ucapan orang tua Indras masih terngiang di telinganya, dan itu menyakitkan serta sangat membekas. Salahkah kalau ia lahir dari keluarga sederhana? Salahkah kalau orang miskin mencintai orang kaya?

Hari sudah sore ketika sang ibu pulang, seorang diri.

“Ibu dari mana? Ibu tidak pergi sama bapak?”

“Ibu dan bapak pergi ke rumah sakit. Batuk ayahmu tidak berhenti, lalu ibu mengajaknya periksa ke dokter. Ayahmu harus dirawat.”

“Dirawat? Ibu punya uang?”

“Hanya sedikit, biarlah ayahmu istirahat di rumah sakit, besok aku akan mengajaknya pulang.”

“Kalau belum baik, pasti dokter melarangnya pulang.”

“Apa boleh buat. Lebih baik obat jalan saja, biarlah ibu sendiri yang merawatnya. Biaya rumah sakit terlalu mahal untuk kita.”

Zein menghela napas panjang, sedih. Ia teringat lagi tentang apa yang didengarnya ketika berada di depan rumah Indraswari.

Keluarganya miskin, tidak sejajar dengan keluarga Indras yang kaya raya.

“Zein berhenti kuliah dulu saja.”

“Jangan Zein, kamu harus terus kuliah. Masalah ayahmu ibu pasti bisa mengatasinya. Percayalah.”

“Sakit apa sebenarnya bapak?”

“Radang paru-paru. Tampaknya sudah parah. Ibu sedih melihat dokter geleng-geleng kepala, pertanda bahwa ayahmu sudah parah. Sejak masih muda doyan merokok. Bahkan saat batukpun masih juga menghisap asap rokok tanpa rasa takut.”

Zein menatap sang ibu dengan sedih. Perempuan tua itu masih gigih berjualan makanan di dekat pasar, demi menghidupi keluarga, sementara sang ayah karena sakit-sakitan tak bisa lagi bekerja. Walau begitu sang ibu tetap berharap agar anaknya bisa menjadi dokter. Biayanya tidak murah, ia harus membanting tulang siang malam demi memenuhi kebutuhan Zein kuliah. Sekarang suaminya sakit, pasti akan ada biaya tambahan.

“Zein, kamu tidak perlu sedih. Ibu bisa mengatasi semuanya. Pikirkan kuliahmu. Ibu dan ayahmu akan bangga melihatmu bisa menjadi orang.”

Zein mengangguk.

“Zein akan mewujudkan semua cita-cita Ibu dan bapak.”

“Terima kasih Zein”

“Haruskah ibu berterima kasih? Zeinlah yang seharusnya berterima kasih karena ibu telah berjuang demi keluarga ini, demi kuliah Zein, demi semuanya.”

“Sudahlah, itu kan kewajiban seorang ibu. Apa kamu sudah makan?”

“Sudah,” jawab Zein berbohong. Sebenarnya dia tak doyan makan karena memikirkan perlakuan orang tua Indras.

Ketika ia memasuki kamarnya, ia baru membuka ponselnya. Beberapa panggilan dari Indras yang memang sengaja tak diangkatnya. Tapi Zein senang membaca pesan singkat yang dikirimkannya, dengan emotikon cinta berderet-deret. Zein tersenyum, ia tahu Indras amat mencintainya.

Zein menuju ke kamar mandi, untuk segera ke rumah sakit. Ia ingin melihat keadaan ayahnya.

***

Indras gelisah. Hari itu Zein tidak ke kampus. Zein tidak mau mengangkat panggilan telponnya. Zein juga tidak membalas pesan singkatnya.

Indras sudah berkali-kali menelpon lagi. Hasilnya nihil.

Ia pulang dengan wajah suntuk.

Sesampainya di rumah ia melihat Arunika sang adik sedang membaca sambil berbaring di sofa.

“Kamu ngapain?”

“Kok sudah pulang?”

“Ditanya belum jawab, malah gantian bertanya.”

“Mbak kan sudah tahu bahwa aku sedang membaca. Nih, novel baru, asyik nih ceritanya. Tumben Mbak sudah pulang.”

“Nggak ada kuliah hari ini,” jawabnya sambil langsung masuk ke kamarnya, tapi tak disangka, Arun mengikutinya.

“Mbak kelihatan suntuk. Lagi berantem sama Zein?”

“Nggak, aku nggak pernah berantem.”

“Dimarahin bapak karena masih pacaran sama dia?”

“Mau tahu aja.”

“Mbak, ngapain Mbak menolak dijodohkan sama mas Bagas. Dia itu laki-laki yang baik lho. Lagian ganteng amat.”

“Sama kamu aja kalau begitu.”

“Yeee, kan yang diminta tuh mbak Indras.”

“Siapa yang minta?”

“Bagas. Dia pernah bilang sama bapak bahwa dia suka sama mbak.”

