SAKITKU ADALAH CINTAKU 10
(Tien Kumalasari)
Zein terpaku di samping ranjang sang ibu. Tangan lemah itu masih menggenggam tangannya. Ia tampak sangat tenang dalam tidur nyenyaknya. Perlahan Zein melepaskan tangan itu, kemudian bangkit. Sejak kemarin dia berada di kamar inap sang ibu. Dokter bilang keadaannya belum membaik. Jantungnya lemah, tensi tidak stabil. Hal itu membuat perasaan Zein menjadi kacau. Rawat inap itu membutuhkan biaya, dan ia juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan tugasnya. Ketika ia menanyakan kepada dokter yang menanganinya, dokter itu tidak memberikan sebuah harapan, sekecil apapun. Dokter itu hanya meminta agar dirinya berdoa. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan ibunya. Ia mengatakan kalau penyakit itu sudah lama dideritanya tanpa mau periksa ke dokter. Tapi ia meminta agar terus berdoa karena pemilik kesembuhan hanyalah Allah Yang Maha Esa.
Zein merasa dokter itu hanya menghiburnya. Sebagai seorang calon dokter yang sudah sering mengikuti seniornya dalam memeriksa dan mengamati kondisi pasien, ia tahu bahwa ia tak bisa banyak berharap.
Rasa sedih menyergapnya, mencengkeram dadanya. Siapa yang salah, ketika seorang ibu bekerja mati-matian demi pendidikan anaknya? Zein merasa sang ibu sesungguhnya kelelahan. Lelah demi menggapai sebuah keinginan. Lelah dalam melangkah, walau langkah itu mulai tertatih. Seharusnya ia berhenti ketika raga tak lagi kuat menyangga. Tapi sang ibu terus berlalu. Ia tak ingin berhenti, bahkan terus berlari.
Air mata Zein jatuh terburai. Seorang laki-laki dituntut agar bisa lebih kuat, tapi ketahanan itu runtuh ketika melihat wajah perempuan tua pucat yang tampak lebih tua dari umur yang sebenarnya sedang terbaring tanpa daya.
“Ibu, aku akan mewujudkan keinginanmu. Ibu tak akan kecewa,” bisiknya sambil mengangkat tangan ibunya, diciumnya bertubi-tubi.
Tiba-tiba mata tua itu terbuka.
“Zein, mengapa kamu masih ada di sini? Bukankah aku suruh kamu kembali kepada tugas-tugas kamu? Kalau kamu nanti tidak lulus, bagaimana?” katanya panjang lebar, dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Ibu sehat dulu, baru Zein kembali.”
“Zein, ibu sudah sehat. Dokter itu tidak mengerti. Yang merasakan sehat itu kan ibu, dokternya tidak tahu. Katakan kalau ibu ingin pulang saja, Zein.”
“Ya, nanti Zein bicara sama dokternya. Sekarang ibu ingin apa? Makan ya?”
“Tidak mau, ibu hanya ingin pulang, agar kamu bisa segera kembali ke tempat tugas kamu.”
Tiba-tiba sang ibu berhenti bicara, napasnya terdengar terengah-engah.
“Bu … ibu …”
Zein menghubungi perawat dengan perasaan panik.
Dokter segera dipanggil. Bu Iman mengalami sesak napas, dokter menyuruhnya memasang ventilator. Zein dipersilakan keluar.
***
Zein duduk melamun di sebuah bangku, ketika dokter dan perawat menangani ibunya. Pikiran melayang ke mana-mana. Kalau sang ibu tidak tertolong, apa yang akan terjadi pada hidupnya? Zein tak takut miskin. Tapi ada keinginan yang membuatnya menjadi kuat. Harapan sang ibu agar dia berhasil menjadi dokter.
Dering telpon membuat lamunannya buyar.
“Zein …”
Suara lembut yang selalu dirindukannya terdengar.
“Ya, Indras.”
“Bagaimana keadaan ibu?”
“Ibu mengalami sesak napas, dokter baru menanganinya.”
