Saturday, April 4, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 07

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  07

(Tien Kumalasari)

 

Indras keluar dari kantin, setengah berlari untuk mengejar Zein yang urung memasuki kantin.

“Zein! Tunggu Zein!’

Lalu karena Zein tidak berhenti, maka Indraspun berlari, lalu berhenti tepat di hadapannya, menghadang Zein yang akan melanjutkan langkahnya.

“Ada apa ini Zein, aku tidak mengerti semuanya.”

“Apakah aku sendiri yang harus mengerti?”

“Zein, katakan ada apa.”

“Apa yang harus aku katakan?”

“Zein, jangan begitu, ayo kita bicara.”

Tak merasa sungkan, Indras menarik lengan Zein, diajaknya duduk di bawah pohon. Wajah Zein tampak kaku, sedih Indras melihatnya.

“Zein, katakan apa yang terjadi.”

“Tanyakan kepada diri kamu sendiri.”

“Aku kenapa? Aku tidak punya pertanyaan untuk diri aku sendiri. Aku terkejut ketika sikap kamu berubah, lalu tiba-tiba memutuskan hubungan kita.”

“Bukankah aku sudah membuat kamu lega?”

“Apa maksudnya?”

“Kalau kita putus, kamu boleh mengadakan hubungan dengan siapapun juga. Bukan laki-laki miskin seperti aku. Bukankah harusnya kamu berterima kasih padaku?”

“Aku tetap tidak mengerti,” sungut Indras.

“Aku tahu kamu banyak pengagum. Kamu cantik, pintar, kaya.”

“Lalu apa?”

“Kamu bebas memilih kan?”

“Zein, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan.”

“Tentu saja aku tahu.”

“Kamu salah menilai aku. Kamu tahu apa yang aku rasakan, bertahun-tahun kita kenal, dekat, kemudian saling suka. Apa yang salah dalam semua ini?”

“Yang salah adalah kamu keliru dalam memilih. Aku hanya orang miskin.”

“Bukankah aku sudah tahu keadaan kamu sejak bertahun lalu?”

“Terkadang orang terlambat menyadarinya. Setelah berjalan, kamu baru tahu kesalahan kamu dalam memilih sesuatu.”

“Itu pernyataan konyol. Kamu tidak sadar apa yang kamu katakan.”

“Sudahlah Is, lupakan aku, daripada aku merasa sakit.”

“Kamu sakit kenapa? Aku menyakiti kamu?”

“Ayahmu tidak menyukai aku, dan kamu sudah punya seseorang yang jauh lebih segalanya daripada aku.”

“Zein, ayolah. Aku masih seperti dulu.”

“Masa?”

“Apa aku harus bersumpah?”

“Jangan. Sumpah itu berat.”

Indras kehabisan kata-kata. Sekarang air matanya merebak, dan mulai menetes membasahi pipinya.

Isak itu membuat Zein kemudian menoleh ke samping, di mana kemudian Indras mengusap pipinya dengan telapak tangan.

“Indras, aku melakukan sesuatu yang benar. Aku sudah tahu ada seseorang yang lebih pantas. Dan itu pasti lebih disukai orang tua kamu.”

“Tidak ada … tidak ada ….”

“Aku melihatnya, dan kalian tampak lebih serasi.”

Indras menatap Zein, mereka berpandangan. Saling memandang dengan tatapan sayu, sedih.

“Kamu melihat apa?”

“Melihat kamu dan dia.”

“Oh, kemarin? Aku dan Bagas?”

“Tanpa aku, kamu bisa memilih mana yang lebih baik.”

“Kamu salah paham Zein. Kemarin aku pergi dengan Bagas, karena aku ingin mengatakan bahwa aku sudah punya kamu.”

Zein melembutkan tatapannya. Perkataan itu sedikit meluluhkan kekakuan hatinya.

“Apa kamu mengira aku sedang bersenang-senang? Tidak Zein, kamu salah sangka. Dia menyatakan cinta, tapi aku mengatakan yang sebaliknya. Itu karena aku memilih kamu.”

“Orang miskin yang tidak sederajat? Bukankah begitu ayahmu mengatakannya?”

“Zein, aku memilih kamu tanpa peduli siapa kamu dan bagaimana keadaan keluarga kamu. Aku mencintai kamu karena kamu baik dan sangat melindungi aku.”

Zein terdiam. Ia bukan tidak mencintai Indras lagi. Ia cemburu dan merasa bahwa dirinya memang tidak pantas berada di samping Indras. Keputusan yang diambilnya dirasa tepat. Ia ingin fokus kepada kuliahnya dan menjadi orang yang berhasil seperti keinginan orang tuanya.

Isak kecil itu masih terdengar. Zein mengulurkan sebuah saputangan. Indras menerimanya. Ia menghapus sisa air matanya.

Tiba-tiba Zein berdiri, lalu menarik lengan Indras.

“Aku lapar.”

Indras tersenyum. Sebuah kedamaian tercipta tanpa kata-kata. Ungkapan yang dikatakan oleh masing-masing adalah sebuah gencatan senjata kalau saja pertentangan itu dianggap sebuah peperangan dengan senjata masing-masing untuk saling menyerang.

***

Ketika memasuki kantin, Pri masih menyendok makanannya. Ia menoleh kearah kedatangan Zein dan Idras lalu mulutnya cemberut.

