SAKITKU ADALAH CINTAKU 12
(Tien Kumalasari)
Zein menatap Arun tak berkedip, barangkali adik Indras yang jarang bertemu dengannya ini sedang mengajaknya bercanda. Tapi Zein menganggap bahwa itu sama sekali tidak lucu. Bapak siapa yang dia maksud? Bapaknya dia? Ini kan benar-benar candaan yang tidak lucu. Wajah Zein tidak berubah. Tetap kuyu dan tampak lelah.
Ia bahkan tidak sedikitpun berniat menerima amplop tebal yang diulurkan Arun ke hadapannya.
“Zein, terimalah ini. Bukankah kamu membutuhkan uang? Apa kamu ingin menolaknya dan tidak peduli bahwa sakit ibumu membutuhkan banyak biaya?”
“Arun, aku sedang kacau, jangan mengajakku bercanda.”
“Zein, aku tidak bercanda, tolong terimalah ini.”
Kali ini Arun menarik tangan Zein dan menyelipkan amplop yang dibawanya ke tangan Zein, lalu membuat jari-jari tangan Zein menggenggamnya.
“Ini dari Indras?”
“Bukan. Mbak Indras bahkan tidak tahu berapa uang yang aku bawa. Ini dari bapak. Bapakku. Pak Narya Kusuma, untuk kamu, untuk meringankan beban kamu selama ibumu sakit.”
“Narya Kusuma? Ini tidak mungkin. Ini akal-akalan Indras dan kamu, untuk memaksa aku menerimanya.”
“Sudah aku bilang kalau mbak Indras tidak tahu. Bapak menyuruh aku membawa uang ini dan menyerahkannya pada kamu.”
“Yang membuatku merasa tidak mungkin adalah aku yakin bahwa ayahmu, sang pengusaha kaya raya dan memiliki derajat setinggi langit itu sangat membenciku. Benci karena aku bukan orang yang sederajat dengannya. Aku hanya orang hina dan rendahan,”
“Zein, aku minta maaf atas sikap orang tuaku. Tapi kelihatannya bapak sangat menyesal. Menyesal karena pernah melakukan hal buruk dengan merendahkan orang lain.”
“Menyesal?”
“Benar Zein. Tolong abaikan rasa rendah yang kamu rasakan, ibu yang sakit butuh biaya agar mendapat penanganan terbaik. Terimalah Zein.”
Zein masih menggenggam amplop tebal itu. Memang benar ia butuh biaya. Kalau menuruti kata ibunya, sang ibu ingin segera pulang. Yang dipikirkan pastilah masalah biaya. Jadi apakah ia harus mengabaikan rasa direndahkan itu demi ibunya, atau tetap berpegang pada keangkuhan yang dimilikinya.
“Zein, ini masalah nyawa. Pikirkan itu. Atau kalau kamu merasa tidak ingin dibantu, anggaplah ini sebagai hutang. Pada suatu hari nanti kamu akan membayarnya.”
Zein masih ragu, sampai ketika seorang perawat mendekat.
“Mas, obat yang ditulis dokter ini di rumah sakit sedang kosong. Bagaimana kalau Mas mencarinya di apotik di luar sana?”
“Oh, baik. Akan aku carikan.”
“Tapi obat ini lumayan mahal. Saya tidak tahu berapa harganya. Seandainya di rumah sakit ada, ibu Iman pasti bisa dengan mudah mendapatkannya."
“Zein, ayo aku antar mencarikan obatnya,” kata Arun yang tanpa sungkan kemudian menarik tangan Zein, yang masih saja kebingungan.
Ada yang aneh, tapi Zein tidak sempat memikirkannya. Bahkan ketika Arun membawanya ke mobil lalu memerintahkan sopirnya untuk pergi ke apotik.
“Apotik mana Non?”
“Apotik mana saja, pokoknya yang punya obat ini. Barangkali apotik besar, nanti kita bisa bertanya-tanya dulu.”