“Ya Tuhan. Bisa komunikasi?”
“Bisa, tadi baru ngobrol sama aku. Dokter sedang memasang ventilator .”
“Semoga segera pulih.”
“Aku belum bisa kembali. Bagaimana lagi. Ibu terlalu lelah, melupakan capeknya demi mengumpulkan uang, dan itu demi aku,” Indras terharu. Suara Zein terdengar sangat putus asa.
“Dokter sudah menanganinya, kamu tenang ya Zein. Tidak usah memikirkan yang lain, fokus pada sakitnya ibu. Aku doakan yang terbaik.”
“Terima kasih.”
Zein tak ingin ngobrol. Ia segera mengakhiri pembicaraan. Hatinya sedang kalut. Banyak yang dipikirkannya, sampai hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Zein kembali mengusap air matanya.
***
Hari itu pak Narya menelpon Indras, mengabarkan tentang kiriman uang yang dikirimkannya, dan Indras tidak segera meresponnya.
“Indras, bukankah kamu sudah bapak beri tahu bahwa bapak sudah mentransfer uang untuk keperluan kamu?”
“Oh, iya … maaf Pak, belum sempat berkabar. Iya, Indras sudah tau. Terima kasih ya Pak.”
“Bagaimana keadaan kamu?”
“Baik.”
“Semuanya lancar?”
“Lancar, Pak. Doakan agar segera selesai.”
“Asalkan kamu fokus pada tugas kamu, dan jangan sering-sering ketemu ... siapa itu, laki-laki miskin yang kamu sukai?”
“Tidak Pak, dia juga sedang pulang. Ibunya sakit sampai dirawat.”
“Dulu bapaknya, sekarang ibunya yang sakit?”
“Ibunya terlalu lelah bekerja, demi mencukupi kebutuhan kuliah Zein.”
“Bekerja apa dia?”
“Berjualan makanan. Malam-malam dia bangun, masak, lalu dijual keesokan harinya. Semua itu demi bisa membayar kuliah Zein. Kasihan sebenarnya.”
“Kamu beri dia uang?”
“Dia tak pernah mau dibantu.”
“Sombong amat. Harusnya mau dibantu.”
“Bukan sombong Pak, dia tak mau dibantu, karena tidak mau menjadi beban orang lain. Berkali-kali Indras menawarkan bantuan, dia selalu menolaknya.”
“Ya sudah, terserah dia kalau begitu.”
Indras merasa kesal mendengar jawaban sang ayah. Sedikitpun tidak ada rasa empati dari sang ayah, walau dia sudah menceritakan penderitaan Zein tentang sakit ibunya.
Karenanya dia segera pamit dengan alasan harus ada yang dikerjakan, kemudian ia menutup ponselnya.
***
“Tadi mbak Indras menelpon, kelihatannya dia sedang sedih.”
Yang bicara adalah Arun, adik Indras.
Sang ayah dan ibu masih duduk di ruang tengah, baru saja bertelpon dengan Indras.
“Siapa yang sedih?” tanya sang ibu.
“Mbak Indras, tadi menelpon, katanya ibunya Zein sakit.”
“Yang sakit ibunya, mengapa dia harus sedih?” sergah sang ayah.
“Bapak jangan begitu, mereka itu dekat. Sedangkan teman biasa saja kalau sedang sedih kita juga ikutan sedih, apalagi Zein itu dekat dengan mbak Indras. Ya wajar kalau ikut sedih.”
“Kamu itu anak kecil bisa-bisanya ngajarin orang tua.”
“Arun bukan ngajarin, itu kan keadaan yang wajar.”
“Apa sakitnya parah?” kali ini sang ibu ikut bertanya.
“Kelihatannya parah. Ibunya Zein itu kan bekerja keras demi bisa menyekolahkan anaknya, sampai kuliah, dan berharap bisa menjadikan Zein seorang dokter. Nah karena kerasnya bekerja itu, sampai tidak memperhatikan kesehatannya. Itu yang membuat Zein sangat sedih, dan mbak Indraspun kemudian jadi ikutan sedih.”