“Kamu bilang akan mentraktirku, tapi kamu kabur,” omelnya sambil menatap Indras, yang terkekeh senang.

“Bukankah kamu yang memaksa ingin mentraktir karena baru saja mendapat kiriman?”

“Katamu aku harus berhemat.”

Zein tertawa.

“Ayolah, pesan lagi saja. Kali ini aku yang akan mentraktir.”

Lalu mereka duduk bertiga.

“Zein menyakiti kamu?” tanya Pri yang pastinya melihat bekas air mata di wajah Indras.

“Jangan berpacaran dengan laki-laki yang suka menyakiti. Aku laki-laki baik, lembut, penuh kasih sayang. Pilih aku saja,” kata Pri sambil menyuapkan suapan terakhirnya.

Zein dan Indras tertawa.

“Berani? Lompati dulu mayatku,” sergah Zein yang membuat ketiganya tertawa.

“Aku masih lapar, pesankan satu porsi lagi sekalian kamu memesan makanan kamu,” kata Pri sambil menatap Zein, yang dijawab Zein dengan anggukan, dan acungan jempol kanannya.

***

Pak Narya menelpon Bagas setelah beberapa hari Bagas pulang.

“Aku tidak mengira Indras sekeras itu. Apa yang salah padamu, Bagas?”

“Bapak, saya bisa menerimanya dengan ikhlas.”

“Pasti kamu kesal dan marah sekali bukan?”

“Tidak, mengapa saya harus marah? Siapapun berhak memilih, jadi tidak apa-apa bagi saya ketika mengetahui bahwa Indras menolak saya.”

“Aku melihat kalian sangat cocok, dan selalu kompak dalam berbincang, aku pikir kalian lebih pas untuk berjodoh.”

“Kami lebih pas untuk bersahabat. Tidak apa-apa Pak, kami masih bisa saling bertemu walaupun Indras tidak mencintai saya.”

“Aku tidak suka pada laki-laki itu. Indras tidak bisa memilih pasangan yang lebih baik.”

“Yang penting Indras bahagia. Sungguh tidak apa-apa, dan saya berharap Bapak juga bisa menerimanya.”

Pak Narya diam, tapi bukannya dia sependapat dengan apa yang dikatakan Bagas.

“Bahagia tidak cukup hanya cinta. Dalam hidup banyak hal yang dibutuhkan. Kehidupan yang layak, pasangan yang serasi, dan masih banyak lagi. Lalu apa yang dimiliki Zein Abadi yang tidak memiliki apapun kecuali tampang dan penampilannya?"

 Berkali-kali pak Narya menganggap Indras begitu bodoh karena melihat Zein hanya dari sisi penampilannya saja.

***

Hari begitu cepat berlalu. Bagas menepati janjinya untuk sering berkunjung, tapi kali terakhir dia datang, Indras sedang menjalani co-ass di sebuah rumah sakit yang ada di kota lain.

Alhasil dia hanya ditemui oleh pak Narya dan istrinya.

“Telpon saja dia Bagas, barangkali untuk tiga bulan mendatang dia tidak pulang.”

“Tidak mudah kalau ingin menjadi dokter ya Pak.”

“Ya, begitulah. Memang itu yang menjadi pilihannya.”

“Semoga berhasil.”

“Aamiin.”

“Segera mencari gadis yang cocog Gas, walaupun urung menjadi menantuku, kami adalah tetap keluarga kamu, karena ayahmu itu sahabat aku.”

“Iya, doakan saja ya Pak. Sampai saat ini belum laku nih.”

“Kamu gagah tampan, mapan. Sangat gampang menemukan gadis yang cocok. Bodoh sekali kalau ada yang menolaknya,” kata pak Narya sambil mengingat kembali penolakan Indras atas lamaran Bagas.

“Barangkali memang belum ketemu jodoh.”

***

Bu Iman lebih sibuk berdagang makanan. Sedikit banyak hasil berdagang itu hanya untuk anak semata wayangnya. Terkadang jam dua malam dia sudah bangun untuk mempersiapkan dagangannya. Kebutuhan untuk kuliah Zein lebih banyak dari biasanya, karena sekarang Zein harus kost di kota lain yang dekat dengan rumah sakit tempat dia menjalani program co-ass demi tercapainya cita-cita untuk menjadi dokter.

Kebetulan Indras dan Zein mendapat tugas di rumah sakit yang sama, walau berbeda bagian. Jadi saat senggang mereka masih bisa bertemu.

Tapi Zein selalu mencukupi semua kebutuhannya sendiri, dan menolak bantuan yang ditawarkan Indras.

“Ibu mencukupi semua kebutuhan aku, jadi jangan kamu merepotkan diri untuk membantu aku. Itu juga agar orang tua kamu tidak semakin merendahkan aku.”

“Zein, lupakanlah mereka dan sikap mereka. Orang tua terkadang begitu. Tapi nanti ketika melihat ketulusan kamu, aku percaya mereka akan luluh kok,” kata Indras yang selalu menghibur kekasihnya.

Tapi hari itu Zein gelisah. Sebuah kabar membuatnya dia harus pulang. Ibunya sakit.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, April 3, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 06

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  06

(Tien Kumalasari)

 

Gemetar tangan Indras dengan masih memegang ponsel, dan menyadari bahwa Zein telah menutup pembicaraan.

