SAKITKU ADALAH CINTAKU 18
(Tien Kumalasari)
Zein tiba-tiba merasa sangat marah. Wajahnya yang merah padam tampak sangat menakutkan. Dokter Tyas memegang tangannya, berusaha menenangkan. Dan Zein tiba-tiba menutup ponselnya, lalu tersenyum ketika melihat dokter Tyas menatapnya heran.
“Ada apa Dok?”
Zein menghela napas panjang.
“Tidak apa-apa, biar aku habiskan saja lempernya ini,” kata Zein sambil meraih lagi sebungkus lemper, lalu memakannya dengan rakus, seolah-olah dia sedang mengunyah istrinya dengan kemarahan yang meluap.
Dokter Tyas tersenyum.
“Dokter Zein marah? Tadi telpon dari siapa?”
“Bukan dari siapa-siapa.”
Dan tiga bungkus lemper sudah dihabiskannya. Ketika ia mau mengambilnya lagi sebuah, dokter Tyas menahan tangannya.
“Sudah, cukup tiga saja. Nanti perutnya terasa nggak enak lhoh. Buat nanti lagi saja.”
Zein mengangguk.
Mereka diam beberapa saat, dan dokter Tyas terus menatap dokter seniornya dengan tanpa berkedip.
“Mengapa kamu baik kepada aku, Dok?”
“Karena Dokter adalah senior aku, dan Dokter menjadi pembimbing aku yang luar biasa, yang … pokoknya dokter Zein tak ada duanya bagi saya.”
Senyuman Zein mengembang. Pujian itu selalu keluar dari mulut tipis dokter Tyas, dan itu membuatnya sangat senang. Zein lupa bahwa ketika di rumah ia tak pernah mengembangkan senyuman itu akhir-akhir ini, entah mengapa. Ia tidak sadar bahwa senyum yang dimilikinya adalah senyuman yang menawan bagi perempuan dimanapun, dan istrinya tentu saja sangat suka melihatnya. Tiba-tiba ingatan tentang istrinya membuatnya muram. Tadi menelpon, dengan video call, untuk memamerkan kebersamaannya dengan Bagas? Laki-laki saingannya yang sangat dibencinya.
“Dokter Zein sedang kurang enak badan ya?”
“Apa?”
“Wajah Dokter tampak berubah-ubah, sebentar senyum, sebentar muram.”
“Sedikit pusing, nanti pengin pulang cepat.”
“Memang sebaiknya pulang cepat, lalu beristirahat. Itu lebih baik karena ada istri yang merawat,” kata dokter Tyas tanpa bermaksud mengejek.
Tapi ucapan itu membuat dokter Zein semakin muram.
***
Rupanya Indras hanya ingin memanas-manasi suaminya saja. Dia menunjukkan video call bahwa sedang bersama Bagas, dan bilang akan pulang terlambat karena harus menemani Bagas. Ternyata tidak. Ketika sang suami pulang, Indras sudah ada di rumah, menyibukkan diri dengan membereskan almari atau apapun yang dirasanya berantakan.
Ia mendengar suaminya pulang, tapi mendiamkannya. Dia heran kepada dirinya sendiri, mengapa memilih Zein yang perangainya ternyata aneh, dan bukan Bagas yang lembut dan baik hati. Sebenarnya Indras bukannya menolak Bagas. Dulu sebelum menikah dia pernah bepergian bersama adiknya selama sebulan. Ia ingin menghibur diri dan berpikir antara memilih pilihan orang tuanya atau melanjutkan hubungannya dengan Zein. Ternyata di sepanjang kepergiannya itu yang terpikir olehnya hanyalah Zein, lalu dia meyakini hatinya bahwa memang Zein yang menjadi pilihannya. Itulah sebabnya ketika terakhir kalinya sang ayah bertanya, apakah dia akan tetap memilih Zein, maka dia menganggukkan kepala. Untunglah waktu itu sudah tidak ada kendala karena sang ayah sudah tidak lagi membenci Zein, setelah ibu Zein sakit sampai meninggal.
Terdengar pintu terbuka, Zein masuk dan menatapnya tajam.