“Ngawur.”

“Itu benar. Mbak mau ya?”

“Eh, kok bisa-bisanya kamu ikut jadi mak comblang?”

Arun terkekeh.

“Kok mak comblang sih, aku hanya mendorong agar Mbak mau. Dia jauh lebih baik dari Zein.”

“Karena kamu memuji-muji dia, maka dia buat kamu saja.”

“Nggak ah. Aku sudah punya pacar.”

“Apa? Siapa pacar kamu, kenapa aku belum tahu kalau kamu punya pacar?”

“Masa punya pacar aja harus kasih tahu ke sembarang orang.”

“Kamu anggap aku orang sembarangan?”

“Bukan, maksudku aku belum pantas memperkenalkan pacar aku kepada siapapun.”

“Awas saja kamu, kalau pacaran bukan dengan orang yang sederajat dengan kita, pasti dilarang oleh bapak.”

“Aku juga sedih mendengar bapak memarahi Mbak.”

“Tidak usah sedih. Cinta itu kan harus diperjuangkan. Zein itu baik, entah kapan, bapak dan ibu pasti bisa luluh dan merestui hubungan aku sama dia.”

“Mbak sama Zein itu satu angkatan?”

“Ya.”

“Seneng dong, setiap hari ketemu.”

“Tapi tadi tidak ketemu. Entah kenapa dia tidak ke kampus hari ini.”

“Itu sebabnya Mbak suntuk?”

Ponsel yang berdering menghentikan pembicaraan mereka. Zein menelpon Indras.

***

Besok lagi ya.

Saturday, March 28, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 01

 SAKITKU ADALAH CINTAKU   01

(Tien Kumalasari)

 

Aku bertanya kepada Tuhan, Ya Allah, apakah dia memang jodohku? Aku sangat mencintainya, tapi dia sering sekali menyakitiku. Seakan sudah kering air mata ini karena aku teteskan setiap hari setiap saat, setiap aku mengingatnya.

Dia selalu bilang, aku mencintai kamu, aku bisa mati tanpamu. Ya Allah, apakah ungkapan dibibir itu sama dengan yang ada di dalam hati?

Ketika rumah terasa lengang, karena akulah satu-satunya penghuni yang masih terjaga, aku tak yakin akan bisa menghadapi semuanya sendiri. Di manakah cinta berada, dimanakah sebuah naungan untuk hidupku yang pernah dijanjikannya?

Sesungguhnyalah aku sangat mencintainya, dengan segenap jiwa ragaku. Sesungguhnya aku ingin dia kembali seperti dulu, seperti ketika bertahun-tahun lalu kami sering pergi berdua, makan di warung sederhana berdua, jalan bersama dan melihat bintang bertaburan di langit biru, juga berdua. Di mana keindahan yang pernah mendekapku dalam mimpi-mimpi setiap hari, lalu ketika aku sadari bahwa semuanya adalah kosong? Haruskah aku tinggalkan laki-laki tampan yang selalu mengisi relung jiwaku, dan aku cintai dengan segenap cinta seorang istri?

***

Disebuah kampus, Indraswari berlari-lari kecil ketika dari jauh Zein melambaikan tangannya. Kakinya yang ramping bagai kijang melompat-lompat diantara rumput hijau yang membentang.

Indras hampir saja terjatuh, tepat dihadapan Zein yang kemudian berhasil menangkapnya.

Indras terengah, dan tersipu ketika kedua tangan Zein lama sekali memegangi lengannya. Ia melepaskannya dengan lembut.

“Mengapa berlari-lari?”

“Ingin segera ketemu kamu. Kemana saja dua hari ini?” tanya Indras sambil duduk di samping Zein, yang memegang dua contong es krim yang memang sudah dipersiapkannya untuk sang kekasih.

“Ini untuk kamu. Es krim coklat kesukaan kamu kan?”

“Terima kasih Zein,” katanya sambil menerima yang satu contong, lalu dijilatnya dengan nikmat.

“Di mana belinya?”

“Ada yang lewat tadi, di depan kampus. Untung kamu segera datang, jadi belum terlalu meleleh.”

“Enak,” Indras terus mencecap es krim yang masih menggunung di contongnya.

“Kamu cantik sekali,” kata Zein yang juga sedang mencecap es krimnya, sambil menatap gadis cantik di sampingnya.

“Sudah lama,” kata Indras enteng.

“Iya sih, memang sudah lama.”

“Kemana saja kamu selama dua hari ini?”

“Ada kerabat meninggal di luar kota, aku harus mengantarkan orang tuaku ke sana.”

“Innalillahi, ikut berduka ya.”

“Terima kasih.”

Mereka menghabiskan es krimnya, lalu mengunyah contong pembungkus es krim itu sampai habis.

“Hanya dua hari, tapi aku sudah sangat kangen sama kamu.”

