Tuesday, April 7, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 09

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  09

(Tien Kumalasari)

 

Zein mengamati Indras yang sedang asyik bertelpon. Berdiri tegak tak bersuara. Mendengar celoteh dan canda Indras yang tampak dengan gembira menerima telpon. Sesekali terdengar Indras menyebut namanya, Bagas. Zein mengenalnya. Bukankah Bagas adalah seorang laki-laki tampan yang dilihatnya jalan bersama Indras? Yang kata Indras hanyalah sahabatnya. Dan walau Bagas mencintainya tapi Indras mengaku hanya mencintai dirinya?

Sekarang mereka berbincang dan sesekali Indras terkekeh seperti mendengar sesuatu yang lucu.

Zein terus mengawasinya, tak bersuara sampai Indras menutup ponselnya, lalu Zein berdehem, barulah Indras terkejut.

“Zein, mengapa berdiri di situ? Sini.”

Tapi Zein tak bergerak. Indras yang berjalan mendekatinya.

“Tadi Bagas menelpon.”

“Dan karena itu kamu lupa kalau tadi kamu mengatakan lapar?”

Indras tertawa pelan.

“Iya sih, tapi masa dia menelpon lalu aku mengabaikannya? Dia hanya menanyakan kabar.”

“Begitu asyik sampai melupakan lapar.”

“Tidak melupakan lhoh, aku memang sedang lapar, dan tadi harus menahannya. Habis dia menelpon, masa aku mendiamkannya?”

Zein hanya diam. Zein adalah seorang pencemburu. Ketika ia melihat Indras berjalan bersama Bagas, ia langsung memutuskan hubungan. Untunglah Indras dengan kelembutan hatinya berhasil meluluhkan kemarahannya, sehingga mereka kemudian berbaikan lagi.

Sekarang, mendengar Indras bertelpon dengan Bagas, rasa cemburu itu muncul lagi. Walau keduanya berjalan bersama menuju kantin, tapi wajah Zein sangat cemberut.

“Zein, kamu tahu nggak, kalau kamu cemberut seperti itu, wajahmu jelek banget lhoh.”

“Memang aku jelek. Tidak seperti Bagas yang ganteng, gagah, kaya raya.”

“Bukan begitu. Kamu itu sebenarnya ganteng, gagah, menawan, baik hati dan tidak sombong, itu sebabnya aku mencintai kamu.”

“Masa?”

“Iya, aku abaikan semua rintangan, karena rasa cinta itu.”

“Masa?”

“Bisakah kamu mengatakan selain kata … masa … masa ….”

“Jadi aku harus mengatakan apa”

“Katakan, bahwa aku cantik, menawan, penuh cinta kasih …”

Sekarang Zein tertawa. Indras senang melihat wajah muram sudah kembali ceria.

“Kamu itu pintar, jadi aku yakin kalau kamu sudah tahu bahwa aku selalu mengatakan itu, walau dalam hati, dan tidak sampai terlontar melalui bibirku.”

“Dasar pelit.”

“Iya, aku pelit, kan aku bukan orang kaya seperti kamu?”

“Pelitnya bukan masalah kaya atau tidak kaya.”

“Apa maksudmu?”

“Pembicaraan kita bukan tentang kaya atau miskin, tapi tentang puji memuji. Aku memujimu setinggi langit, tapi kamu sedikit saja tidak mengucapkan pujian. Benar-benar pelit dan tidak romantis,” gerutu Indras sambil cemberut.

“Tuh, sekarang kamu cemberut kan, coba kamu tidak cemberut, kamu pasti cantik.”

“Iiih, memujinya seperti nggak iklas begitu. Jadi sebenarnya aku tidak cantik dong.”

“Iklas kok. Harus gimana dong, aku memang tidak romantis. Gimana caranya supaya romantis?”

“Aku nggak tahu, masa romantis diajarin?”

Walau begitu kekesalan di hati Zein sudah mencair. Mereka makan bersama sebelum kembali menjalani tugas mereka.