“Bukannya sedang berduaan dengan kekasih kamu?” tanyanya dingin.
“Hanya menemani makan, lama tidak ketemu,” jawabnya tanpa menghentikan kegiatannya.
“Kangen ya?”
“Ada,” jawab Indras enteng.
“Ada apanya?”
“Rasa kangen itu.”
“Apa?” Zein berteriak.
“Kan hanya bersahabat, apa tidak boleh?”
Zein keluar dari kamar sambil membanting pintu. Indras hanya mengangkat bahu. Indras berpikir, kalau dia boleh selingkuh, mengapa dirinya tidak? Indras tersenyum, bukan senyum untuk mengejeknya, tapi senyuman paling pahit yang dia miliki, karena merasa bahwa hidupnya ternyata sangatlah rumit. Ia tidak selingkuh, ia hanya ingin memanas-manasi, tapi suaminya sangat marah. Memang dia pencemburu, tapi harusnya dia bisa menjaga perilaku. Ia harusnya tahu kalau cemburu itu menyakitkan, lalu tidak melakukan hal yang bisa membuat cemburu. Tapi dia melakukannya.
Indras mengusap air matanya.
***
Saat suaminya masuk ke kamar mandi di suatu sore, Indras melihat ponsel Zein tergeletak begitu saja. Rupanya Zein lupa membawanya ke kamar mandi seperti biasanya. Indras mendekati ponsel itu. Rasa keingin tahuan membuatnya meraih ponsel itu dan membukanya. Ada nama BUNDA yang ditulis dengan hurup kapital. Indras tidak mengenal nama itu, lalu ia membuka pesan WA yang tertera. Iseng sih, tapi ia benar-benar ingin tahu. Siapa yang dimaksud dengan ‘bunda’, dan Indras sempat terkesiap.
“Dok, katanya kemarin mau mengajak makan di luar, ternyata kemarin nggak jadi, hari ini juga nggak jadi.”
“Maaf, aku lupa. Habis kamu nggak mengingatkan.”
Itu ditulis seminggu yang lalu. Lalu dibawahnya.
“Dok, aku suka warna baju yang Dokter pakai tadi. Pasti istri yang memilih warnanya bukan?”
Jawabnya hanya emotikon tertawa.
Indras ingat, ia membelikan baju itu saat suaminya ulang tahun bulan lalu. Baru dipakai semingguan yang lalu, itupun karena dia yang menyiapkannya.
Untunglah semua pesan WA sudah pernah dibuka, jadi tidak ketahuan kalau ia membukanya lagi. Masih ada beberapa di bawah, ia masih ingin membacanya.
Tiba-tiba ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia segera meletakkan ponsel itu lalu bergegas menjauh. Ia pura-pura ke ruang makan, mengambil sebotol air dingin lalu dituangnya ke dalam gelas yang memang tersedia di atas meja makan itu.
Indras mendengar langkah kaki menjauh, lalu seperti biasanya sehabis mandi ia duduk di teras sendirian, lalu mengutak-atik ponselnya.
Indras duduk di kursi sambil menikmati air dingin yang baru dituangnya. Ia berharap darah yang semula hampir mendidih bisa menjadi reda. Tapi yang ada malah dadanya terasa sesak. Tak tahan menyembunyikannya, maka iapun menangis. Tapi Santi, anak sulungnya keluar dari kamar, dan melihatnya duduk sendirian. Indras segera mengusap wajahnya dengan tissue, lalu memencet hidungnya karena air mata itu pastinya juga nyelonong melalui hidungnya, menjadikannya seperti sedang pilek.
“Mama kenapa?”
Barangkali karena ia melihat mata mamanya merah.
“Apa? Mama tidak apa-apa.”
“Mama habis menangis?”
“Tidak. Ya ampun, mama tuh pilek, tahu nggak sih, kelihatan mata merah ya?”
“Mata merah, hidung merah.”
“Ya itulah, mama lagi pilek.”
“Mama itu gimana, sudah tahu pilek, mengapa minum air dingin?”
Indras mencoba tersenyum.
“Haus.”
“Dokter kok nggak tertib. Kalau pasien pilek pasti dilarang minum dingin kan, tapi Mama mengapa melakukannya?”