“Benarkah?”

“Benar dong.”

“Heiii, kelas akan dimulai, pacaran melulu,” teriak salah seorang temannya dari jauh.

Zein berdiri, dan Indras mengikutinya, lalu bergegas menuju kelas.

***

Mereka adalah Indraswari dan Zein Abadi yang berteman sejak awal kuliah. Tadinya sih memang hanya berteman, tapi semakin lama, tumbuhlah perasaan cinta diantara keduanya.

Mereka adalah mahasiswa kedokteran yang sudah sampai diujung kelulusannya.

Keduanya tampak serasi, cantik dan tampan. Pasangan itu sering membuat iri teman-teman kuliahnya, karena sebagai pasangan serasi, mereka juga mahasiswa yang pintar.

Tapi bertahun berpacaran, pak Narya, orang tua Indras yang kaya raya sangat menentang hubungan mereka. Zein hanyalah anak dari keluarga sederhana yang tidak sederajat dengan keluarga Narya Kusuma.

Mereka bahkan sudah menyiapkan seorang laki-laki anak sahabatnya yang juga seorang pengusaha.

Tapi Indras tidak tertarik. Laki-laki itu, Bagas, adalah temannya semasa SMA, tapi dia dikenalnya hanya sebagai seorang sahabat. Cinta? Tidak ada rasa itu.

“Kamu itu memang bandel ya In, kamu merasa kalau pilihanmu itu sudah benar?”

“Indras mencintai dia Pak.”

“Apa artinya cinta untuk sebuah kehidupan? Derajat itu lebih penting. Karena kamu tidak akan dihormati tanpa memiliki derajat itu.”

Lagi-lagi masalah derajat.

“Pak, bolehkah Indras memilih jalan hidup Indras sendiri?”

“Tentu saja boleh, kalau jalan hidup yang kamu tempuh itu adalah jalan yang benar. Bapak hanya mengkhawatirkan kamu.”

“Apa yang Bapak khawatirkan?”

“Kamu terbiasa hidup berkecukupan. Bapak tahu siapa Zein, anak siapa dia dan bagaimana kehidupannya. Kamu akan menyesal.”

“Pak, Zein laki-laki yang baik. Pada suatu hari nanti Indras akan tahu bahwa bahagia bukan terletak pada kekayaan yang kita miliki.”

“Omong kosong itu. Namanya orang hidup itu banyak yang dibutuhkan, dan kebutuhan itu bisa terpenuhi kalau kita punya uang.”

Perdebatan demi perdebatan itu sering kali terdengar ketika Indras sedang berbincang dengan ayahnya. Sang ibu yang diam, rupanya setuju dengan pendapat sang ayah.

Tapi bagaimanapun Indras tak mau berhenti. Rasa cintanya kepada Zein sudah terpateri sejak lama, dan ia tak mau melepaskannya, hanya karena Zein anak orang kebanyakan.

Indras juga sering mengajak Zein ke rumah, tapi orang tuanya tak pernah mau menemuinya. Berbeda kalau Bagas yang bertandang, pak Narya berdua selalu menyambutnya dengan keramahan yang prima.

“Ini saatnya makan siang, ajak Bagas makan bersama kita, In,” perintah pak Narya.

“Nggak usah Pak, Bagas sudah makan tadi,” tolaknya halus.

“Jangan menolak, makanan itu juga rejeki, dan menolak rejeki itu tidak baik,” sambung bu Narya.

Indras tentu saja harus mendukung ajakan kedua orang tuanya untuk sang tamu yang memang mereka sukai.

“Ayolah Bagas, memang saatnya kita makan. Benar kata ibu, tidak baik menolak rejeki,” sambung Indras.

Mau tak mau Bagas menerimanya. Mereka makan siang dengan suasana yang sangat akrab, walau Indras lebih banyak senyum-senyum saja dan jarang menimpali pembicaraan mereka.

“Bagas, kamu harus sering datang kemari untuk menemani Indras jalan. Dia itu kutu buku, pekerjaannya membaca dan bersembunyi di dalam kamar,” kata pak Narya.

“Benarkah, Indras?”

“Tidak. Setiap hari Indras pergi keluar, dan jalan bersama teman-teman. Masa saya hanya sembunyi di kamar?”

“Seringnya begitu,” ralat pak Narya.

“Kalau sedang liburan, saya akan datang kemari. Maklum pekerjaan saya belum bisa saya tinggalkan, karena masih baru merintis peninggalan orang tua.”

“Tapi orang tua kamu kan pengusaha sukses, aku yakin kamu juga akan sukses dalam berbisnis.”

“Terima kasih Pak, doa Bapak saya minta.”

“Tentu aku doakan kamu. Ayah kamu sahabat baikku.”

Begitulah kalau Bagas yang datang. Berbeda kalau Indras mengajak Zein ke rumah. Jangankan ikut menemani berbincang, menjenguk dari pintupun tidak.