***

Tapi kenyataannya bu Iman memang sakit beneran. Ia menahannya karena ia tak ingin kelihatan sakit, apalagi kalau Zein sampai mendengarnya. Ia menahannya juga karena ia butuh uang demi Zein yang harus menyelesaikan tugasnya.

Tetangganya yang melihatnya selalu mengingatkannya, bahwa bu Iman harus beristirahat karena wajahnya kelihatan pucat seperti orang yang kelelahan.

“Tidak Bu, saya baik-baik saja. Lelah itu kan biasa, karena namanya orang sudah setengah tua, tapi harus bekerja. Tapi itu lelah biasa, bukan karena saya sakit.”

“Kalau memang lelah kan harusnya Ibu beristirahat. Atau saya kabari saja Zein, agar mengantarkan Ibu ke rumah sakit?”

“Jangan,” dengan cepat bu Iman menyergahnya.

“Ibu kan harus periksa ke dokter juga, walaupun hanya lelah.”

“Tidak usah Bu, saya sudah minum obat, minum jamu. Setelah minum saya sudah merasa segar kok. Kalau ibu mengabari Zein, nanti Zein pasti pulang, dan itu akan membuat tugasnya tersendat. Jadi lama ia menyelesaikannya, tidak segera bisa menjadi dokter.”

“Nanti kalau saya tidak mengabarkan apa-apa, dan Ibu benar-benar sakit, Zein pasti marah pada saya.”

Bu Iman hanya tertawa.

“Tidak Bu, jangan khawatir. Lagian saya kan tidak benar-benar sakit. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Malah jadi merepotkan saya nanti. Tapi terima kasih lho Bu, sudah memperhatikan keadaan saya.”

“Kita kan bertetangga Bu, sudah selayaknya kalau saling membantu, saling mendukung, saling memperhatikan.”

Bu Iman tersenyum senang.

***

Beberapa bulan berlalu, Zein dan Indras bertugas dibagian yang berbeda, sehingga tidak bisa sering bertemu seperti sebelumnya. Walau begitu mereka tetap berhubungan melalui pesan singkat ataupun bertelpon.

Hari itu Bagas mampir ke rumah pak Narya karena kembali bertugas di kota yang sama. Berkali-kali pak Narya bertanya tentang hubungannya dengan Indras, tapi sambil tertawa Bagas selalu menjawab bahwa hubungannya baik-baik saja. Pak Narya sudah kehilangan harapan untuk bisa menjadikan Bagas sebagai menantu.

“Saya senang Bapak dan Ibu selalu baik kepada saya. Saya anggap Bapak dan Ibu sebagai orang tua saja, walau tidak berhasil menjadi menantu.”

“Ya, tentu saja Bagas. Kamu adalah anak kami,” kata pak Narya.

“Tapi sikap Indras bagaimana setiap kali kamu menelponnya?” sambung bu Narya.

“Baik Bu, kami berbincang akrab, bercanda. Tidak ada penolakan dari Indras setiap kali saya menelpon. Dia akan menolak, kalau saya berbicara tentang cinta. Tidak apa-apa, kami tetap bersahabat,” kata Bagas dengan nada ringan tanpa beban. 

Bukankah jodoh tidak perlu dicari dan akan datang sendiri pada suatu hari nanti?

***

Hari itu Indras mencari-cari Zein tidak ketemu. Salah seorang temannya mengatakan bahwa Zein izin tidak masuk karena harus pulang. Kabarnya ibunya sakit. Indras terkejut. Ia langsung menelpon Zein.

“Zein, kamu di mana?”

“Maaf aku tidak sempat mengabari kamu, karena aku buru-buru pulang.”

“Ibu sakit lagi?”

“Kemarin ditemukan pingsan di warungnya, lalu tetangga membawanya ke rumah sakit.”

“Sekarang ibu di rumah sakit?”

“Iya, aku sedang menungguinya, tapi ibu belum sadar sejak kemarin.”

“Ibu sakit apa?”

“Jantungnya bermasalah. Mungkin dia kecapekan karena memaksa bekerja. Itu yang dikatakan para tetangga.”