Zein diam, masih dengan perasaan linglung ketika ia duduk di jok belakang sambil masih menggenggam amplop yang diberikan Arun.
***
Bahkan ketika mereka kembali ke rumah sakit, dan menyerahkan obat kepada perawat, Zein masih merasa seperti mimpi.
“Bagus sekali Mas, dokter memerlukan obat ini. Untunglah Mas mendapatkannya,” kata perawat itu dengan wajah cerah, lalu menjauh meninggalkan Zein yang kemudian duduk di sebuah kursi.
“Zein, tadi aku ingin melihat ibu kamu, bolehkah aku menemuinya? Setelah itu aku mau pamit pulang,” kata Arun.
Zein mengangguk, lalu membawa Arun ke sebuah ruangan khusus, yang entah bagaimana caranya, ibunya bisa ditempatkan di ruangan itu, yang kata perawat mendapat perhatian khusus dari dokter yang menanganinya.
Ketika mereka masuk ruangan, di mana yang boleh masuk hanyalah Zein atau keluarga dekat, bu Iman sedang membuka matanya, tapi masih ada ventilator terpasang.
Zein segera mendekat.
“Bagaimana keadaan Ibu?”
”Baik,” katanya lemah.
“Ini Arunika, adiknya Indras,” kata Zein memperkenalkan Arun, yang kemudian menyalami bu Iman.
“Mbak Indras masih bertugas, saya mewakilinya,” kata Arun sekenanya, tapi membuat bu Iman tersenyum tipis.
Tapi mendengar itu, bu Iman kemudian menatap Zein. Barangkali ingin mengatakan, mengapa Zein tidak segera kembali bertugas. Zein mendekat, membisikkan sesuatu ke telinga ibunya.
“Kalau keadaan Ibu baik, Zein akan segera kembali bertugas.”
Tiba-tiba dokter memasuki ruangan. Zein dan Arun mundur menjauh.
“Ibu Iman keadaannya membaik. Tapi ia akan terus dipantau. Kalau Mas ada tugas yang penting, lakukan saja. Ada perawat khusus yang akan memantau keadaan bu Iman, siang dan malam. Dia akan terus mengabari keadaan bu Iman di setiap perubahan yang ada,” kata dokter itu, yang kemudian mendekati bu Iman.
“Ibu akan sembuh, jangan khawatir.”
Zein merasa sangat lega. Tapi ia belum tega meninggalkan sang ibu.
“Zain akan tetap di sini sampai ibu benar-benar sehat.”
Tapi bu Iman menggoyang-goyangkan tangannya.
“Pergilah … ibu tidak apa-apa.”
Dokter menatap Zein sambil tersenyum.
“Seharian ini Mas akan melihat keadaan ibu. Kalau keadaan stabil, ventilator akan dilepas, dan Mas boleh melanjutkan tugas co-ass yang Mas jalani,” kata dokter yang sudah tahu bahwa Zein adalah calon dokter yang sedang menjalani tugas sebagai co-ass.
Zein mengangguk, dan melihat bibir sang ibu menunggingkan senyum.
***
Zein yang masih bingung oleh banyak kejadian yang tidak disangka, hanya mengantarkan Arun sampai ke lobi.
“Mbak Indras titip salam.”
“Sampaikan salamku juga. Dan tentang uang itu ….”
“Jangan dipikirkan dulu, yang penting semua kebutuhan ibu terpenuhi.”
Arun melambaikan tangannya ketika sopir menjemputnya di depan lobi.
Zein kembali masuk ke dalam, sambil terus berpikir. Banyak kebetulan yang tidak pernah dibayangkannya. Ketika ia menganggap sang ibu sudah dalam keadaan kritis, tiba-tiba ada perlakuan khusus dari dokter yang memantau keadaan ibunya siang malam, ditempat yang lebih baik dan tidak bercampur dengan pasien lain. Baru saja dia menebus obat di apotik luar yang harganya minta ampun, entah obat apa yang seandainya tidak ada uang yang diberikan Arun maka dia tak akan mampu menebusnya. Ada apa ini?