Walau begitu Indras tetap berpegang pada cintanya, dan yakin bahwa kelak dia akan berbahagia bersama Zein.

***

“Kemarin aku melihat ada mobil tamu di halaman rumah kamu,” kata Zein ketika mereka bertemu di kampus.

“Kamu lewat rumah aku, kenapa nggak mampir?”

“Maunya sih mampir, tapi aku melihat ada tamu, akhirnya aku jalan terus. Aku juga melihat orang tua kamu duduk di teras.”

“Kamu mau ke mana sebenarnya?”

“Pengin jalan-jalan saja. Tamunya siapa sih?”

“Anak teman ayahku.”

“Ganteng ya?”

“Biasalah, laki-laki ganteng. Kalau cantik namanya perempuan dong.”

“Jangan-jangan tamu itu adalah jodoh yang dipersiapkan orang tuamu untuk kamu.”

“Bisa aja.”

“Tak mungkin untuk adikmu, kamu kan anak tertua?”

“Apakah kalau ada anak muda datang ke rumah lalu ada hubungannya dengan perjodohan?”

“Barangkali saja.”

“Ngarang deh.”

“Cemburu boleh dong, namanya juga cinta.”

“Tidak usah cemburu, dia bukan siapa-siapa. Ayah dia temannya bapak.”

“Namanya siapa sih?”

“Kepo amat.”

“Namanya Bagas, tapi tidak usah dipikirkan deh. Yang penting aku hanya suka sama kamu," lanjut Indras.

“Kamu tahu Indras, bahwa aku sangat mencintai kamu.”

“Tidak usah bertanya, aku sudah tahu.”

“Semoga saja kamu juga mengimbangi perasaan aku.”

“Perasaan cinta itu tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata. Sikap dan perilaku yang tampak, sudah menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya."

“Terima kasih Indras.”

***

Hari itu Zein mengantarkan Indras pulang, karena Indras tidak membawa kendaraan. Ia menghentikan motornya, bermaksud segera pulang, tapi Indras mengajaknya singgah.

Zein turun dari motor, tapi di depan teras mendengar suara pak Narya kepada istrinya.

“Lihat Bu, Indras masih saja bersama dia. Apa tidak bisa mencari pasangan yang sederajat dengan kita?”

Zein berhenti melangkah naik ke tangga teras.

“Zein, ayo masuklah, aku buatkan jus segar untuk kamu.”

“Tidak, aku lupa ada yang harus aku kerjakan, aku mau pulang saja,” katanya dingin. Dan membalikkan tubuh dengan membawa luka.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, March 26, 2026

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 28

 SEPOTONG CINTAKU TALK BERSISA  28

(Tien Kumalasari)

 

Ristya masih melongo ketika sang ayah melanjutkan berkata-kata.

“Tadinya aku juga tidak yakin pak Burhan punya keinginan seperti itu, tapi dia dua atau tiga kali mengulanginya. Ia tetap ingin mengambilmu sebagai menantu. Kata pak Burhan, nak Agung sangat mencintai kamu.”

Ristya menghela napas panjang. Ia tahu kalau Agung menyukai dirinya, tapi ia tak menyangka kalau kemudian mengatakannya kepada pak Burhan lalu pak Burhan ‘melamar’ langsung kepada ayahnya.

“Apa jawabmu?”

“Entahlah, Ristya belum bisa menjawabnya.

Bahwa Agung cakap, ganteng, baik hati, santun walau kepada orang tak punya seperti ayahnya, tapi tidak mudah Ristya menjatuhkan cintanya. Ada seseorang yang masih ada di dalam hatinya. Dan seseorang itu adalah Lukman. Ia heran kepada dirinya, walau sudah tahu bahwa Lukman sudah menikah, tapi ia masih memikirkannya? Hal yang sia-sia bukan?

“Apa kamu masih memikirkan nak Lukman?”

Kata-kata ayahnya itu seperti sebuah tembakan yang langsung menembus hatinya. Ia tak pernah mengatakan bahwa antara dirinya dan Lukman ada hubungan cinta, tapi rupanya sang ayah sudah menangkap gelagat yang diperlihatkan keduanya saat datang ke rumah. Ristya tak menjawab.

“Bapak tahu kamu masih memikirkannya. Tapi apa itu ada gunanya? Sejak dia masih bertunangan saja, gadis bernama Sari sudah memperingati bapak ini bahwa Lukman adalah calon suaminya. Apalagi sekarang mereka sudah menikah. Apa yang kamu tunggu?”

Air mata Ristya merebak. Memang benar, apa yang dia tunggu?