“Ikut sedih mendengarnya Zein. Semoga ibu baik-baik saja.”

“Terima kasih In.”

“Kamu jangan kecapekan juga. Semoga keadaan ibu semakin baik sehingga kamu bisa segera kembali bertugas.”

“Iya, aku juga berharap begitu.”

***

Sudah tiga hari Zein menunggui di rumah sakit. Bu Iman sudah sadar dan sudah dipindahkan ke kamar inap, tapi masih belum bisa dikatakan membaik.

“Zein, kamu kembalilah sana, ibu sudah tidak apa-apa.”

“Ibu masih lemah dan harus dirawat. Sabar ya Bu.”

“Ibu merasa baik, ibu akan pulang saja.”

“Jangan Bu, sabarlah untuk sehari dua hari.”

“Kamu terlalu lama meninggalkan tugas kamu. Kalau tidak segera lulus bagaimana?”

“Ibu jangan khawatir. Zein akan mewujudkan semua keinginan Ibu. Yang penting Ibu segera sehat dan bisa menemani Zein saat berpraktek menjadi dokter.”

Bibir pucat itu mencoba tersenyum.

“Bagaimana aku bisa menemani kamu berpraktek?”

“Ibu akan Zein jadikan perawat,” canda Zein.

“Mana mungkin, ibu tidak pernah sekolah perawat. Melihat jarum suntik saja ibu sudah pucat, sementara di sini di suntik terus-terusan.”

“Tidak apa-apa Bu, nanti ibu bisa belajar. Mencatat pasien yang datang, namanya siapa, alamatnya mana, keluhan sakitnya apa,” kata Zein sambil menepuk-nepuk tangan sang ibu.

“Ibu tahu kamu sedang menghibur ibu.”

“Benar, nanti Ibu akan melakukan itu, tidak berjualan makanan lagi seperti yang sudah.”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Memang menyenangkan, luar biasa, anaknya jadi dokter, ibunya menjadi penerima pasien.”

“Apa iya, hal itu bisa terjadi?”

“Jangan bilang begitu Bu, semuanya pasti akan terjadi. Insyaa Allah.”

“Ibu sepertinya semakin lemah, bagaimana kalau ibu tidak bisa menunggui kamu saat diwisuda menjadi dokter?" kata bu Iman lemah.

“Ibu tidak boleh berkata begitu. Zein tidak bisa hidup tanpa Ibu.”

“Kamu masih muda dan kuat, Zein.”

“Zein akan kuat kalau ada Ibu di samping Zein.”

Bu Iman meremas jemari Zein.

“Ibu ngantuk.”

“Tidurlah Bu, Zein akan menunggui Ibu di sini.”

“Sebaiknya kamu kembali Zein, ingat pendidikan kamu.”

“Kalau Ibu membaik, Zein akan kembali. Sekarang Ibu jangan memikirkan apa-apa lagi.”

Bu Iman menutup matanya perlahan, dengan tangan masih menggenggam jemari sang anak.

***

Besok lagi ya.

34 comments:

  1. Alhamdullulah..terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda🙏🥰🌹❤️

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 09" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
    Sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis

      Delete
  3. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda cerbungnya udah tayang
    Semoga sehat slalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  4. Matur nuwun Bu Tien....

    Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala...

    Aamiin ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Apip

      Delete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  7. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
    Aduhai aduhai
    Kemarin nggak komen ya

    ReplyDelete
  8. Trimakasih Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida

      Delete
  9. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien 🙏🙏tetap sehat ya Bu, semangat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta.....❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik

      Delete
  10. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....

    ReplyDelete
  11. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 09 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Zein harus tabah, ibunya 'akan pergi dan tak akan kembali lagi'... mengikuti ayah Zein.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  12. 🌾🪴🌾🪴🌾🪴🌾🪴
    Alhamdulillah 🙏🌹
    Cerbung eSAaCe_09 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🤲.Salam seroja 😍
    🌾🪴🌾🪴🌾🪴🌾🪴

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  13. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (09)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu

      Delete