SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 27
(Tien Kumalasari)
Gadis itu memang Istiana, menatap heran pada sikap Lukman yang tampak gugup.
“Kamu Lukman kan?” ia sampai lupa apakah sudah menyebut namanya atau belum, karena dilihatnya Lukman yang seperti orang kebingungan.
Sekarang Lukman menatap Istiana.
“Aku mau bertemu om Pras, tadi sudah janjian.”
“Oh, tentu. Papa sudah mengatakannya tadi. Tapi papa masih ada urusan, silakan menunggu,” sapa Isti ramah.
Lukman duduk berhadapan dengan Isti.
“Apa kamu tahu, bahwa aku sudah dijodohkan denganmu?”
Lukman terhenyak. Tak mengira gadis bermata lembut itu berani mengungkapkan hal yang semestinya membuat seorang gadis sungkan mengatakannya.
Lukman menatapnya tak berkedip, dan Isti membalasnya tanpa dosa.
“Hanya dijodohkan. Tapi tidak mengharuskan kita harus mengikutinya bukan?”
Tiba-tiba Lukman merasa lega. Ia hanya tertarik atas keramahan gadis itu, dan tentu saja kecantikannya juga. Tapi untuk berjodoh, Lukman membutuhkan cinta. Dan cinta itu adalah Ristya, tak ada duanya.
“Ya, tentu saja.”
“Kamu sudah punya pacar?” lagi-lagi Isti mendahului berbincang tentang kelanjutan perjodohan itu.
“Mmm ….”
“Cowok ganteng seperti kamu pasti sudah punya pacar,” kata Isti enteng.
Lukman tersenyum.
“Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan mengakuinya. Aku tidak suka memaksa orang untuk menyukai aku. Bukankah cinta tidak bisa dipaksa?”
Lukman suka ucapan Isti yang seplas-ceplos tanpa sungkan, tapi diucapkan dengan sangat tulus. Paling tidak itulah yang dipikirkan Lukman.
“Saat ini aku sedang ingin mencari tahu tentang peninggalan orang tuaku yang sudah tiada.”
“Ya, papa sudah mengatakannya. Papa merasa kasihan karena kamu sebagai ahli warisnya sama sekali tidak tahu tentang peninggalan ayah kamu.”
Lukman mengangguk, karena itu memang benar. Ia hanya tahu bahwa dirinya menjadi beban keluarga Pujo Suroyo sejak masih kecil. Tak ada yang diketahuinya kecuali rasa hutang budi yang selalu digembar-gemborkan oleh om Suroyo ditelinganya, dan om Suroyo menuntut agar hutang budi itu dibayarnya dengan sebuah pengorbanan yang menyakitkan, yaitu ia harus meninggalkan kekasihnya untuk menikahi putri ayah angkatnya itu, yang sama sekali tidak dicintainya.
Ponsel Istiana berdering, kemudian diangkatnya. Isti berbicara yang tidak begitu diperhatikan.
“Lukman, urusan papa ternyata belum selesai. Papa minta agar kita menunggunya sambil berjalan-jalan dulu. Eh maaf, sebenarnya aku sudah lama tidak datang ke Indonesia. Dulu, waktu aku masih SMA, pernah sekali. Sekarang aku sudah lama tidak menginjakkan kakiku di tempat ini. Maksudku, kalau kamu mau menemani aku sambil menunggu papa, aku akan sangat berterima kasih.”
Lukman tersenyum. Ia menyukai gadis yang ceplas-ceplos tanpa rasa sungkan ini, dan dia menyanggupinya untuk menemani berjalan-jalan.
***
“Ristya, tolong periksa lagi laporan bulan lalu yang dikirimkan oleh bagian keuangan,” kata Agung sambil menyodorkan sebuah map berisi berkas-berkas.
Ristya terkejut, karena ia sesungguhnya sedang melamun. Entah mengapa wajah Lukman tiba-tiba terbayang.
“Kamu sedang melamun?” tegur Agung.
“Tidak … tidak. Biar saya kerjakan sekarang.”
Agung menatap wajah Ristya tak berkedip. Ia tahu Ristya sedang memikirkan sesuatu. Sejak kepindahannya di kantor baru, Ristya selalu saja tampak melamun. Ia ingin sekali tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan, tapi Ristya tak pernah mengatakan apapun. Ia selalu menyangkal dan tidak pernah mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hari-harinya.
“Apa kamu tidak suka bekerja di sini?”
“Apa? Tidak, tentu saja saya suka. Mengapa Bapak mengira begitu?”
“Kalau kamu sedang memikirkan sesuatu, ayolah berbagi, bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai seorang sahabat.”
Ristya tersenyum. Dan senyuman itulah yang membuat Agung jatuh hati.
“Bapak mengada-ada. Sekarang biarkan saya mengerjakan tugas yang Bapak berikan ini agar bisa segera selesai.”
Agung mengangguk, lalu membiarkan Ristya melanjutkan pekerjaannya. Tapi matanya tak lepas dari wajah sekretarisnya itu.
***
Hari belum terlalu malam, ketika pak Giman dan Ristya menyelesaikan makan malamnya. Tiba-tiba pak Giman meminta agar Ristya duduk dulu sebelum mengemasi sisa makanan dan piring-piring kotor.
“Ada apa Pak.”
“Duduklah dulu.”
Ristya kembali duduk, menunggu apa yang akan dikatakan sang ayah.
“Tadi sore sebelum bapak pulang, pak Burhan mengajak bapak bicara.”
“Bicara tentang apa?”
“Pak Burhan ingin mengambil kamu sebagai menantu.”
“Apa?” Ristya berteriak.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah, "Sepotong Cintaku Tak Bersisa 27" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat. Sugeng daluπ
ReplyDeleteLhaahh..
DeleteKesasar... hihii...
Matur nuwun pak Sis
Rapopo mBak, sekali sekali masuk kamar mertua. Gak dimarahin kok.
DeleteLoh. Salah kamar iki.
ReplyDeleteMestinya tayang di FB kok nylonong mrene.
Iki gara-garane bar ngunjuk wedang ronde di pak Untung, rada mboyur trus salah kamar.
Semoga mBak Tien sehat selalu dan selalu sehat.
Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek
DeleteIya yaa... Saya ya ikutan bingung... Koq ada Lukman disini... πππ
ReplyDeleteSehat2 ya Bun... ππΉπ¦
Lukman jalan2 sama Isti
DeleteWaduh Bunda salah kamar .
ReplyDeleteWakakaa... suka ngelayap jadi salah kamar
Deleteini sudah episode 27
ReplyDeleteMakasih bunda tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Salah kamar... ngapunten
DeleteBingung aku.....
ReplyDeleteUjug ujug episode 27
Gpp maklum
Semoga sehat selalu, bahagia bersama keluarga
Baca di Facebook pak..
DeleteSalah kamar bunda...
ReplyDeleteWkwk...FBnya nyasar ke blog, bu...π
ReplyDeleteHatur nuhun bunda..slm sht sll unk bunda
ReplyDeleteTayang sini aja bun...
ReplyDeleteLooo kok dah epis 27 bunda..
ReplyDelete