“Zein?” bisiknya lirih, sedangkan air matanya bercucuran.

“Apa salahku Zein? Dosa apa yang telah aku perbuat sehingga tiba-tiba kamu memutuskan hubungan kita? Zein, aku sangat mencintai kamu. Bukankah baru beberapa hari yang lalu kamu juga mengatakan itu?”

Indras meletakkan ponselnya, dan membiarkan air matanya membanjir membasahi pipinya. Lirih tangisnya, tapi terdengar begitu memilukan. Ketika ia datang ke pemakaman ayahnya, Zein masih bersikap begitu manis. Mengapa tiba-tiba memutuskan cinta?

Indras meraih kembali ponselnya, lalu menekan nomor kontak Zein. Diangkat, tapi yang terdengar adalah suara orang mengaji bertalu-talu.

Indras berbisik.

“Zein …” lalu ponsel dimatikan.

Zein hanya ingin mengatakan bahwa dia dan tamu-tamunya sedang mengaji.

Indras kembali meletakkan ponselnya. Ingin rasanya dia lari ke rumah Zein untuk menjelaskan semuanya. Mengapa tiba-tiba Zein memutuskan hubungan, mengapa Zein bersikap sangat dingin ketika menjawab telponnya. Mengapa, dan beribu pertanyaan memenuhi benaknya, tak terjawabkan.

“Ada apa Mbak?”

Indras buru-buru mengusap wajahnya dengan tangan, tapi tangis itu tak bisa disembunyikan. Wajahnya basah, matanya sembab. Itu yang dilihat sang adik ketika memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.

“Mengapa tiba-tiba masuk?” tegurnya.

“Aku mendengar suara tangisan. Pintu kamar itu tidak benar-benar tertutup.”

“Apakah bapak atau ibu mendengarnya?”

“Mereka duduk di teras. Aku kebetulan lewat kamar ini dan mendengar Mbak menangis,” kata sang adik sambil duduk di sebelahnya.

“Zein memutuskan hubungan.”

“Putus?”

Indras hanya mengangguk dan kembali mengusap wajahnya, kali ini dengan tissue yang ada di atas nakas.

“Kalian bertengkar?”

“Aku bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mengatakan putus.”

“Tanpa bertengkar?”

“Tanpa berbicara apapun. Aku sedang menelpon dan menanyakan tentang peringatan tujuh hari meninggalnya ayahnya. Ternyata malam ini. Aku mendengar suara orang-orang mengaji. Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia mengatakan putus.”

“Pasti ada sesuatu. Tapi tak mungkin hanya karena Mbak tidak datang di acara peringatan itu.”

“Aku bahkan tidak tahu dan sedang menanyakannya.”

“Untuk menemukan jawabnya, Mbak harus bertemu besok. Tak cukup dengan Mbak menangis sepanjang malam.”

Indras mengangguk.

“Lebih baik mbak tidur dan melepaskan semua beban,” kata sang adik sambil berdiri, dan beranjak keluar dari kamar, kemudian menutup pintunya rapat-rapat.

Indras merasa kamar menjadi senyap. Ia beranjak ke pintu lalu menguncinya. Ia tak ingin ibunya juga akan memasuki kamarnya lalu melihat ia menangis.

Indras berbaring, dan mencoba memejamkan matanya.

***

Tamu-tamu bu Iman sudah pada pulang. Zein, dibantu salah seorang tetangganya mengumpulkan gelas kosong dan dibawanya ke belakang.

Setelah itu Zein mendekkati ibunya yang termenung di atas tikar bekas tempat duduk para tamu.

“Zein, besok kita ke makam ya?”

“Iya. Ibu Zein boncengin saja. Kan tidak jauh.”

“Kamu sudah lama tidak kuliah, Zein.”

“Besok setelah dari makam, Zein akan ke kampus.”

“Ya, kamu harus mengedepankan kuliah kamu, agar bisa mewujudkan cita-cita bapak dan ibumu.”

Zein mengangguk.

“Nanti kalau Zein sudah lulus dan menjadi dokter, Ibu jangan berjualan lagi. Zein yang akan mencukupi semua kebutuhan  Ibu.”

“Tapi berdiam diri di rumah kan tidak enak Zein, ibu biasa bekerja, memasak dan menjadikannya dagangan yang menghasilkan.”

“Ibu pasti lelah. Saatnya Ibu berdiam di rumah. Kalau ingin kesibukan, Ibu belanja saja dan memasak untuk kita berdua.”

“Ibu sebenarnya tidak lelah.”

“Bu, saatnya orang tua beristirahat, dan anak yang menafkahi orang tuanya.”

Sang ibu memeluk Zein dengan linangan air mata.

“Kalau ayahmu masih ada, dia pasti bangga mendengar kata-kata kamu ini.”

“Bapak sudah tenteram di sana. Kita doakan saja agar mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.”

Sang ibu melepaskan pelukannya, lalu mengusap air matanya.

“Ibu istirahatlah, biar Zein membereskan tikar-tikar ini dan membersihkan semuanya.”

“Baiklah, kamu juga harus segera beristirahat, besok kita ke makam pagi. Bukankah setelahnya kamu akan pergi ke kampus?”

