SAKITKU ADALAH CINTAKU 07
(Tien Kumalasari)
Indras keluar dari kantin, setengah berlari untuk mengejar Zein yang urung memasuki kantin.
“Zein! Tunggu Zein!’
Lalu karena Zein tidak berhenti, maka Indraspun berlari, lalu berhenti tepat di hadapannya, menghadang Zein yang akan melanjutkan langkahnya.
“Ada apa ini Zein, aku tidak mengerti semuanya.”
“Apakah aku sendiri yang harus mengerti?”
“Zein, katakan ada apa.”
“Apa yang harus aku katakan?”
“Zein, jangan begitu, ayo kita bicara.”
Tak merasa sungkan, Indras menarik lengan Zein, diajaknya duduk di bawah pohon. Wajah Zein tampak kaku, sedih Indras melihatnya.
“Zein, katakan apa yang terjadi.”
“Tanyakan kepada diri kamu sendiri.”
“Aku kenapa? Aku tidak punya pertanyaan untuk diri aku sendiri. Aku terkejut ketika sikap kamu berubah, lalu tiba-tiba memutuskan hubungan kita.”
“Bukankah aku sudah membuat kamu lega?”
“Apa maksudnya?”
“Kalau kita putus, kamu boleh mengadakan hubungan dengan siapapun juga. Bukan laki-laki miskin seperti aku. Bukankah harusnya kamu berterima kasih padaku?”
“Aku tetap tidak mengerti,” sungut Indras.
“Aku tahu kamu banyak pengagum. Kamu cantik, pintar, kaya.”
“Lalu apa?”
“Kamu bebas memilih kan?”
“Zein, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan.”
“Tentu saja aku tahu.”
“Kamu salah menilai aku. Kamu tahu apa yang aku rasakan, bertahun-tahun kita kenal, dekat, kemudian saling suka. Apa yang salah dalam semua ini?”
“Yang salah adalah kamu keliru dalam memilih. Aku hanya orang miskin.”
“Bukankah aku sudah tahu keadaan kamu sejak bertahun lalu?”
“Terkadang orang terlambat menyadarinya. Setelah berjalan, kamu baru tahu kesalahan kamu dalam memilih sesuatu.”
“Itu pernyataan konyol. Kamu tidak sadar apa yang kamu katakan.”
“Sudahlah Is, lupakan aku, daripada aku merasa sakit.”
“Kamu sakit kenapa? Aku menyakiti kamu?”
“Ayahmu tidak menyukai aku, dan kamu sudah punya seseorang yang jauh lebih segalanya daripada aku.”
“Zein, ayolah. Aku masih seperti dulu.”
“Masa?”
“Apa aku harus bersumpah?”
“Jangan. Sumpah itu berat.”
Indras kehabisan kata-kata. Sekarang air matanya merebak, dan mulai menetes membasahi pipinya.
Isak itu membuat Zein kemudian menoleh ke samping, di mana kemudian Indras mengusap pipinya dengan telapak tangan.
“Indras, aku melakukan sesuatu yang benar. Aku sudah tahu ada seseorang yang lebih pantas. Dan itu pasti lebih disukai orang tua kamu.”
“Tidak ada … tidak ada ….”
“Aku melihatnya, dan kalian tampak lebih serasi.”
Indras menatap Zein, mereka berpandangan. Saling memandang dengan tatapan sayu, sedih.
“Kamu melihat apa?”
“Melihat kamu dan dia.”
“Oh, kemarin? Aku dan Bagas?”
“Tanpa aku, kamu bisa memilih mana yang lebih baik.”
“Kamu salah paham Zein. Kemarin aku pergi dengan Bagas, karena aku ingin mengatakan bahwa aku sudah punya kamu.”
Zein melembutkan tatapannya. Perkataan itu sedikit meluluhkan kekakuan hatinya.
“Apa kamu mengira aku sedang bersenang-senang? Tidak Zein, kamu salah sangka. Dia menyatakan cinta, tapi aku mengatakan yang sebaliknya. Itu karena aku memilih kamu.”