“Cuma sedikit, haus sekali.”
“Harusnya minum air hangat. Bibik kan sudah menyiapkan minuman hangat di depan. Tuh papa duduk sendirian di depan.”
“Ya, biarin saja. Mama sedang malas, mau tiduran saja.”
Lalu Indras berdiri dan beranjak ke kamar, sang anak menatapnya heran. Santi dan Sinta bukan anak kecil lagi. Suasana keluarga yang tidak seperti biasanya akhir-akhir ini juga dirasakan oleh mereka.
“Mama sama papa kenapa ya?” gumam Sinta ketika Santi memasuki kamarnya.
“Nggak tahu tuh, seringnya mereka diem-dieman saja.”
“Mengapa Mbak nggak bertanya?”
“Mama mengatakan tidak ada apa-apa. Padahal tadi aku melihat wajahnya sembab, seperti habis menangis. Aku bertanya, katanya tidak apa-apa.”
“Papa juga suka menyendiri. Lagi makanpun juga tak pernah bicara.”
“Orang tua susah dimengerti. Semoga mereka baik-baik saja.”
***
Hari-hari yang berlalu selalu begitu. Tanggal duapuluh dua Mei, Indras ulang tahun. Hal itu diingat betul oleh Santi dan Sinta. Mereka sudah bersiap merayakan ulang tahun sang mama, dengan memesan sebuah taart yang bertuliskan ucapan selamat. Tapi mereka merahasiakan rencana itu. Barangkali papanya lupa, apalagi mamanya yang setiap ulang tahun mereka seperti tak pernah peduli kecuali anak-anak yang mengingatkannya.
Ketika sang papa mau berangkat kerja, Santi berbisik di telinganya.
“Pa, besok mama ulang tahun. Kita rayakan ya?”
“Oh, besok ya? Atur aja,” kata sang papa sambil berlalu kemudian langsung masuk ke mobilnya.
***
Sore harinya, Indras kembali melihat ponsel Zein tergeletak di ruang tengah. Ia melihat suaminya tak ada, rupanya sang suami ada di garasi, mengutak atik mobilnya. Indras kembali membuka WA dengan nama ‘bunda’. Ternyata yang kemarin sudah terhapus, ada pesan baru, yang untungnya juga sudah dibuka.
“Dokter Zein memang baik sekali, terima kasih taart ulang tahunnya ya.”
“Untuk dokter cantik, aku selalu baik.”
Indras terpana. Jadi yang disebut BUNDA itu juga dokter?
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng In
DeleteAlhamdulillah sdh tayang
ReplyDeleteMatur nuwun Dhe.
Salam SEROJA
Sami2 mas Kakek
DeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~18 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Aamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Djodhi
DeleteAlhamdulilah...sudah tayang
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu slalu. Salam SEROJA.
Aamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih bapak Endang. Salam seroja juga
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Endah
Deleteπ π«π π«π π«π π«
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eSAaCe_18
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
π π«π π«π π«π π«
Aamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih jeng Sari
DeleteHamdalah sampun tayang
ReplyDeleteNuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (18)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 18 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Herry
DeleteAlhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 18" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng daluπ
Aamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Sis. Sugeng enjing
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteApakah dokter itu Zein itu salah makan obat, kok dia sekarang mendiamkan istrinya?
ReplyDeleteKebanyakan makan obat prof
DeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 18 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Zein lupa x ya dulu asalnya dari mana. Skrng sdh sukses jadi dokter...semena mena...π
Aamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah dah tayang, sesuai dng judul cerita, merasa sakit hatinya,karena ia cinta, kalau gak sakit berarti TDK cintaππ maturnuwun Bu Tienπ,cerita yg makin seru...semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta π
ReplyDeleteAamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Tatik
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDeleteAamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Komariyah
DeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien ...semoga buTien sekeluarga sll sehat dan dalam lindungan Allah SWT Aamiin .. salam.hangat dan aduhai aduhai bun π€©π€©❤️❤️π₯π₯
ReplyDeleteAamiin yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Sri
DeleteAduhai aduhai