Allah menolong dengan sesuatu yang sangat diluar nalar. Biaya rumah sakit dengan kondisi yang seperti diterima ibunya memerlukan biaya yang sangat mahal, bagaimana dia harus membayarnya?
Zein masuk ke dalam ruang rawat ibunya, dan melihat sang ibu tampak lelap dalam tidurnya.
Zein duduk di sofa, lalu membuka amplop dari Arun yang sejak tadi masih dipegangnya. Uang di dalamnya sudah berkurang beberapa juta untuk menebus obatnya. Ia menghitung sisanya, dan merasa bahwa beberapa juta yang tersisa tetap tak akan cukup untuk membayarnya. Zein merasa pusing sampai kemudian tertidur dalam keadaan duduk bersandar. Masa dia akan menolak semuanya? Nyatanya uang yang katanya diberikan oleh pak Narya ada juga gunanya. Minta agar dikembalikan ke zal yang lama dan diperlakukan sebagai pasien biasa yang tidak ada perlakuan khusus?
Tapi nyatanya sang ibu tertolong. Segala keputus asaan yang semula mencengkeram dadanya, berubah menjadi sebuah harapan yang sedikit membesarka hatinya.
Zein terbangun ketika mendengar suara memanggilnya.
Zein membuka matanya, lalu bergegas mendekati sang ibu.
“Mengapa masih di sini?”
Hanya itu yang dipikirkan sang ibu.
“Iya Bu, nanti kalau dokter mengatakan bahwa Ibu sudah bisa ditinggalkan, Zein akan kembali menjalankan tugas lagi.”
Bu Iman tak menjawab, dan Zein merasa, apakah kalau dia menuruti perintah ibunya maka ibunya akan bisa lebih cepat menjadi baik? Bukankah suasana hati juga bisa membantu kesembuhan seseorang?
***
Pagi harinya bu Iman sudah bangun, Zein duduk menunggu, dan dokter mengadakan pemeriksaan lagi.
Zein menunggu di luar, dan sedang berpikir apakah dia bisa segera meninggalkan ibunya atau masih harus menungguinya, ketika tiba-tiba ia melihat Indras datang, dan dia tidak sendiri.
***
Besok lagi ya
Alhamdulillah....
ReplyDeleteNuwun mas Kakek
DeleteSueun mb Tien
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien ku sayang.
Wah gayeng ya td siang di acarakan teman² saka Semarang.
Ho oh jeng.. ana2 wae.. wis kliwat jik nekat. Tapi seneng
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteHatur nuhun bunda..slm sht sll unk bunda sekeluarga 🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida
DeleteSalam.sehat juga
Alhamdulillah episode 13 sdh tayang. Terima kasih bu Tien. Semoga bu Tien sekeluarga slalu dalam karunia Allah sehat2 slalu. Salam aduhai.......
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Suroto
DeleteMatur suwun Bu Tien.🙏🙏🙏
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
Delete🪴🎋🪴🎋🪴🎋🪴🎋
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung eSAaCe_12
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🪴🎋🪴🎋🪴🎋🪴🎋
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah indras dah hadir, maturnuwun Bu Tien 🙏semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta,......
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulilah. Matur nuwun Bunda
ReplyDeleteSemoga ibu imam cepat sembuh.
Zein masih bingung... Siapa tuh yang datang bersama Indras ?
Tunggu besok...
Sami2 bapak Endang
DeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (12)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 12" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng dalu🙏
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis
DeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 12 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Syukuri apa yang ada ya Zein, semoga ibumu tertolong.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteTerimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aamiin YRA
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah
DeleteMatur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun pak Bam's
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteIndras datang dengan ayahnya kah?
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...