“Ibunya bekerja apa?”
“Kata mbak Indras, berjualan makanan. Kasihan lhoh Bu, demi menyekolahkan anak, seorang ibu sampai banting tulang seperti itu. Ibu tahu nggak, dia itu bekerja keras sejak suaminya masih ada dan sakit-sakitan. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya beban yang dipikul.”
Bukan hanya bu Narya yang kemudian ikut terhanyut karena cerita Arun, tapi pak Narya juga ikut terdiam, tak mampu berkata-kata. Barangkali membayangkan beratnya beban seorang ibu yang berjuang demi anaknya, demi keluarganya, dan sekarang sampai jatuh sakit.
Pak Narya jadi teringat, dulu dia tidak kaya seperti sekarang ini. Orang tuanya juga hanya orang biasa. Beban yang mereka sandang juga berat, apalagi dia bukan anak tunggal. Sang ayah hanya seorang pensiunan, yang menyekolahkan anak-anaknya sampai menjadi orang. Tiba-tiba dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Kekayaan menjadikannya sombong dan merasa bahwa semua orang tidak berharga. Sekarang ia sangat menyesali apa yang dilakukannya. Penderitaan ibu Zein mengingatkannya pada penderitaan orang tuanya ketika masih hidup. Sangat berat perjuangan seorang tua, demi anaknya, apalagi kalau anaknya lebih dari satu. Adalah sebuah keberuntungan ketika dia berhasil menjadi pengusaha yang ternyata sukses, lalu menjadi seperti sekarang ini.
“Arun, kamu tahu di mana rumahnya?” kata pak Narya pelan.
“Rumah siapa maksud Bapak?”
“Rumah Zein.”
“Tidak tahu. Maksud Bapak apa? Mau ke sana dan memarahi Zein dan keluarganya?”
“Kamu itu jangan asal ngomong. Bisa tidak kamu mencari rumahnya di mana, atau tanyakan kepada kakakmu yang pastinya tahu.”
“Lalu mengapa Arun harus mencarinya?”
“Bawa sejumlah uang, berikan kepada keluarganya, barangkali mereka butuh biaya untuk ibunya yang sedang sakit.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun Yangtie
DeleteTerima kasih Bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Sukardi
DeleteSuwun mb Tien
ReplyDeleteAs la hammdullilah .mksih bunda cerbungnya..slm shr sll unk bundaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteSami2 ibu.Farida
DeleteSalam sehat juga
Matur suwun Bu Tien.
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
Deleteππ«ππ«ππ«ππ«
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eSAaCe_10
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππ«ππ«ππ«ππ«
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien,ibu tetap sehat semangat dan bahagia, Alhamdulillah ayah indras telah sadar dari kesalahannya, mudah2 lebih menarik cerita lika liku kehidupan manusia, ππ❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (10 )telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah mtrnwn Bu Tien cerbung yg ditunggu sdh tayang,smg Bu Tien sekeluarga sehat sll
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda. Semoga Bu Tien dan keluarga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteLembutkan hati pak Naryo
Syukron nggih Mbak Tien ilmunya❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 jeng Susi.
DeleteMatur nuwn kawigatosanipun
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Semoga pa Narya memberinya dgn hati yg tulus. Zein juga bisa menerimanya. Ibunya Zein semoga sembuh kembali.,
ReplyDeleteTerima kasih bapak Endang
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteSelamat malam mBak Tien, terima kasih cerbung eSAaCe_10; dudah ditayangkan pada pukul 19.14 yll.
ReplyDeleteSemoga mBak Tien sehat selalu ya, dan tetap semangat berkarya demi menghibur para pembacanya.
Salam SEROJAdan tetap ADUHAI
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek
DeleteTerimakasih Mbak Tien...
ReplyDeleteSami2 prof
DeleteAlhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 10" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng daluπ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis
DeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 10 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Sikap pa Narya berubah 180% terhadap Zein dan ibunya. Apakah dapat hidayah ya..ππ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
Delete