***

Pak Narya sedang berbincang dengan istrinya, tentang penolakan Indras ketika Bagas menyatakan cintanya.

“Bagaimana Indras bisa berpikir sebodoh itu? Harusnya dia berpikir tentang masa depan, bukan masa sekarang yang hatinya sedang diselimuti oleh rasa cinta yang akan membuatnya tersesat,” omel pak Narya.

“Aku juga heran, bagaimana jalan pikiran Indras itu. Jaman dulu orang-orang menikah tidak harus jatuh cinta lebih dulu. Bahkan ketika akad nikah ada yang belum pernah melihat seperti apa calon pasangannya. Dan seperti ibu ini ya Pak, tadinya ibu tidak punya perasaan apa-apa kepada Bapak.”

"Orang tua pasti memilihkan jodoh terbaik untuk anaknya, ya kan? Kamu sudah merasakannya, harusnya kamu memberi contoh itu kepada Indras.”

“Tidak berhenti ibu mengomelinya, memberinya contoh, memberinya gambaran bahwa hidup itu adalah pilihan. Kalau salah memilih, pasti akan tersesat.”

“Anak itu memang keras kepala. Susah sekali bisa menerima perkataan orang tua.”

“Dulu dia tidak begitu. Indras anak penurut. Entah mengapa, giliran bicara tentang pasangan dia bisa semaunya sendiri begitu.”

“Pasti laki-laki itu yang mempengaruhinya, Siapa orangnya yang tak ingin menemukan keluarga kaya. Siapa yang tak ingin mendapatkan hidup enak, berkecukupan? Hanya Indras yang tidak bisa memilih. Kalah pintar dengan anak muda yang digandrunginya itu.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Apa? Aku juga bingung. Adiknya bisa menemukan pasangan yang baik, mengapa dia tidak?”

Bu Narya menghela napas panjang, sedih. Tapi tak mampu berbuat apa-apa.

“Semoga Indras segera menyadari kesalahannya."

***

Pagi hari itu Indras bersiap ke kampus. Tapi ia tidak bertemu Zein. Rupanya Zein belum juga masuk kuliah. Padahal bulan depan sudah memasuki masa co-ass, atau program profesi sebelum mendapatkan gelar dokter.

Indras ingin menelponnya, tapi ragu. Kalau tidak diangkat lagi, hatinya pasti sakit. Tapi dia butuh kejelasan, sehingga dalam menjalani masa-masa tugas dia bisa melakukannya dengan lebih tenang.

“Hei, mengapa melamun?”

Indras terkejut, Kris, teman kuliahnya menepuk bahunya keras.

“Hiih, sakit, tahu?”

Tapi Kris justru tertawa.

“Ngelamunin apa? Zein ya? Dia tadi bersama ibunya ziarah ke makam ayahnya. Apa dia tidak bilang sama kamu?”

Indras menggeleng. Iya juga, biasanya setelah tujuh hari keluarganya pasti mengunjungi makam, untuk sekedar menaburkan bunga, atau kembali mengirimkan doa. Hal itu akan berlanjut, saat seratus hari, sampai nanti seribu hari dan mereka tidak lagi harus mengadakan peringatan lagi. Pastinya mengirimkan doa bisa dilakukan setiap saat.

“Kamu tidak diajak? Jadi kamu tidak ingin mengunjungi makam calon mertua kamu?”

“Aku malah tidak tahu.”

“Gimana sih Zein, lihat, ia membuat kekasihnya sedih seperti ini.”

“Kris! Pergi sana, mengganggu orang saja.”

“Dengar In, orang melamun itu gampang didekati setan,” Kris masih saja menggodanya.

Indras cantik, tak heran ia memiliki banyak pengagum. Tapi tampaknya semua pengagum sudah mundur teratur sejak Indras dekat dengan Zein. Akan sia-sia mencintai orang yang sudah punya kekasih. Ya kan?

“Aku doakan agar saat co-ass nanti kamu tidak bisa satu tim dengan Zein.”

“Apa?”

“Semoga nanti aku yang bisa selalu berdekatan sama kamu.”

Indras tersenyum. Kris amat kocak, dan suka bicara semaunya. Ia merasa sedikit terhibur dengan adanya Kris didekatnya.

“Ayuk kita ke kantin,” tiba-tiba Indras berdiri.

“Bener nih?”

“Ayuk,” kata Indras yang lebih dulu berjalan ke arah kantin.

Kris mengejarnya.

“Kamu traktir aku?”

“Iya, kan aku yang mengajak?”

“Nggak enak ah, cowok ditraktir cewek? Biar aku yang traktir kamu. Aku barusan mendapat kiriman nih.”

“Jangan, anak kost harus hemat. Supaya jangan kehabisan uang sebelum mendapat kiriman berikutnya.”

“Betul juga ya. Tapi aku pengin sekali traktir kamu.”

“Aku saja,” Indras tak mau kalah.

Mereka sudah memasuki kantin dan duduk berhadapan sambil saling bercerita dan bercanda.

Saat itu tiba-tiba seseoramg muncul, berdiri di pintu kantin, menatap keduanya, lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Tapi Indras melihatnya.

Ia berdiri meninggalkan Kris yang sedang menyeruput es dawetnya.

“Zein, tunggu!”