“Orang miskin yang tidak sederajat? Bukankah begitu ayahmu mengatakannya?”
“Zein, aku memilih kamu tanpa peduli siapa kamu dan bagaimana keadaan keluarga kamu. Aku mencintai kamu karena kamu baik dan sangat melindungi aku.”
Zein terdiam. Ia bukan tidak mencintai Indras lagi. Ia cemburu dan merasa bahwa dirinya memang tidak pantas berada di samping Indras. Keputusan yang diambilnya dirasa tepat. Ia ingin fokus kepada kuliahnya dan menjadi orang yang berhasil seperti keinginan orang tuanya.
Isak kecil itu masih terdengar. Zein mengulurkan sebuah saputangan. Indras menerimanya. Ia menghapus sisa air matanya.
Tiba-tiba Zein berdiri, lalu menarik lengan Indras.
“Aku lapar.”
Indras tersenyum. Sebuah kedamaian tercipta tanpa kata-kata. Ungkapan yang dikatakan oleh masing-masing adalah sebuah gencatan senjata kalau saja pertentangan itu dianggap sebuah peperangan dengan senjata masing-masing untuk saling menyerang.
***
Ketika memasuki kantin, Pri masih menyendok makanannya. Ia menoleh kearah kedatangan Zein dan Idras lalu mulutnya cemberut.
“Kamu bilang akan mentraktirku, tapi kamu kabur,” omelnya sambil menatap Indras, yang terkekeh senang.
“Bukankah kamu yang memaksa ingin mentraktir karena baru saja mendapat kiriman?”
“Katamu aku harus berhemat.”
Zein tertawa.
“Ayolah, pesan lagi saja. Kali ini aku yang akan mentraktir.”
Lalu mereka duduk bertiga.
“Zein menyakiti kamu?” tanya Pri yang pastinya melihat bekas air mata di wajah Indras.
“Jangan berpacaran dengan laki-laki yang suka menyakiti. Aku laki-laki baik, lembut, penuh kasih sayang. Pilih aku saja,” kata Pri sambil menyuapkan suapan terakhirnya.
Zein dan Indras tertawa.
“Berani? Lompati dulu mayatku,” sergah Zein yang membuat ketiganya tertawa.
“Aku masih lapar, pesankan satu porsi lagi sekalian kamu memesan makanan kamu,” kata Pri sambil menatap Zein, yang dijawab Zein dengan anggukan, dan acungan jempol kanannya.
***
Pak Narya menelpon Bagas setelah beberapa hari Bagas pulang.
“Aku tidak mengira Indras sekeras itu. Apa yang salah padamu, Bagas?”
“Bapak, saya bisa menerimanya dengan ikhlas.”
“Pasti kamu kesal dan marah sekali bukan?”
“Tidak, mengapa saya harus marah? Siapapun berhak memilih, jadi tidak apa-apa bagi saya ketika mengetahui bahwa Indras menolak saya.”
“Aku melihat kalian sangat cocok, dan selalu kompak dalam berbincang, aku pikir kalian lebih pas untuk berjodoh.”
“Kami lebih pas untuk bersahabat. Tidak apa-apa Pak, kami masih bisa saling bertemu walaupun Indras tidak mencintai saya.”
“Aku tidak suka pada laki-laki itu. Indras tidak bisa memilih pasangan yang lebih baik.”
“Yang penting Indras bahagia. Sungguh tidak apa-apa, dan saya berharap Bapak juga bisa menerimanya.”
Pak Narya diam, tapi bukannya dia sependapat dengan apa yang dikatakan Bagas.
“Bahagia tidak cukup hanya cinta. Dalam hidup banyak hal yang dibutuhkan. Kehidupan yang layak, pasangan yang serasi, dan masih banyak lagi. Lalu apa yang dimiliki Zein Abadi yang tidak memiliki apapun kecuali tampang dan penampilannya?"