“Kamu berhak menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Kamu berhak dicintai dan dilindungi oleh siapapun yang mencintai kamu dengan tulus. Yang sudah berlalu biarlah lewat. Itu adalah sebuah pengalaman hidup yang barangkali berharga untuk diri kamu. Tapi selalu memikirkannya adalah perbuatan yang sia-sia. Kamu hanya akan menyiksa diri kamu.”

Dan itu benar bukan? Tapi bukan berarti ia bisa langsung bisa menerima cinta Agung, atasan yang selalu memperhatikannya.

“Nak Agung itu kurang baik apa, Ris? Dia akan menjadi suami yang sempurna untuk hidup kamu. Kalau sewaktu-waktu bapak meninggal, bapak akan merasa tenang karena kamu berada di samping laki-laki yang bisa melindungi kamu.”

“Bapak jangan bicara tentang ‘meninggal’,” kata Ristya tersendat.

”Semua orang hidup akan meninggal, entah kapan waktunya, tapi itu pasti. Sebelum bapak meninggal, bapak harus yakin kalau kamu hidup dengan nyaman dan tenang, disamping suami yang bisa melindungi kamu.”

“Apakah Bapak yakin pak Agung akan bisa membuat Ristya bahagia?”

“Ketulusan seseorang selalu tampak pada wajahnya, kesehariannya yang selalu bapak perhatikan.”

“Apakah Bapak ingin agar Ristya menjadi istrinya?”

“Bapak kira dia seorang laki-laki yang baik. Bapak yakin kamu akan bahagia bersamanya.”

Ristya diam beberapa saat lamanya. Mencintai bukan perkara mudah. Tapi bahwa Agung baik sudah lama dia mengetahuinya. Lalu ditatapnya wajah tua sang ayah. Begitu trenyuh hati Ristya ketika menyadari bahwa sang ayah berharap agar dirinya bisa menerima Agung. Ia mendekati sang ayah, lalu menyandarkan kepalanya dibahunya. Pak Giman mengelus kepalanya lembut.

“Apakah Bapak yakin bahwa Ristya akan bahagia disamping pak Agung?”

“Bapak yakin. Tapi bapak kan tidak bisa memaksamu. Bapak hanya tak ingin kamu terus-terusan berharap sesuatu yang tak mungkin.”

“Ristya tidak berharap pada sesuatu yang tak mungkin. Tapi ijinkan Ristya memikirkannya untuk beberapa waktu.”

“Pikirkanlah dengan baik, bapak akan minta waktu pada pak Burhan untuk memberi jawaban.”

Pada saat itu ponsel pak Giman berdering.

“Dari pak Min, penunggu rumah kita,” kata pak Giman sambil mengangkat ponselnya, lalu berbicara beberapa saat lamanya.

“Ada apa Pak?” tanya Ristya setelah pak Giman meletakkan ponselnya.

“Pak MIn bilang, ada yang ingin membeli rumah kita. Besok bapak akan minta ijin untuk pulang sebentar, besok kan hari libur?”

“Kalau begitu Ristya ikut. Sudah lama tidak bersih-bersih rumah.”

“Kebetulan kalau ada yang mau membeli, jadi kita tidak usah bolak balik pulang. Di sini sudah nyaman.”

***

Hari itu pembicaraan tentang transaksi pembelian rumah bisa selesai. Pembayaran dan segala sesuatu tentang penyelesaian jual beli itu akan dirampungkan secepatnya.

Ketika pak Giman berbicara dengan calon pembeli itu, Ristya pamit untuk belanja. Lagipula ia kangen berjalan-jalan di kota asalnya, walau hanya sendirian.

Ristya mau memasuki sebuah toko makanan khas asal kotanya, ketika tiba-tiba dilihatnya seseorang, dan orang itu adalah Lukman. Tapi siapa gadis cantik yang berjalan sambil bicara dengan wajah cerah itu?

“Bukan Hapsari,” desis Ristya yang kemudian bersembunyi dibalik rak makanan yang ada di depan toko.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, March 25, 2026

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 27

 SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  27

(Tien Kumalasari)

 

Gadis itu memang Istiana, menatap heran pada sikap Lukman yang tampak gugup.

“Kamu Lukman kan?” ia sampai lupa apakah sudah menyebut namanya atau belum, karena dilihatnya Lukman yang seperti orang kebingungan.

Sekarang Lukman menatap Istiana.

“Aku mau bertemu om Pras, tadi sudah janjian.”

“Oh, tentu. Papa sudah mengatakannya tadi. Tapi papa masih ada urusan, silakan menunggu,” sapa Isti ramah.

Lukman duduk berhadapan dengan Isti.

“Apa kamu tahu, bahwa aku sudah dijodohkan denganmu?”

Lukman terhenyak. Tak mengira gadis bermata lembut itu berani mengungkapkan hal yang semestinya membuat seorang gadis sungkan mengatakannya.

Lukman menatapnya tak berkedip, dan Isti membalasnya tanpa dosa.