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, April 2, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 05

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  05

(Tien Kumalasari)

 

Pemilik sepasang mata itu melanjutkan langkahnya, urung membeli makanan di warung di mana tadi Indras memasukinya bersama laki-laki ganteng yang tampak sangat melindunginya.

Ia adalah Zein yang ingin membeli makanan untuk hidangan sore nanti atas perintah ibundanya.

Zein melihat mobil yang diparkir di depan warung itu, ia tidak lupa pernah melihat mobil itu di halaman rumah Indras, ketika ia lewat di depan rumahnya.

Hati Zein merasa ciut, menyadari siapa dirinya. Ia merasa sakit karena pernah mendengar orang tua Indras sangat meremehkannya sebagai orang yang tidak sederajat dengan dirinya. Hal itu terus diingatnya seperti menyimpan dendam dan sakit, jauh di dasar lubuk hatinya.

Ia melangkah terus, mencari warung yang menjual makanan murah, tapi yang tidak memalukan untuk suguhan sore nanti, dengan mengabaikan sakit hatinya.

Harapan untuk memiliki Indras menjadi semakin tipis.

Sementara itu Bagas dan Indras sudah duduk berhadapan di sebuah bangku kosong. Memang warung itu agak sepi, karena belum saatnya orang makan siang. Mereka memesan makanan dan minuman masing-masing sambil berbicara ringan.

Indras menatap Bagas yang matanya berbinar saat memandangnya. Apa yang ingin ia katakan menjadi sulit diungkapkan karena sikap Bagas yang sangat manis.

“Indras, ayo kita makan, bukankah kamu tadi mengatakan bahwa kamu sangat lapar?”

“Iya benar, aku sangat lapar.”

Keduanya makan dalam diam, dan menyimpan segala rasa masing-masing yang siap diutarakan nanti setelah selesai makan.

“Enak, aku suka masakan Jawa yang sederhana ini, tapi enak di lidah.”

“Benar, aku sudah tahu kalau kamu pasti akan menyukainya.”

“Kamu sering kemari?”

“Lumayan sering, kalau sepulang kampus lalu merasa lapar. Warung ini masakannya enak, dan tidak terlalu mahal. Cukupan kalau yang makan disini sekelas mahasiswa atau yang sebagian besar anak kos-kosan.”

Bagas mengangguk-angguk setuju.

“Aku sudah bukan mahasiswa lagi, tapi aku suka,” katanya sambil meneguk minuman yang sudah setengah gelas diminumnya.

Mereka sudah selesai makan. Masing-masing ingin mengatakan sesuatu, yang kemungkinan besar tidak sejalan dengan apa yang akan mereka katakan. Tapi sepertinya mereka saling menunggu, kapan waktu terbaik untuk mengatakannya.

“Indras ….” sepertinya Bagas sudah siap untuk mengatakan isi hatinya.

Indras mengangkat wajahnya, menatap wajah tampan di depannya yang tersenyum penuh arti dan membuat Indras harus membuang mukanya ke arah lain. Ia tidak membenci Bagas, ia suka dia, tapi itu bukan cinta.

“Indras, ada yang ingin aku katakan sama kamu.”

Indras mengangguk.

“Katakan saja.”

“Apa bapak pernah mengatakan kepada kamu tentang sesuatu?”

“Tentang apa ya?” Indras berlagak tak tahu, padahal belum lama sang ayah mengatakannya.

“Bahwa sesungguhnya ….”

Bagas rupanya agak gugup. Ia kembali meneguk minumannya. Kegugupan itu membuat Indras merasa iba, karena ia sudah tahu apa yang ingin dikatakannya.

“Apa kamu tahu bahwa aku menyukai kamu? Maksudku … mencintai kamu?”

Indras tidak terkejut. Ia menundukkan wajahnya, sambil berpikir bagaimana nanti dia mengutarakan isi hatinya yang pasti berlawanan dengan isi hati Bagas.

“Indras, aku bahkan sudah pernah mengatakan pada pak Narya, bahwa aku ingin menikahi kamu.”

Indras menghela napas panjang.

“Gas, kamu adalah sahabat terbaik aku. Sangat baik dan sangat dekat.”

Bagas menatap bibir tipis yang bergerak-gerak mengatakan sesuatu dengan sangat lirih.

“Tapi … aku mohon kamu memaafkan aku.”

Kening Bagas berkerut. Kata ‘tapi’ itu tidak akan menjanjikan akan terwujudnya sebuah harapan.

“Maaf Bagas, aku hanya menyukai kamu, tapi aku tidak mencintai kamu.”

Bagas menghembuskan napas dengan berat.

“Apakah kamu marah?”

Bagas  menggelengkan kepalanya dengan lemas. Mengapa harus marah kalau memang cintanya tidak terbalas? Hanya sakit. Tapi ia percaya Indras punya alasan.

“Aku mencintai laki-laki lain,” kata Indras kemudian.

“Oh …” ucapnya sambil menghembuskan napas panjang.

“Maaf ya Gas?”

Bagas mencoba tersenyum.

“Tidak ada yang harus dimaafkan, aku mengerti.”

“Kamu akan tetap menjadi sahabat terbaik aku. Sahabat yang paling baik.”

“Terima kasih Indras.”