Berkali-kali pak Narya menganggap Indras begitu bodoh karena melihat Zein hanya dari sisi penampilannya saja.
***
Hari begitu cepat berlalu. Bagas menepati janjinya untuk sering berkunjung, tapi kali terakhir dia datang, Indras sedang menjalani co-ass di sebuah rumah sakit yang ada di kota lain.
Alhasil dia hanya ditemui oleh pak Narya dan istrinya.
“Telpon saja dia Bagas, barangkali untuk tiga bulan mendatang dia tidak pulang.”
“Tidak mudah kalau ingin menjadi dokter ya Pak.”
“Ya, begitulah. Memang itu yang menjadi pilihannya.”
“Semoga berhasil.”
“Aamiin.”
“Segera mencari gadis yang cocog Gas, walaupun urung menjadi menantuku, kami adalah tetap keluarga kamu, karena ayahmu itu sahabat aku.”
“Iya, doakan saja ya Pak. Sampai saat ini belum laku nih.”
“Kamu gagah tampan, mapan. Sangat gampang menemukan gadis yang cocok. Bodoh sekali kalau ada yang menolaknya,” kata pak Narya sambil mengingat kembali penolakan Indras atas lamaran Bagas.
“Barangkali memang belum ketemu jodoh.”
***
Bu Iman lebih sibuk berdagang makanan. Sedikit banyak hasil berdagang itu hanya untuk anak semata wayangnya. Terkadang jam dua malam dia sudah bangun untuk mempersiapkan dagangannya. Kebutuhan untuk kuliah Zein lebih banyak dari biasanya, karena sekarang Zein harus kost di kota lain yang dekat dengan rumah sakit tempat dia menjalani program co-ass demi tercapainya cita-cita untuk menjadi dokter.
Kebetulan Indras dan Zein mendapat tugas di rumah sakit yang sama, walau berbeda bagian. Jadi saat senggang mereka masih bisa bertemu.
Tapi Zein selalu mencukupi semua kebutuhannya sendiri, dan menolak bantuan yang ditawarkan Indras.
“Ibu mencukupi semua kebutuhan aku, jadi jangan kamu merepotkan diri untuk membantu aku. Itu juga agar orang tua kamu tidak semakin merendahkan aku.”
“Zein, lupakanlah mereka dan sikap mereka. Orang tua terkadang begitu. Tapi nanti ketika melihat ketulusan kamu, aku percaya mereka akan luluh kok,” kata Indras yang selalu menghibur kekasihnya.
Tapi hari itu Zein gelisah. Sebuah kabar membuatnya dia harus pulang. Ibunya sakit.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah....
ReplyDeleteSuwun mb Tien
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteMatur nuwun mBak Tien.
ReplyDeleteDalam kesibukan terima tamu dari Yogja, masih menyempatjan menulis untuk kita semua.
Salam sehat nggih.
Tetap semangat
Sami2 mas Kakek. Salam sehat juga
DeleteTerima ksih bunda cerbungnya..slmt weekand bersm keluarga dan slm sht sll unk bunda sekel๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida. Salam sehat juga
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Matur suwun Bu Tien
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteMatur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni
Delete๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐น
Cerbung eSAaCe_07 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin๐คฒ.Salam seroja ๐
๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulilah hirobbil Alamiin
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien, ๐sehat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta........semoga perjuangan indras dan Zein dpt mewujudkan cita dan cintanya....๐
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun i bu Ida
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Sakitku adalah Cintaku 07 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.
Zein...ujian hidup nya banyak, semoga Zein tabah dlm menghadapi nya.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteTerimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu
ReplyDeleteLuar biasa dialog antara Lukman dan Indras. Lama-lama Mbak Tien bisa sekelas Buya Hamka dalam mebuat dialog..
ReplyDeleteCara Bagas mengatakan kekecewaannya seperti benar-benar terjadi. Kalau dibuat film ini, pasti bagus..