“Hanya dijodohkan. Tapi tidak mengharuskan kita harus mengikutinya bukan?”

Tiba-tiba Lukman merasa lega. Ia hanya tertarik atas keramahan gadis itu, dan tentu saja kecantikannya juga. Tapi untuk berjodoh, Lukman membutuhkan cinta. Dan cinta itu adalah Ristya, tak ada duanya.

“Ya, tentu saja.”

“Kamu sudah punya pacar?” lagi-lagi Isti mendahului berbincang tentang kelanjutan perjodohan itu.

“Mmm ….”

“Cowok ganteng seperti kamu pasti sudah punya pacar,” kata Isti enteng.

Lukman tersenyum.

“Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan mengakuinya. Aku tidak suka memaksa orang untuk menyukai aku. Bukankah cinta tidak bisa dipaksa?”

Lukman suka ucapan Isti yang seplas-ceplos tanpa sungkan, tapi diucapkan dengan sangat tulus. Paling tidak itulah  yang dipikirkan Lukman.

“Saat ini aku sedang ingin mencari tahu tentang peninggalan orang tuaku yang sudah tiada.”

“Ya, papa sudah mengatakannya. Papa merasa kasihan karena kamu sebagai ahli warisnya sama sekali tidak tahu tentang peninggalan ayah kamu.”

Lukman mengangguk, karena itu memang benar. Ia hanya tahu bahwa dirinya menjadi beban keluarga Pujo Suroyo sejak masih kecil. Tak ada yang diketahuinya kecuali rasa hutang budi yang selalu digembar-gemborkan oleh om Suroyo ditelinganya, dan om Suroyo menuntut agar hutang budi itu dibayarnya dengan sebuah pengorbanan yang menyakitkan, yaitu ia harus meninggalkan kekasihnya untuk menikahi putri ayah angkatnya itu, yang sama sekali tidak dicintainya.

Ponsel Istiana berdering, kemudian diangkatnya. Isti berbicara yang tidak begitu diperhatikan.

“Lukman, urusan papa ternyata belum selesai. Papa minta agar kita menunggunya sambil berjalan-jalan dulu. Eh maaf, sebenarnya aku sudah lama tidak datang ke Indonesia. Dulu, waktu aku masih SMA, pernah sekali. Sekarang aku sudah lama tidak menginjakkan kakiku di tempat ini. Maksudku, kalau kamu mau menemani aku sambil menunggu papa, aku akan sangat berterima kasih.”

Lukman tersenyum. Ia menyukai gadis yang ceplas-ceplos tanpa rasa sungkan ini, dan dia menyanggupinya untuk menemani berjalan-jalan.

***

“Ristya, tolong periksa lagi laporan bulan lalu yang dikirimkan oleh bagian keuangan,” kata Agung sambil menyodorkan sebuah map berisi berkas-berkas.

Ristya terkejut, karena ia sesungguhnya sedang melamun. Entah mengapa wajah Lukman tiba-tiba terbayang.

“Kamu sedang melamun?” tegur Agung.

“Tidak … tidak. Biar saya kerjakan sekarang.”

Agung menatap wajah Ristya tak berkedip. Ia tahu Ristya sedang memikirkan sesuatu. Sejak kepindahannya di kantor baru, Ristya selalu saja tampak melamun. Ia ingin sekali tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan, tapi Ristya tak pernah mengatakan apapun. Ia selalu menyangkal dan tidak pernah mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hari-harinya.

“Apa kamu tidak suka bekerja di sini?”

“Apa? Tidak, tentu saja saya suka. Mengapa Bapak mengira begitu?”

“Kalau kamu sedang memikirkan sesuatu, ayolah berbagi, bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai seorang sahabat.”

Ristya tersenyum. Dan senyuman itulah yang membuat Agung jatuh hati.

“Bapak mengada-ada. Sekarang biarkan saya mengerjakan tugas yang Bapak berikan ini agar bisa segera selesai.”

Agung mengangguk, lalu membiarkan Ristya melanjutkan pekerjaannya. Tapi matanya tak lepas dari wajah sekretarisnya itu.

***

Hari belum terlalu malam, ketika pak Giman dan Ristya menyelesaikan makan malamnya. Tiba-tiba pak Giman meminta agar Ristya duduk dulu sebelum mengemasi sisa makanan dan piring-piring kotor.

“Ada apa Pak.”

“Duduklah dulu.”

Ristya kembali duduk, menunggu apa yang akan dikatakan sang ayah.

“Tadi sore sebelum bapak pulang, pak Burhan mengajak bapak bicara.”

“Bicara tentang apa?”

“Pak Burhan ingin mengambil kamu sebagai menantu.”

“Apa?” Ristya berteriak.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, March 24, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 39

 BIARKAN AKU MEMILIH  39

(Tien Kumalasari)

 

Dwi mendekati suaminya dan tersenyum.