“Percayalah, bahwa kamu akan mendapatkan seorang gadis lain yang lebih cantik, lebih baik, dan juga yang mencintai kamu sepenuh hati.”

“Aamiin,” kata Bagas, masih dengan senyuman. Lalu ia meneguk minumannya sampai habis.

“Semoga kamu bahagia,” katanya bersungguh-sungguh sambil menatap Indras dengan pandangan yang sedikit sayu.

“Maafkan aku, Bagas.”

“Tidak perlu minta maaf. Ketika seorang laki-laki menyatakan cinta, ia juga harus bersiap untuk patah hati.”

“Jangan patah, kamu akan mendapatkan gantinya nanti.”

Bagas mengangguk.

Ketika mengantarkan pulang, mereka tak banyak bicara di mobil.

Bahkan saat sampai di rumah Indras, Bagas langsung pamit tanpa mau singgah barang sebentar saja.

“Tidak mampir dulu?”

“Ada yang harus aku kerjakan, tolong pamitkan pada bapak, sore nanti aku harus kembali ke tempat kerja.”

Indras hanya mengangguk, lalu mereka bersalaman, dan sekali lagi Indras mengucapkan kata maaf, dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Bagas.

Ketika mobil Bagas pergi, ia menatap mobil itu sampai hilang dibalik gerbang. Ada rasa kasihan mengingat betapa sakit hati Bagas, ada rasa lega karena ia sudah mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.

***

Indras ingin langsung memasuki kamarnya, tapi dari ruang tengah sang ayah memanggilnya.

“Indras.”

Indras menghentikan langkahnya, berbelok ke arah ruang tengah di mana sang ayah sedang duduk bersama ibunya.

“Kamu pulang sendiri?”

“Tidak, Bagas mengantarkan tadi, tapi rupanya dia tergesa karena ada urusan, jadi tidak mau singgah.”

“Ke mana saja kalian? Cepat sekali pulangnya.”

“Hanya makan. Sekarang Indras mau istirahat dulu,” kata Indras yang langsung membalikkan tubuh menuju ke kamarnya.

***

Dalam perjalanan ke hotel, Bagas menerima telpon dari pak Narya.

“Bagaimana Gas, kok cepat sekali kalian pulangnya?”

“Hanya makan saja, Pak.”

“Kamu juga tidak mampir dulu tadi.”

“Saya harus menyelesaikan urusan, lalu sore nanti akan kembali.”

“Kamu sudah mengatakannya pada Indras?”

“Sudah, Pak.”

“Apa jawabnya?”

“Dia mencintai laki-laki lain.”

Jawaban itu membuat wajah pak Narya muram seketika.

***

Zein sudah sampai di rumah, lalu menyerahkan berbagai macam kue yang dibelinya tadi kepada sang ibu.

“Banyak sekali macamnya.”

“Kan kita tidak menyediakan nasi. Jadi makanan ini ditaruh saja di kotak-kotak ini, terserah mau dimakan di sini atau dibawa pulang.”

“Baiklah kalau begitu. Tinggalkan saja, ada yang membantu ibu kok. Ini kotak makanannya?”

“Iya.”

“Wajahmu tampak pucat, kamu sakit?”

“Tidak. Udara sangat panas.”

“Aku ambilkan minum air putih.”

“Tidak usah Bu, biar Zein mengambilnya sendiri.”

“Zein, kamu tidak mengundang Indras?” pertanyaan ibunya membuatnya berhenti melangkah.

“Tidak Bu, malu.”

Kemudian Zein berlalu, untuk mengambil air putih di dapur. Dalam hati dia berkata, memanggil Indras? Pada pertemuan sederhana dan hidangan sederhana pula? Bukannya Zein malu menjadi orang tak punya, tapi Zein hanya tak ingin keadaan rumah tangganya dihinakan dan direndahkan oleh orang lain. Memang sih, orang tua Indras tidak mungkin ikut datang, tapi Indras yang melihat keadaannya akan berpikir bahwa apa yang dikatakan ayahnya adalah benar. Lalu laki-laki ganteng yang bersamanya tadi? Siapa dia? Itu yang oleh orang tua Indras dibandingkan dengan dirinya? Tidak, Zein lebih baik mundur.

***

“Zein, apa benar malam ini adalah peringatan tujuh hari meninggalnya ayah kamu?” Indras menelpon hanya karena ia menghitung-hitung saja. 

Ia tidak keluar kamar, karena tidak ingin mendengar omelan sang ayah tentang pertemuannya tadi dengan Bagas.

“Ya, ini sudah mulai mengaji. Maaf, aku tutup telponnya.”

“Zein, kenapa kamu tidak memberi tahu aku? Aku pasti akan datang dan ikut mendoakan ayah kamu.”

“Allah ada di mana-mana, kalau ingin mendoakan, doakan saja dari rumah kamu, Allah pasti mendengar kok.”

“Zein, kok suara kamu ketus begitu. Sungguh aku ingin ke situ. Apa mulainya sudah lama? Aku kesitu ya?”

“Tidak. Kan aku tidak mengundang kamu?”

“Zein, mengapa suara kamu sama sekali tidak ramah?”

“Bukankah aku sedang berduka?””

“Tapi tidak seharusnya kamu bersikap begitu, aku sangat memperhatikan kamu.”

