Saturday, April 18, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 19

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  19

(Tien Kumalasari)

 

Hari itu adalah ulang tahun Indras, dan perempuan yang disebut dokter cantik, dan diberi nama BUNDA itu juga ulang tahun?

Indras menghela napas panjang. Meletakkan ponsel dan menata batinnya. Apakah Zein juga teringat pada hari ulang tahunnya? Beberapa tahun yang lalu adalah anak-anak yang mengingatkannya, tapi tak ada ucapan yang berkesan. Ia cukup mengatakan selamat ulang tahun, lalu mencium keningnya sekilas, kemudian pergi begitu saja.

Tapi hari itu, ketika Zein pergi, Indras tergerak hatinya ingin mengikuti ke mana sang suami pergi.

Tanpa sepengetahuan Indras, kedua anaknya sedang menyiapkan sebuah pesta kecil di hari ulang tahunnya.

Indras terus mengikutinya dari jauh, melewati rumah sakit di mana suaminya bekerja. Beruntung dia tidak kehilangan jejak walau mengamatinya dari jauh. Lalu Indras melihat mobil suaminya berhenti di sebuah rumah kecil yang asri. Perlahan Indras mengemudikan mobilnya, lalu melihat seorang perempuan cantik berdiri di teras. Ketika ia akan menjalankan mobilnya, sebuah motor berhenti. Seorang laki-laki membawa bunga, dibawanya masuk ke halaman. Sekilas Indras melihat ada ucapan selamat ulang tahun tertulis melingkar di buket bunga itu, dan nama suaminya dibawah tulisan itu.

Semuanya sudah cukup. Indras menjalankan mobilnya perlahan, pulang.

***

Ketika ia memasuki rumah, ia mencium wangi bunga sedap malam kesukaannya. Ia mendengar ada celoteh kedua anaknya dari dalam kamar Santi. Indras ingin memasuki kamar itu, tapi terkunci dari dalam.

“Santi, Sinta … sedang apa kalian?”

“Mama dari mana?”

“Keluar sebentar. Mengapa dikunci?”

“Nggak apa-apa Ma, lagi bercanda sama mbak Santi.”

Indras memasuki kamarnya dengan lunglai. Ia merasa dunianya tiba-tiba menjadi suram. Inikah kebahagiaan yang dulu selalu didambakan? Apa yang salah dalam hidup ini? Tiba-tiba semuanya berubah. Seperti bola yang bergulir, dan yang semula diatas kemudian menjadi dibawah.

“Aku harus menanyakannya nanti. Apa sebenarnya yang dilakukannya, dan apakah maunya.”

***

Santi dan Sinta sedang menata sebuah kue ulang tahun di meja. Sebuah buket cantik berisi bunga sedap malam membuat wangi semerbak yang menyegarkan. Itu bunga kesukaan sang ibu.

Santi dan Sinta sudah berdandan cantik.

“Mana papa? Mengapa malah pergi?”

“Barangkali membeli sesuatu untuk mama.”

Santi mengambil ponselnya, lalu menelpon sang papa. Tapi ponselnya mati. Berulang dicobanya, tak ada jawaban, apa lagi respon. Zein mematikan ponselnya.

“Ponsel papa mati. Apa papa lupa ngecas ponselnya ya?”

“Tadi aku melihat papa mengambil ponselnya setelah di cas, tak mungkin batery mati.”

“Berarti dimatikan?”

“Entahlah, padahal papa tahu kalau kita sedang ingin merayakan ulang tahun mama bersama papa.”

“Apa harus kita tunggu?”

“Kita panggil saja Mama, kalau harus menunggu Papa, biar kita menunggu bertiga.”

Maka Sinta bergegas ke kamar sang ibu.

Pintu tidak terkunci. Indras sudah selesai mandi dan sedang menyisir rambut ikalnya.

“Mama sudah cantik, ayo … ditungguin mbak Santi tuh.”

Indras sudah tahu. Selalu begitu setiap hari ulang tahunnya. Kedua anaknya ribut merayakannya. Dengan kue ulang tahun, dengan bunga sedap malam, dan lilin-lilin kecil yang dinyalakan di atas taartnya.

Indras tak ingin mengecewakan sang anak. Ia mengikuti langkah Sinta menuju ruang makan.

Santi menghambur memeluk sang ibu, dimintanya duduk.

Indras selalu terharu atas tingkah kedua putrinya. Matanya berkaca-kaca karena bahagia. Sejenak lukanya terbasuh oleh wajah-wajah ceria dari kedua putri cantiknya.

“Kita tunggu papa sebentar ya, baru kita nyalakan lilinnya.”

“Tidak usah menunggu papa.”

“Tapi kan papa sudah tahu kalau kami akan merayakan bersama papa.”

“Bertiga saja. Mana koreknya, biar mama nyalakan lilinnya.”

Santi dan Sinta saling pandang, tapi kemudian Santi yang menyalakan lilin-lilinnya.

“Telpon papa lagi, Sinta.”

“Tidak usah. Papa tidak akan pulang cepat.”

“Ke rumah sakit? Ada pasien gawat?”

“Ya,” jawab Indras sekenanya.

“Dan satu lagi, jangan mengatakan pada papa kamu tentang acara ini, apalagi menanyakannya mengapa tidak datang.”

Keduanya saling pandang, tapi tidak mengatakan apapun juga, karena tampaknya sang mama sedang tidak berkenan.

Lalu sebuah lagu dinyanyikan, ucapan-ucapan dilantunkan, berisi doa dan rasa syukur, berisi rasa terima kasih atas kebaikan dan kasih sayang sang mama, berisi pelukan cinta yang tak berbatas.