“Aku menelpon bu Nirmala.”

“Kamu ke sana?”

“Tidak, aku hanya menelpon.”

“Bicara tentang apa? Lalu kemana saja kamu sejak pagi pergi sampai siang baru kembali?”

“Banyak yang harus aku lakukan. Diantaranya aku ke kantor dan membuat surat pengunduran diri.”

“Kamu? Mau mengundurkan diri?”

“Bayi yang aku kandung agak rewel. Aku berkali-kali tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai manager pemasaran. Jadi lebih baik aku istirahat saja dulu. Bagaimana menurutmu?”

“Aku sangat setuju. Kasihan melihat kamu sering tersiksa karena kandungan kamu. Tapi aku bahagia, akhirnya kamu akan melahirkan anakku, hal yang sudah lama sekali kita rindukan.”

Dwi tersenyum, sedikit kaku, karena meruntuki dirinya ketika hampir saja ia menggugurkannya kalau saja Adri tidak mengingatkannya.

“Kita akan pulang ke rumah kita bukan?”

“Tadi aku ketemu Wati juga.”

“Kamu? Kamu memarahinya? Wati tidak sepenuhnya bersalah. Ada hal yang membuat dia melakukannya. Aku kesetanan karena obat yang diberikan ibu waktu itu.”

“Aku sudah tahu semuanya. Aku tidak memarahinya. Aku hanya ingin tahu apa yang diinginkannya. Bagaimanapun dia sudah mengandung anak kamu.”

“Dia bilang apa?”

“Dia hanya ingin menikah demi anak yang dikandungnya. Tapi dia tidak ingin menjadi istrimu sepenuhnya. Setelah anak itu lahir, dia minta kamu menceraikannya.”

Anton menarik napas lega. Ada beban yang sedikit terlepas. Dwi tampak tidak terpengaruh dengan hamilnya Wati.

“Kamu mau kan, pulang ke rumah setelah aku sembuh?”

“Aku bahkan mau hidup serumah dengan maduku.”

“Apa? Dia punya rumah sendiri, aku akan mencukupi kebutuhannya.”

“Biarlah aku menikmati hidup yang sangat berbeda dari sesuatu yang pernah aku impikan. Hidup berdua selamanya. Tapi  nanti aku akan hidup bersama maduku. Entah bagaimana rasanya. Tapi aku kira semuanya akan baik-baik saja.”

Anton menatap kesungguhan pada wajah sang istri. Jawaban itu menggambarkan bahwa Dwi tidak bersikeras ingin bercerai, bahkan ingin pulang ke rumah bersama-sama.

“Kamu tidak percaya? Aku sudah memilih, dan pilihanku adalah kembali.”

Anton ingin sekali memeluk sang istri, tapi sebelah tangannya masih tersangkut di selang infus. Rona bahagia itu tergambar pada binar matanya yang digenangi telaga bening. Dwi melihatnya, lalu merengkuh suaminya dalam pelukan yang hangat.

***

Berhari berminggu berbulan sudah berlalu. Pada suatu hari saat pagi, Adri heran melihat sang istri masih meringkuk di ranjang.

“Hei, pemalas. Ini jam berapa? Habis subuh tidur lagi?” ledek Adri.

Nirmala hanya menggeliat, tapi kemudian meringkuk lagi sambil memeluk guling.

“Nirma, ada apa kamu?”

“Mmmmh … males … ,“ lalu Nirmala berguling ke arah samping, membelakangi suaminya, sambil masih tetap memeluk guling, membuat Adri gemas, lalu berbaring disampingnya, memeluknya dari belakang.

“Jangan Dri, perutku mual bau keringat kamu,” keluh Nirmala.

Adri melepaskan pelukannya, mencium ketiaknya.

“Wangi tuh, aku kan sudah mandi.”

“Nggak mau, pokoknya Adri bau.”

Adri mengerutkan keningnya. Kemarin tidak apa-apa, tiba-tiba sekarang mengatakan dirinya bau, dan enggan didekati?

Adri masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dan menggosoknya dengan sabun bertubi-tubi.

Tapi ketika ia keluar, masih mendapati istrinya masih meringkuk, ia mendekat lagi.

“Nirma, aku sudah wangi,” katanya lembut.

“Wangi atau tidak, aku nggak mau dekat sama kamu,” sentaknya, membuat Adri heran.

“Nirma, benar ya, nggak mau dekat sama aku?”

Adri keluar dari kamar dengan hati linglung. Tidak biasanya Nirmala bersikap seperti itu.

Ketika itu tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata dari sang ibu mertua.

“Adri, ini kamu kan?”

“Iya Bu, saya.”

“Aku menelpon istri kamu dari tadi tidak diangkat. Ini libur kan? Masa dia pergi ke kantor?”

“Tidak, dia masih tidur.”

“Tidur? Jam segini masih tidur? Apa dia sakit?”

“Tidak Bu, tiba-tiba dia tidak mau saya dekati, dia bilang saya bau, saya mandi lagi, dan yakin sudah wangi, tapi dia tetap tidak mau dekat sama saya. Sekarang masih meringkuk tidak mau bangun.”

"Tapi tidak sakit?”

“Dia tidak mengatakan apa-apa, atau mengeluh sakit. Dia hanya tidak mau dekat sama saya dan terus-terusan mengatakan bahwa saya bau.”

Adri heran ketika kemudian mendengar sang ibu mertua tertawa.

“Dri, jangan-jangan istri kamu hamil.”

“Apa?” Adri tersentak tiba-tiba. Nirmala hamil? Tapi kemudian wajahnya sumringah.

“Hamil? Benarkah Bu?” katanya setengah berteriak.

“Melihat tanda-tandanya Dri. Orang hamil itu terkadang aneh. Coba kamu bawa dia ke dokter untuk meyakinkannya.”

“Baik, baiklah Bu,” jawab Adri bersemangat.

“Tunggu, sebenarnya tadi aku mau bicara sama Nirma, ayahnya kangen sama cucunya. Sudah lama kalian tidak membawa Tama menemui kakek dan neneknya.”

“Iya Bu, rencananya hari ini sebenarnya, tapi nggak tahu itu, sepertinya nggak mau dekat-dekat saya.”

“Berikan ponselnya pada Nirma, biar ibu yang bicara.”

Adri masuk kembali ke kamar, memberikan ponselnya kepada Nirmala, yang masih meringkuk memeluk guling. Tapi ia menerima ponsel itu dan mendengarkan sang ibu bicara.

Adri berdiri agak jauh, dan mendengar sang istri menjawab.

“Ya Bu..  benar, nggak tahu kenapa ini … apa? Hamil?”

Adri ikut tersentak mendengar Nirmala berteriak. Lalu ia senang mendengar Nirmala mengatakan bersedia periksa ke dokter.

Lalu dilihatnya Nirmala bangkit, lalu menyerahkan ponsel kepadanya.

“Dri, antar aku ke dokter ya, kata ibu kemungkinan aku hamil.”

“Tapi ini hari Minggu Nirma.”

“Oh iya, kalau begitu belikan aku tespack di apotik saja. Terkadang itu juga cocok.”

“Baik, nanti Aku belikan.”

“Sekarang Dri, jangan nanti,” sentaknya.

“Baik, baik,” kata Adri sambil bergegas keluar kamar. Tapi dari luar Adri mendengar Nirmala berteriak.

“Adri, bukankah kamu memang ingin punya anak lagi?”

Adri berhenti, lalu melongok ke dalam kamar. Dilihatnya Nirmala menatapnya sambil tersenyum.

Adri mengacungkan jempolnya. Dua jempolnya. Wajah Nirmala berseri, bagai matahari baru muncul dari ufuk timur.

***

 Pernikahan antara Anton dan Wati sudah berlangsung. Dwi bahkan menunggui saat akad nikah.

Tapi ketika Dwi mengajaknya tinggal bersama di rumah Anton, Wati menolaknya.

“Saya akan tinggal di rumah saya sendiri.”

“Tapi kamu kan terkadang harus periksa ke dokter, terutama tentang kandungan kamu?” kata Dwi.

“Nanti gampang. Saya kan sehat, jadi tidak perlu diantar,” jawab Wati sambil tersenyum.

“Kalau ada apa-apa hubungi aku, kamu kan sudah aku beri nomor kontakku?”

“Iya Mbak, terima kasih. Tapi nanti kalau saya melahirkan, anak saya akan tetap saya serahkan pada keluarga mas Anton.”

“Kamu serius?”

“Saya sangat serius.”

Tak ada yang bisa menolaknya. Sebuah drama kehidupan telah berakhir dengan baik. Setidaknya dalam waktu sekarang ini. Semoga sebuah pelajaran bisa didapatkan, tentang kebohongan, tentang sikap diam dalam menyikapi sebuah masalah. Lalu sebuah komunikasi memang seharusnya dilakukan.

Siapa tahu sebuah perjalanan masih akan berlanjut.

***

T A M A T

 

 

Apa kamu tahu, bahwa hidup memang adalah pilihan? Masih tentang pilihan di kisah ini. Ada cinta yang tersamar, ada ketakutan ditinggalkan, tapi tak bisa menghentikan perilaku yang menyakitkan pasangan.

Sakit hati dan dendam ternyata bisa terbawa dalam hari-hari yang panjang.

Tunggu cerita selanjutnya. SAKITKU ADALAH CINTAKU.

Yuk, tungguin. Sabar ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 07

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  07 (Tien Kumalasari)   Indras keluar dari kantin, setengah berlari untuk mengejar Zein yang urung memasuki kantin....