“Mulai sekarang jangan lagi melakukannya.”

“Zein, apa maksudmu?”

“Kita putus.”

“Zeiiin!” Indras berteriak, tapi suara Zein sudah hilang. Yang terdengar adalah denging suara yang membuat telinganya terasa sakit.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, April 1, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 04

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  04

(Tien Kumalasari)

 

Indras masih memegang ponselnya, dengan tangannya yang gemetar. Berita meninggalnya pak Iman, ayah Zein, membuatnya terkejut. Apa karena kesalahan keluarga mereka yang meminta pulang paksa?

Belum lama berada di rumah, dan Zein mengatakan batuknya berkurang, tapi badannya panas. Pasti mereka sudah mengupayakan yang terbaik, dan obat dari dokter pasti sudah diminumkannya. Tapi kalau Allah berkehendak lain? Mati dan hidup itu bukan tentang kaya dan miskin bukan? Indras masih termenung, dan ponsel masih dipegangnya erat, sementara Zein hanya menelponnya sebentar, sekedar memberi tahu.

“Ada yang meninggal? Siapa?” tanya pak Narya ketika mendengar Indras menjawab telpon.

“Ayah Zein akhirnya meninggal,” katanya lirih.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun.." kata sang ayah dan ibunya hampir bersamaan.

“Sakit apa? Baru kemarin kamu bilang dia sakit.”

“Radang paru-paru yang sudah parah. Minta pulang paksa karena tak punya biaya,” kata Indras sambil berdiri. Ia ingin datang ke rumah Zein.

“Kasihan. Pulang karena tak punya biaya? Dan akhirnya meninggal.,” gumam sang ibu.

“Hidup ini memang susah. Saat tak punya apa-apa, lalu kita membutuhkannya, apa yang kemudian kita dapatkan? Bukan soal membedakan antara kaya dan miskin, hanya saja kenyataannya bagaimana kalau kita tak punya uang? Indras tak mau mengerti. Ia bicara tentang rasa hati. Apakah cinta bisa membuat kita kenyang?” omel pak Narya, yang membuat sang istri mengangguk-angguk.

Indras sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian berwarna gelap. Tak usah bertanya, pak Narya dan istrinya sudah tahu bahwa Indras akan pergi ke rumah duka.

“Indras pergi dulu Pak, Bu,” katanya sambil mencium tangan ayah dan ibunya.

Pak Narya dan istrinya tak ingin mencegah, walau kurang suka melihat perhatian Indras yang sedemikian besar kepada Zein dan keluarganya. Tak apalah, mereka sedang berduka.

***

Zein duduk bersila di atas tikar, di dekat jenazah sang ayah yang belum sempat dimandikan, menunggu kedatangan para petugas dari masjid terdekat.

Sang ibu mendekat dan terisak di dekat sang anak.

“Zein, apa kamu menyalahkan ibu atas meninggalnya ayahmu?”

Zein menatap wajah ibunya yang pucat, dengan mata sembab karena tak berhenti menangis.

“Mengapa Ibu berkata begitu?”

“Dokter melarang aku membawa pulang ayahmu, tapi aku nekat. Akibatnya apa, ayahmu kemudian meninggal,” isaknya.

Zein merangkulnya.

“Ibu tidak usah menyesalinya. Bukankah mati dan hidup itu milik Yang Maha Kuasa? Apapun jalannya, kalau kita harus sembuh, maka sembuhlah. Tapi kalau memang harus mati, ya pastilah akan mati, hanya jalannya yang berbeda.”

“Bapak sudah sakit parah, dokter yang merawat tidak menjanjikan kesembuhan, hanya minta agar dirawat. Itu berarti memang sudah takdirnya bapak harus meninggal. Ibu tidak usah menyesalinya, ini semua bukan salah Ibu.”

Tak henti-hentinya Zein menghibur sang ibu, walau dia sendiripun pastinya juga sedih.

***

Indras datang ketika jenazah almarhum sudah dikafani. Ia mengucapkan ikut berbela sungkawa, lalu menyerahkan sebuah amplop ke tangan bu Iman, tanpa sepengetahuan Zein, karena takut Zein tidak suka.

“Ini kesalahan ibu, Nak,” tangis bu Iman pecah lagi ketika Indras merangkulnya.

“Tidak Bu, ini sudah suratan. Ibu tidak boleh menyesalinya.”

Pak Iman dimakamkan hari itu juga, meninggalkan duka mendalan dihati anak istrinya.

Indras juga langsung pulang setelah jenazah diberangkatkan. Tak banyak yang dibicarakan dengan Zein, karena ia juga sibuk mempersiapkan semuanya.

Toh sesampainya di rumah, sang ayah masih juga menegurnya.

“Mengapa lama sekali?”

“Menunggu jenazah diberangkatkan. Nggak enak kalau pulang lebih dulu.”

“Dia bukan apa-apa kita, sudah datang untuk berbela sungkawa, itu cukup kan? Apalagi kalau kamu sudah memberinya uang duka.”

“Zein teman baik Indras. Sudah semestinya kalau Indras memberi perhatian lebih.”

“Cuci kaki tangan, setelah takziah itu harus dilakukan, jangan dulu masuk ke dalam kamar,” kata sang ibu yang masih menganut kebiasaan orang tua jaman dulu.

“Ya, Bu,” kata Indras yang bergegas ke belakang, sekaligus menghindari omelan sang ayah yang akan semakin panjang.

***

Kejadian itu membuat Zein beberapa hari tidak masuk kuliah, dan Indras merasa kesepian. Ia selalu pulang cepat begitu jam kuliah selesai.

Hari itu sepulang dari kampus ia kaget, karena bukan hari libur, tapi Bagas bertandang ke rumah.

“Bagas, tumben kamu kemari, biasanya menunggu liburan kan?”

“Kebetulan ada tugas,  lalu aku mampir, lama nggak ketemu, aku kangen.”

Indras tersenyum. Sudah sering Bagas mengatakan itu, dan hanya dijawabnya dengan senyuman.

“Orang sibuk, tapi sempat-sempatnya mampir.”

“Kan aku sudah bilang kalau aku kangen?”

“Baiklah, terima kasih atas kangennya.”

“Beberapa hari yang lalu bapak menelpon, mengapa aku lama tidak kemari.”

“Berarti bapak juga kangen sama kamu,” canda Indras.

“Ayuk kita jalan-jalan, aku sudah minta ijin sama bapak lhoh, sebelum kamu datang.”

“Kemana?”

“Jalan aja, cari makanan, atau sekedar melihat-lihat.”

“Sebenarnya aku capek.”

Tapi kemudian Indras berpikir, bahwa sebaiknya Bagas tidak terlalu mengharapkannya karena dia sudah punya seseorang yang dicintainya, dan ia akan berterus terang nanti.

“Jadi nggak mau ya?”

”Mm … mau kok. Ayuk, tungguin sebentar ya, aku ganti pakaian dulu.”

“Itu kan bagus, mengapa harus ganti?”

“Bau kecut, tadi praktikum dan pasti bau obat atau entahlah, pokoknya nggak enak,” kata Indras sambil berdiri.

Bagas tersenyum senang. Akhirnya ia akan bisa jalan berdua bersama Indras. Ia akan berterus terang mengatakannya pada Indras tentang isi hatinya. Harus. Tadi pak Narya juga menyarankan begitu.

“Bagas, kalau kamu memang suka pada Indras, katakan terus terang. Dia tidak akan tahu kalau kamu sungkan mengatakannya,” kata pak Narya waktu itu.

Lalu setelah kebetulan ada tugas di mana Indras tinggal, ia berencana akan melakukannya. Mana dia tahu kalau sebenarnya Indras juga sudah merencanakan sesuatu untuknya.

“Kok belum berangkat juga?” tiba-tiba pak Narya keluar dan menatap Bagas yang duduk sendirian di teras.

“Masih menunggu Indras, katanya mau ganti pakaian.”

“Jangan lupa pesanku,” kata pak Narya setengah berbisik.

Bagas mengangguk sambil tersenyum. Lalu pak Narya kembali masuk ke dalam.

***

Hari itu ada peringatan tujuh hari atas meninggalnya pak Iman. Hanya tetangga dekat yang diminta datang, karena keluarga pak Iman adalah keluarga yang sederhana. Itupun hanya orang-orang dari kalangan masjid yang mengenal pak Iman lebih dekat.

Siang hari itu Zein sudah menggelar tikar.

“Zein, walaupun hanya beberapa orang yang kita undang untuk mengaji dan mendoakan ayah kamu, tapi kita harus mempersiapkan hidangan.”

“Nanti Zein beli saja, ibu tidak usah memasak,” kata Zein yang melihat sang ibu tampak lelah.

“Sebenarnya ada tetangga yang ingin membantu, tapi aku tidak ingin merepotkan. Beli saja beberapa makanan yang sekiranya pantas. Ada yang membantu membuatkan minuman, alhamdulillah.”

“Baiklah, ibu buatkan saja catatannya, makanan apa yang harus Zein beli nanti.”

“Ibu akan membuat catatannya sebentar. Uangnya nanti kamu ambil sendiri. Ada uang dari beberapa penyumbang, belum semuanya ibu buka.”

Bu Iman segera membuat catatan, sementara Zein bersiap pergi belanja.

***

Bagas mengajak Indras jalan-jalan, tapi Indras mengajaknya makan lebih dulu.

“Aku lapar, kita makan dulu ya.”

“Baiklah, aku carikan restoran yang enak,” kata Bagas bersemangat.

“Di warung sederhana saja. Aku tidak suka makan di restoran, seringnya brisik.”

“Di warung?”

“Ya, kamu malu makan di warung, bukan di restoran?”

“Tidak, siapa bilang aku malu? Katakan warung yang mana yang kamu inginkan untuk makan.”

“Agak di depan sana, setelah pertigaan itu, aku sering makan di situ.”

Bagas mengangguk, ia menuju ke arah warung sederhana yang ditunjuk Indras. Indras menginginkan tempat yang sepi, di mana ia bisa leluasa berbicara.

Keluar dari mobil, Bagas segera mengikuti Indras untuk masuk terlebih dulu. Sambil berjalan itu Bagas sudah meronce kata untuk menyatakan cintanya kepada Indras. Ia tidak boleh segan dan harus berani berterus terang, itu saran pak Narya, ayah Indras.

Tapi tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap keduanya dengan wajah muram.

***

Besok lagi ya.