Namun tanpa disadari oleh Indras, kedua anaknya mulai merasa bahwa hubungan  sang mama dan sang papa sedang tidak baik-baik saja.

***

“Dokter, saya tidak mengira Dokter akan merayakan ulang tahun saya dengan begitu indah. Ada kue ulang tahun, ada seikat bunga indah, ada ucapan yang manis dan menawan,” kata dokter Tyas ketika mereka sedang berduaan, merayakan ulang tahun dokter Tyas, walau tampak sederhana tapi meriah dihati mereka.

“Kan aku sudah bilang, untuk seorang dokter cantik, apapun akan aku lakukan.”

“Dokter bisa saja. Tapi aku merasa tersanjung.”

“Benar?”

“Dan karena itulah maka kemudian saya memasak khusus untuk Dokter yang  tadi mengatakan akan datang malam ini.”

“Yang aku heran, masakan kamu sama enaknya dengan masakan almarhumah ibuku. Aku merasa sedang bersama ibuku, yang sudah meninggalkan aku bertahun-tahun lalu.”

“Benarkah?”

“Aku kehilangan kasih sayang sejak lama. Aku menemukan ibuku di sini.”

Dokter Tyas tersenyum senang.

“Apakah istri Dokter tidak memberikan kasih sayang seperti yang Dokter inginkan?”

“Dia sangat sibuk.”

Dan itu benar. Zein merasa, seandainya tanaman maka ia hampir mati kekeringan, karena tak ada siraman hujan atau tetesan embun yang membasahinya. Entah mengapa, semua terjadi tanpa disadarinya. Entah mengapa, dokter Tyas yang semula hanya dokter baru di rumah sakit itu, bisa menarik hatinya. Dokter Tyas yang suka menyanjungnya, memuji-mujinya setinggi langit, seperti sosok ibunya yang sudah lama meninggalkannya.

“Sesibuk apapun, perhatian untuk suami bukankah perlu?”

“Entahlah. Dia itu pintar, hebat dan bisa mandiri. Karenanya dia tidak memerlukan aku.”

“Kasihan, dokterku ini. Padahal dalam melakukan tugas, saya selalu membutuhkan Dokter.”

“Terima kasih telah membuat aku punya arti, dan bisa membuat aku tersenyum.”

“Bukankah Dokter sangat mencintai istri dokter?”

Tapi Zein tidak menjawab. Ia teringat beberapa hari yang lalu, ketika Indras menunjukkan kebersamaannya saat makan siang bersama Bagas, lalu ia marah bukan alang kepalang. Apakah sebenarnya Zein memang mencintai istrinya? Bagaimana dengan dokter Tyas? Sepertinya itu bukan hubungan cinta, tapi hubungan karena Zein menemukan sesuatu pada dokter Tyas. Seperti ia menemukan ibunya, yang penuh kasih sayang dan perhatian berlebih. Itukah  sebabnya maka di kontak WA dia menamakannya dengan BUNDA? Indras tentu saja tak memahami hal itu. Memang benar, dia sangat sibuk. Apakah perhatian terhadap suaminya menjadi berkurang?

***

Sudah malam ketika Zein memasuki rumahnya, kemudian mencium aroma sedap malam kesukaan sang istri. Zein baru ingat bahwa hari ini juga ulang tahunnya.

Ia melewati ruang makan, ada seikat sedap malam tertata di meja, dan sisa kue ulang tahun yang baru dipotong beberapa iris.

Zein membuka kamarnya, melihat sang istri sudah tertidur pulas.

Zein membungkuk dan membisikkan sebuah ucapan di telinganya.

“Selamat Ulang Tahun.”

Indras belum benar-benar tertidur. Rasa kesal tak pernah berhenti mencengkeram batinnya, karenanya sebenarnya ia memang belum benar-benar pulas.

Ia membuka matanya. Bukan tatapan bahagia  yang diterima Zein, tapi tatapan kurang senang.

“Sudah terlambat. Ini sudah lewat tengah malam, aku tidak ulang tahun hari ini.”

Zein mengerutkan keningnya.

“Cukup ucapan ulang tahun untuk dokter cantik itu saja, untuk aku tidak usah, sudah lewat,” katanya dingin.

Mendengar ucapan istrinya, bukannya minta maaf, Zein justru menatapnya marah.

“Jadi kamu memata-matai aku? Atau kamu membuntuti kemanapun aku pergi?”

***

Besok lagi ya.

14 comments:

  1. Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 19 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 19" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (19)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  6. Terima kasih Bu Tien
    Semoga Bu Tien sekeluarga sehat selalu.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~19 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  8. Assalamualaikum bu Tien, alhamdulilah cerbung " Sakitku adalah Cintaku 19 " sampun tayang. Semoga bu Tien sekeluarga sll sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🩷🩷🌹🌹πŸ₯°πŸ₯°

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah,SAC dah hadir, maturnuwun Bu Tien πŸ™ semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta, semoga keduanya( Indras dan Zein )saling memaafkan dan kembali bahagia dng putri2nya tersayang.

    ReplyDelete
  10. πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸŒΉ
    Cerbung eSAaCe_19 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘

    ReplyDelete
  11. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 19 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Indras...gugat cerai aja ya, Zein . Selama dia satu kantor dengan Tyas..maka penyakit selingkuh nya tdk akan sembuh.

    ReplyDelete
  12. Ooh...jadi ternyata Zein hanya sedang rindu dan terkenang ibundanya? Jadi dia menyamakan dokter Tyas dengan ibunya...repot juga kalau begitu, jadi Indras salah paham kan...

    Terima kasih, ibu Tien...semoga sehat & bahagia selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete